NEWYORK, GRANDISMA.COM- Gelombang protes pecah di depan Katedral St. Patrick, Manhattan, menyusul pernyataan kontroversial Presiden Donald Trump yang menyerang Paus Leo.
Ratusan warga berkumpul untuk menyatakan solidaritas mereka kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut, Selasa (14/04).
Aksi massa ini bermula segera setelah kutipan wawancara Trump yang menyebut Paus Leo “sangat liberal” dan “salah dalam hukum” tersebar luas.
Warga yang terdiri dari berbagai latar belakang keyakinan merasa bahwa serangan tersebut tidak pantas diarahkan kepada sosok yang dianggap sebagai simbol moral dunia.
Di luar katedral yang ikonik tersebut, poster-poster bernada kecaman terhadap Trump terlihat bertebaran.
Para demonstran menuntut agar Presiden Amerika Serikat itu menunjukkan rasa hormat terhadap institusi kepausan dan berhenti menggunakan retorika yang memicu kebencian.
”Ini bukan soal politik, ini soal martabat. Menyerang Paus hanya karena ia menginginkan perdamaian adalah tindakan yang memalukan,” ujar salah satu warga yang ikut dalam aksi tersebut.
Kemarahan publik dipicu oleh anggapan bahwa Trump mencoba mencampuri ranah otoritas spiritual.
Polisi New York dikerahkan untuk menjaga ketat area sekitar katedral guna mencegah kericuhan.
Meskipun suasana sempat memanas, aksi tetap berlangsung tertib dengan doa bersama yang dilakukan di depan gerbang gereja sebagai bentuk dukungan bagi Paus Leo.
Para tokoh masyarakat di New York juga turut menyayangkan sikap Trump. Mereka menilai bahwa sebagai presiden dari negara dengan populasi Katolik yang besar, Trump seharusnya membangun jembatan dialog, bukan justru meruntuhkannya demi popularitas politik sesaat.
Sentimen negatif terhadap Trump di New York terus meningkat, mengingat Paus Leo sendiri merupakan tokoh asal Amerika Serikat yang sangat dihormati.
Publik merasa bangga memiliki Paus asal AS pertama, namun merasa terhina oleh ucapan presiden mereka sendiri.
Ketegangan di depan St. Patrick ini menjadi cerminan dari polarisasi yang lebih dalam di masyarakat Amerika Serikat.
Di satu sisi terdapat pendukung garis keras Trump, dan di sisi lain terdapat kelompok yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal yang dibawa Paus.
Pihak keamanan katedral menyatakan bahwa mereka tetap menjalankan pelayanan seperti biasa, namun pengamanan internal ditingkatkan untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut.
Mereka berharap agar konflik antara kedua tokoh besar ini tidak berdampak buruk pada keamanan komunitas lokal.
