Rocky Gerung Ungkap Alasan Masuk Istana: Saya Bukan Pendaki Kekuasaan

BERITA, POLITIK27 Dilihat

Rocky Gerung Ungkap Alasan Masuk Istana: Saya Bukan Pendaki Kekuasaan JAKARTA, GRANDISMA.COM – Pengamat politik Rocky Gerung mengungkapkan alasan dirinya bersedia bergabung dengan lingkungan kekuasaan setelah selama bertahun-tahun dikenal vokal mengkritik pemerintah dari luar.

Ia menegaskan, keputusannya menerima penunjukan Presiden Prabowo Subianto bukan untuk mengejar jabatan atau kemewahan, melainkan untuk mendorong pemberantasan korupsi dari dalam pemerintahan.

Pernyataan tersebut disampaikan Rocky saat menjawab pertanyaan mahasiswa dalam program spesial Jejak Perubahan: Indonesia Menuju Kemandirian yang diunggah melalui kanal YouTube TvOne, Selasa, 20 Oktober 2026.

Program itu menghadirkan sejumlah narasumber untuk membahas arah kebijakan dan perjalanan pemerintahan Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming Raka.

Dalam diskusi tersebut, seorang mahasiswa mempertanyakan keputusan Rocky bergabung dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Mahasiswa itu mengingatkan bahwa Rocky sebelumnya dikenal konsisten menyuarakan kritik terhadap kekuasaan dan menekankan pentingnya menjaga posisi independen di luar pemerintahan.

Menanggapi pertanyaan itu, Rocky menegaskan bahwa dirinya tidak meninggalkan gagasan kritis yang selama ini menjadi ciri pemikirannya.

Ia justru mengaku ingin membawa perspektif dari luar kekuasaan ke dalam lingkungan pemerintahan agar dapat mendorong perubahan secara langsung.

“Kenapa saya masuk? Buat ngejar sesuatu yang seharusnya sudah punah, yaitu koruptor,” ujar Rocky.

Rocky menggunakan analogi sel dalam tubuh manusia untuk menjelaskan pandangannya tentang korupsi.

Ia menggambarkan koruptor sebagai sel yang merusak jaringan sehat dan menilai praktik korupsi harus dihentikan agar tidak menyebar dalam sistem pemerintahan.

Menurut Rocky, persoalan korupsi tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dengan struktur birokrasi dan regulasi yang berpotensi menjadi tempat berlindung bagi pelaku.

Karena itu, ia menilai upaya pemberantasan korupsi perlu menyentuh sistem yang memungkinkan praktik tersebut terus berlangsung.

Ia juga menolak anggapan bahwa bergabung dengan lingkungan kekuasaan otomatis berarti meninggalkan sikap kritis.

Rocky menyebut gagasan yang dibawanya tetap bertumpu pada filsafat, etika, dan ilmu pengetahuan. Baginya, perubahan posisi tidak harus berarti perubahan prinsip.

“Saya pendaki gunung, bukan pendaki kekuasaan,” kata Rocky.

Dalam diskusi itu, Rocky turut mengkritik dominasi oligarki dan kapitalisme yang menurut pandangannya dapat menghambat kemandirian masyarakat.

Ia mengaitkan agenda perubahan dengan penguatan koperasi dan pemberdayaan ekonomi rakyat agar masyarakat tidak sekadar menjadi penonton dalam pembangunan.

Pernyataan Rocky tersebut menjadi bagian dari perdebatan mengenai efektivitas kritik dari luar pemerintahan dibandingkan upaya mendorong perubahan dari dalam institusi negara.

Namun, komitmen pemberantasan korupsi yang disampaikannya tetap perlu dinilai melalui langkah konkret, konsistensi sikap, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *