ROMA, GRANDISMA.COM – Di tengah serangan verbal yang diluncurkan oleh Presiden Donald Trump, Paus Leo menunjukkan ketenangan yang berani.
Pemimpin Gereja Katolik ini menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah mundur dari tugasnya untuk menyuarakan kebenaran Injil, meskipun harus berseberangan dengan penguasa dunia.
Pernyataan ini disampaikan Paus Leo di dalam pesawat kepausan saat ia memulai perjalanan apostolik 10 hari ke empat negara di Afrika, Senin (13/04).
Dalam wawancara dengan Reuters, ia menegaskan bahwa statusnya sebagai pemimpin spiritual menuntutnya untuk tidak menjadi politikus, namun tetap bersuara pada isu kemanusiaan.
Paus Leo menyatakan secara lugas bahwa dirinya tidak memiliki rasa takut terhadap pemerintahan Trump.
Baginya, pesan-pesan perdamaian yang ia bawa adalah kebutuhan mendesak bagi dunia yang saat ini tengah terkoyak oleh peperangan dan ketidakadilan sosial.
”Saya tidak ingin terlibat dalam debat kusir dengannya (Trump),” ujar Paus Leo
Ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang menyalahgunakan pesan suci untuk kepentingan politik tertentu, sembari menegaskan komitmennya untuk menentang peperangan di mana pun.
Isu utama yang menjadi batu sandungan adalah perang di Iran. Paus Leo, yang merupakan putra Chicago, Amerika Serikat, secara vokal mengkritik keterlibatan militer AS dan Israel. Ia menilai bahwa kekerasan hanya akan melahirkan penderitaan bagi warga sipil yang tidak berdosa.
Menurut Paus Leo, dunia membutuhkan dialog multilateral untuk menyelesaikan masalah, bukan melalui ancaman senjata atau isolasi politik.
Hal inilah yang kemudian membuat Donald Trump merasa terancam secara politis dan melabeli Paus sebagai sosok yang salah dalam memahami hukum.
Ketegasan Paus Leo ini didasarkan pada data lapangan di mana jutaan orang menderita akibat konflik senjata.
Sebagai pemimpin bagi umat Katolik dunia, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berdiri dan mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik daripada kekerasan.
Dukungan terhadap Paus Leo mulai mengalir dari berbagai pemimpin agama dunia lainnya.
Mereka melihat keberanian Paus Leo sebagai simbol harapan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan nuklir.
Paus Leo juga menekankan pentingnya memerangi kemiskinan dan ketimpangan, yang menurutnya sering kali menjadi akar dari munculnya radikalisme.
Fokus pada isu sosial ini kontras dengan pendekatan Trump yang lebih mengutamakan kekuatan militer dan pengamanan perbatasan.
Perjalanan ke Afrika ini menjadi bukti nyata bahwa Paus Leo lebih memilih berada di antara orang-orang yang menderita daripada terjebak dalam retorika politik di Washington. Ia berkomitmen untuk terus mempromosikan perdamaian dunia di sisa masa jabatannya.






