Ini Alasan Kunci PON 2028 Diselenggarakan di NTT-NTB, Menurut Wagub NTT

BERITA, DAERAH, OLAHRAGA231 Dilihat

Kupang, Grandisma.com – Tak hanya bergantung pada kemampuan sendiri, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) menyajikan skema kolaborasi sebagai kunci utama agar dapat menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

Ungkapan ini keluar dari mulut Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, ketika menanggapi berita tentang kesediaan DKI Jakarta yang juga siap menjadi calon tuan rumah ajang olahraga nasional terbesar di Indonesia.

Pengakuan tentang peran penting kolaborasi ini disampaikan Johni pada Minggu (21/12) di VIP Bandara El Tari, Kupang.

Ia menyatakan bahwa NTT-NTB sudah siap menjadi tuan rumah, namun menyadari bahwa tantangan fasilitas dan biaya perlu diatasi dengan cara yang cerdas.

“PON NTT-NTB tahun 2028 dapat dilaksanakan dengan prinsip kolaborasi bersama Provinsi DKI Jakarta, atau dengan Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur,” jelas mantan Kapolda NTT tersebut.

Skema ini diharapkan menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak.

Menurut Johni, kolaborasi menjadi kunci karena ada venue-venue olahraga yang pembangunannya membutuhkan biaya yang sangat besar.

Dengan bekerja sama, pelaksanaan cabang olahraga tersebut bisa dipindahkan ke daerah yang sudah memiliki fasilitas lengkap seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, atau Jawa Timur.

“Jadi venue-venue yang pembangunannya membutuhkan biaya yang sangat besar, pelaksanaanya bisa di DKI Jakarta atau Jawa Barat dan Jawa Timur, sehingga ada kolaborasi, penghematan biaya dan juga terpenuhinya pemerataan dan keadilan,” tambahnya.

Dua manfaat utama yang diharapkan adalah efisiensi anggaran dan kesetaraan dalam pembangunan olahraga.

Selain itu, Johni juga menyampaikan bahwa NTT-NTB sudah mengikuti berbagai mekanisme dan prosedur formal untuk ditetapkan sebagai tuan rumah PON. Saat ini, kedua provinsi hanya menunggu Surat Keputusan (SK) dari Menteri Pemuda dan Olahraga RI.

“Penentuan tuan rumah PON dilaksanakan dengan berbagai mekanismenya, dan sejauh ini Provinsi NTT-NTB sudah melalui berbagai mekanisme secara formal dan tinggal menunggu SK Menpora RI,” ungkapnya dengan keyakinan.

Beliau juga secara jujur mengakui bahwa fasilitas olahraga di NTT dan NTB belum sepenuhnya lengkap. Namun, hal ini tidak dianggap sebagai hambatan mutlak karena kolaborasi bisa mengisi kekurangan tersebut.

“Memang kita akui fasilitas-fasilitas kita di Provinsi NTT belum lengkap, begitu juga Provinsi NTB. Tapi satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah pemerataan pembangunan khususnya bidang olahraga di Indonesia,” jelas Johni.

Pemerataan menjadi alasan dasar mengapa NTT-NTB berusaha mendapatkan kesempatan ini.

Johni tidak menolak bahwa kesediaan DKI Jakarta menjadi tuan rumah PON 2028 adalah hal yang wajar. Ia mengakui bahwa ibukota negara memang memiliki fasilitas, sarana, dan prasarana yang lengkap.

“Ada pemberitaan kalau Gubernur DKI Jakarta sampaikan siap menjadi tuan rumah PON 2028, hal itu menurut saya wajar-wajar saja apalagi DKI Jakarta yang memang memiliki fasilitas yang lengkap,” ucapnya dengan nada terbuka.

Untuk memperkuat argumennya, Johni menyoroti riwayat pelaksanaan PON sebelumnya. Menurutnya, bagian utara sudah di Sulawesi Selatan, bagian barat di Aceh-Sumatera Utara, dan bagian timur di Papua. Hanya bagian selatan yang belum pernah menjadi tuan rumah.

“Tentu masyarakat bagian selatan yaitu NTT-NTB sangat mengharapkan dapat menjadi tuan rumah sesuai dengan penunjukan awal, mekanisme dan prosedur yang telah dilalui,” tambahnya. Harapan ini menjadi semangat bagi kedua provinsi.

Johni berharap Pemerintah Pusat segera memberikan kejelasan tentang status tuan rumah PON 2028.

Hal ini penting agar NTT-NTB dapat bekerja fokus menyiapkan sumber daya manusia dan pembiayaan, serta membutuhkan dukungan pusat untuk pembangunan fasilitas yang masih kurang.

“Kami sudah melakukan kunjungan untuk berkoordinasi dengan KONI Pusat, serta telah melaksanakan study tiru ke Provinsi Jawa Barat tahun 2016.

Study tiru tersebut mencakup pelaksanaan, organisasi, dan pemberdayaan ekonomi, dengan harapan PON nantinya memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tutup mantan atlet tinju asal NTT tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *