KUPANG, GRANDISMA.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat lompatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan sejak diluncurkannya program NTT Mart.
Angka pertumbuhan ekonomi daerah yang sebelumnya tertahan di level 3,73 persen, kini berhasil meroket hingga menyentuh angka 5,14 persen.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkapkan bahwa pencapaian positif ini berbanding lurus dengan upaya daerah menekan angka defisit perdagangan yang selama ini menjadi pekerjaan rumah terbesar.
Melki menyebut, sebelum adanya NTT Mart, defisit perdagangan di wilayahnya menyentuh angka fantastis, yakni Rp51 triliun.
”NTT Mart ini lahir dari kami melihat bahwa defisit perdagangan di Nusa Tenggara Timur ini besar sekali, Rp51 triliun,” ungkap Gubernur Melki saat melakukan siaran langsung dari Gerai NTT Mart di Kota Kupang, Jumat (27/3).
Penyumbang defisit terbesar, menurut Melki, berasal dari sektor kuliner dan berbagai produk kebutuhan sehari-hari.
Ironisnya, banyak dari produk yang dibeli dari luar daerah tersebut sebenarnya sangat mampu diproduksi sendiri oleh masyarakat di NTT.
Guna menghentikan aliran dana keluar yang merugikan daerah, Pemerintah Provinsi NTT menginisiasi lahirnya NTT Mart sejak 12 Agustus 2025.
Program ini terbukti menjadi instrumen ampuh untuk menyerap produk lokal dan menekan ketergantungan masyarakat pada pasokan barang dari luar provinsi.
Dampak ekonomi dari program ini langsung terasa pada sektor industri pengolahan.
Data terbaru menunjukkan, sektor industri pengolahan di NTT mengalami peningkatan yang sangat impresif, yakni berada di atas 20 persen.
Pertumbuhan industri pengolahan ini secara otomatis berdampak pada pembukaan lapangan kerja baru di tingkat akar rumput.
Masyarakat yang sebelumnya hanya menjadi konsumen, kini mulai beralih menjadi produsen aktif karena kepastian pasar yang ditawarkan oleh NTT Mart.
Secara finansial, gerai percontohan NTT Mart di Kota Kupang juga membuktikan profitabilitas yang menjanjikan.
Dengan modal awal yang hanya sebesar Rp160 juta, perputaran uang di gerai tersebut kini sudah melonjak hampir dua kali lipat.
Lebih dari sekadar memutar roda ekonomi kerakyatan, gerai ini bahkan telah mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Provinsi NTT.
Hal ini membuktikan bahwa intervensi pemerintah dalam menciptakan ekosistem pasar yang sehat dapat memberikan timbal balik yang positif bagi kas daerah.
Tren positif ini turut dibarengi dengan menurunnya angka kemiskinan di Nusa Tenggara Timur.
Melalui kepastian pasar yang diberikan NTT Mart, para pelaku UMKM dan IKM kini memiliki jaminan penghasilan rutin yang pada akhirnya mengangkat taraf hidup mereka secara keseluruhan.
