KUPANG, GRANDISMA.COM – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, memberikan perspektif mendalam mengenai filosofi kepemimpinan Lamaholot. Ia menyebut pemimpin dari wilayah ini memiliki tanggung jawab moral sebagai jangkar di tengah arus perubahan zaman.
Dalam sambutannya di acara pelantikan KABELA Kupang, Johni menjelaskan bahwa legitimasi pemimpin Lamaholot tidak hanya datang dari Surat Keputusan (SK), tetapi dari pengakuan dan kepercayaan komunitasnya.
Kepemimpinan yang baik, menurut Johni, adalah kepemimpinan yang mampu mendengar denyut nadi kehidupan masyarakat. Seorang pemimpin harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar memerintah dari balik meja.
”Pemimpin Lamaholot harus mampu menjembatani nilai-nilai leluhur dengan kemajuan. Mereka adalah penjaga gawang agar identitas kita tidak hanyut oleh arus modernisasi yang tidak terkontrol,” ujar Johni.
Ia menekankan lima poin penting: penguatan pemuda, UMKM, festival budaya, kolaborasi jejaring, dan integritas. Kelima hal ini dianggap sebagai pilar utama kepemimpinan KABELA di masa depan.
Integritas menjadi sorotan utama Wagub. Tanpa kejujuran dan rasa tanggung jawab yang besar, segala pencapaian organisasi akan kehilangan makna dan justru dapat merusak tatanan sosial yang sudah terbangun.
Johni juga mengajak para pengurus KABELA untuk mempraktikkan “kepemimpinan yang melayani”. Hal ini berarti mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan kecil di dalam organisasi.
Filosofi kepemimpinan ini diharapkan dapat diterapkan oleh para pemuda Lamaholot yang kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan di Nusa Tenggara Timur maupun di level nasional.
Acara pelantikan ini menjadi momen refleksi bagi warga Lamaholot untuk kembali ke akar jati diri mereka yang mengedepankan gotong royong dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dengan kepemimpinan yang kuat dan berkarakter, KABELA diyakini mampu membawa perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat di Kupang maupun di wilayah asal.
