KUPANG, GRANDISMA.COM – Masalah kesejahteraan guru dan fasilitas pendidikan yang timpang menjadi sorotan utama dalam pertemuan antara Frans Lumentut dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Temuan ini didapatkan Frans setelah berjalan kaki sejauh 945 kilometer menyisir enam pulau selama hampir tujuh pekan.
Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Gubernur NTT pada Kamis (16/4) tersebut menelanjangi kondisi riil pendidikan di daerah kepulauan.
Frans mengungkapkan, guru-guru di pelosok NTT seringkali bekerja dengan fasilitas minimalis dan honor yang jauh dari kata layak.
“Kesejahteraan guru adalah kunci kualitas pendidikan. Jika guru sulit mencapai sekolah karena jalan rusak dan honornya kecil, bagaimana mereka bisa mengajar dengan tenang?” ujar Frans
Frans menceritakan pengalamannya menginap di rumah-rumah warga dan pemuka agama di sepanjang rute perjalanannya.
Dari situ, ia melihat langsung bagaimana guru-guru honorer berjuang tetap mengajar meski harus menempuh medan yang berat setiap hari tanpa tunjangan yang memadai.
Gubernur Melki mengakui bahwa data lapangan yang disampaikan Frans merupakan teguran keras bagi jajaran birokrasi.
Ia menilai persoalan ini membutuhkan solusi lintas sektor, mulai dari perbaikan akses jalan oleh Dinas PUPR hingga pengelolaan tenaga pendidik oleh Dinas Pendidikan.
Selain masalah guru, Frans juga menyoroti ketersediaan sarana belajar. Di beberapa wilayah di Pulau Pantar dan Alor, sekolah-sekolah kekurangan buku bacaan dan alat peraga edukatif yang memadai, yang membuat proses belajar-mengajar menjadi sangat terbatas.
Misi sosial ini tidak hanya sekadar berjalan kaki, namun juga melakukan pendataan terhadap anak-anak yang terancam putus sekolah.
Melalui Yayasan Nyata Foundation, Frans berupaya menyalurkan bantuan agar bantuan biaya pendidikan bisa sampai ke tangan yang paling membutuhkan.
Gubernur Melki menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti temuan tersebut dengan menginstruksikan tim teknis untuk memetakan kembali sekolah-sekolah yang memerlukan bantuan mendesak.
Ia ingin memastikan bahwa intervensi pemerintah dilakukan berdasarkan data riil, bukan sekadar perkiraan.
Di sisi lain, Frans juga menyisipkan pesan tentang isu lingkungan. Selama di perjalanan, ia mengamati minimnya sistem pengelolaan sampah plastik di wilayah pesisir dan lereng bukit, yang jika dibiarkan akan merusak ekosistem dan kesehatan masyarakat di sekitar sekolah.
Isu lingkungan ini dianggap Frans berkaitan erat dengan pendidikan karakter anak-anak di NTT.
Tanpa pengelolaan sampah yang baik dan edukasi lingkungan, masa depan generasi muda di pulau-pulau tersebut akan terancam oleh pencemaran alam yang masif.
Gubernur Melki menyambut baik masukan tambahan mengenai lingkungan tersebut. Ia berencana mendorong program sekolah hijau di NTT sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal untuk membangun kesadaran ekologis sejak dini bagi siswa di pedalaman.
Frans Lumentut mengakhiri laporannya dengan harapan bahwa pertemuannya dengan Gubernur akan membuahkan hasil nyata dalam waktu dekat.
Ia menekankan bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan yang masih membelenggu sebagian besar masyarakat NTT.





