Potensi Pertanian Dualasi Raiulun: Dari Panen Wortel hingga Rencana Tanam Kopi Arabika

BERITA2 Dilihat

ATAMBUA, GRANDISMA.COM – Desa Dualasi Raiulun di Kecamatan Lasiolat kini diproyeksikan menjadi wilayah agribisnis unggulan di Kabupaten Belu.

Selain sukses dengan komoditas wortel, wilayah yang berada di ketinggian 800 Meter di Atas Permukaan Laut (Mdpl) ini dinilai sangat ideal untuk pengembangan kopi jenis Arabika.

​Bupati Belu, Willybrodus Lay, dalam kunjungan kerjanya pada Selasa (14/4), menginstruksikan Dinas Pertanian dan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk segera melakukan transfer ilmu kepada petani setempat. Fokusnya adalah teknik budidaya kopi yang berorientasi ekspor.

​Kondisi geografis Lasiolat yang sejuk dan memiliki vegetasi pelindung alami menjadi modal utama.

Menurut analisis ahli pertanian setempat, karakteristik tanah di Dualasi Raiulun mampu menghasilkan cita rasa kopi Arabika yang khas dan kompetitif di pasar internasional.

​”Lahan ini sangat cocok ditanami kopi Arabika. Tanaman pendukung atau pelindungnya sudah tersedia secara alami. Saya tegaskan kepada PPL agar segera mendampingi petani kita supaya mereka punya komoditas jangka panjang selain sayuran,” kata Bupati Willy.

​Diversifikasi komoditas ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekonomi petani. Dengan memiliki tanaman musiman seperti wortel dan tanaman perkebunan tahunan seperti kopi, pendapatan masyarakat diharapkan tidak akan terputus sepanjang musim.

​Bupati juga menyoroti pentingnya modernisasi alat pertanian bagi para petani milenial yang tergabung dalam Poktan Semangat Milenial.

Penggunaan teknologi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi di lahan seluas 2,75 hektar yang saat ini tengah diolah secara intensif.

​Di sisi lain, anggota DPRD Belu, Ignatius Ati Koli, menekankan pentingnya perlindungan hak atas tanah bagi para petani.

Ia berharap pengembangan agribisnis ini tetap mengedepankan kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan hidup di wilayah perbukitan Lasiolat.

​Oscar Bau selaku Ketua BUMDes menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi bibit kopi unggul.

Pihaknya berencana berkolaborasi dengan eksportir kopi untuk memastikan standar pascapanen yang dilakukan petani sesuai dengan permintaan pasar global.

​Program ini juga dipandang sebagai solusi untuk menekan angka migrasi tenaga kerja ke luar negeri.

Dengan potensi pendapatan yang menjanjikan dari sektor kopi dan hortikultura, generasi muda diharapkan tetap bertahan dan membangun desa mereka sendiri.

​Transformasi Dualasi Raiulun menjadi zona ekonomi khusus pertanian ini akan terus dipantau perkembangannya.

Pemerintah optimistis, dalam tiga hingga lima tahun ke depan, Lasiolat akan dikenal sebagai produsen kopi Arabika terbaik dari wilayah Timor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *