ATAMBUA, GRANDISMA.COM – BPJS Ketenagakerjaan mencatatkan realisasi pembayaran klaim yang signifikan di Kabupaten Belu dengan total mencapai Rp 57,35 miliar sepanjang tahun 2025.
Angka fantastis ini diungkapkan dalam rapat evaluasi di Gedung Wanita Betelalenok, Kamis (7/5), sebagai bukti nyata manfaat program bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan, Muhammad Midhad Farosi, merinci bahwa total klaim tersebut mencakup berbagai program, mulai dari Jaminan Kecelakaan Kerja hingga Jaminan Hari Tua.
Hingga kuartal pertama 2026, pembayaran klaim bahkan telah menyentuh angka Rp 15,66 miliar.
Tingginya angka klaim ini mencerminkan tingginya tingkat kesadaran dan pemanfaatan hak oleh peserta di Kabupaten Belu.
Pemerintah daerah melihat data ini sebagai indikator keberhasilan program dalam memitigasi dampak ekonomi akibat risiko kerja yang menimpa para kepala keluarga.
Kini, fokus perluasan kepesertaan dialihkan secara masif ke sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Sektor-sektor ini dinilai memiliki risiko kerja yang tinggi namun seringkali luput dari skema jaminan sosial konvensional karena sifat pekerjaannya yang mandiri.
Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, dalam arahannya meminta agar sosialisasi lebih dipertajam bagi para petani dan nelayan.
Ia menegaskan bahwa sektor agraris adalah tulang punggung ekonomi Belu yang harus diproteksi agar keberlangsungan pangan tetap terjaga tanpa membebani ekonomi keluarga saat terjadi musibah.
Pihak BPJS Ketenagakerjaan menyatakan akan memperkuat edukasi mengenai skema iuran mandiri yang terjangkau bagi para pelaku UMKM dan petani.
Dengan premi yang sangat kompetitif, para pekerja informal diharapkan bisa mendapatkan perlindungan maksimal yang setara dengan pekerja kantoran.
Dalam agenda evaluasi tersebut, BPJS juga memaparkan keberhasilan perlindungan ribuan pekerja rentan melalui APBD dan APBDES.
Integrasi anggaran ini menjadi kunci utama mengapa angka klaim dan cakupan perlindungan di Belu terus menunjukkan tren positif setiap tahunnya.
Penyaluran klaim ini juga disertai dengan pemberian beasiswa bagi anak-anak ahli waris peserta yang meninggal dunia.
Langkah ini diambil guna memastikan generasi penerus di Kabupaten Belu tetap dapat mengenyam pendidikan tinggi meskipun tulang punggung keluarga telah tiada.
