Anatomi Psiko-Sosial-Politik Kontemporer: Membedah Dialektika Epistemologis dan Sosiologis Ragam Makna Hoaks Antara Rhenald Kasali dan Rocky Gerung

Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S.Fil

OPINI59 Dilihat
Anatomi Psiko-Sosial-Politik Kontemporer: Membedah Dialektika Epistemologis dan Sosiologis Ragam Makna Hoaks Antara Rhenald Kasali dan Rocky GerungPanggung diskursus publik Indonesia pernah menyaksikan sebuah benturan metodologis yang sangat fundamental ketika dua intelektual terkemuka, Prof. Rhenald Kasali dan Rocky Gerung, terlibat dalam konfrontasi verbal yang sangat tajam.
Perdebatan akademik berskala nasional ini disiarkan secara langsung dalam forum interaktif pada Selasa malam, tanggal 26 Maret pada tahun 2019 silam.
Di tengah eskalasi kontestasi politik yang kian memanas kala itu, ruang publik disuguhi sebuah refleksi kritis melalui tema yang sangat sensitif, yaitu “Tepatkah Hoax Dibasmi UU Antiterorisme“.
Diskusi yang awalnya diproyeksikan untuk menguliti kepastian hukum formal ini justru meluas secara radikal menjadi sebuah medan laga kefilsafatan yang membongkar hakikat terdalam dari istilah hoaks.

Ketegangan konseptual yang mengemuka sepanjang acara tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah istilah kebahasaan tidak pernah hadir dalam ruang hampa yang netral.

Persilangan argumen ini menjadi sedemikian sengit karena kedua belah pihak bersikeras mengoperasikan dua pisau analisis yang berbeda demi menguliti satu fenomena sosial yang sama.

Rhenald Kasali meletakkan jangkar pemikirannya pada sosiologi komunikasi massa yang memprioritaskan kalkulasi dampak empiris serta stabilitas tatanan sosial masyarakat di akar rumput.

Sebaliknya, Rocky Gerung memilih berdiri di atas soko guru epistemologi serta sejarah pemikiran barat guna menggugat klaim-klaim kebenaran sepihak yang sering kali diproduksi oleh otoritas kekuasaan.

Sebagai arsitek awal bangunan argumen di podium, Rhenald Kasali yang merupakan Guru Besar Universitas Indonesia memilih menelusuri genealogi istilah tersebut melalui pendekatan etimologi linguistik.

Ia menguraikan sebuah fakta historis bahwa kata hoaks berakar dari potong kalimat teks mantra panggung hiburan pesulap Inggris pada abad ke-17.

Kata dasar yang dimaksud bersumber dari frasa “hocus pocus” yang dalam perkembangan sejarah kebahasaan barat kemudian mengalami reduksi morfologis menjadi kata “hocus” semata.

Berdasarkan trajektori sejarah bahasa ini, Rhenald menarik kesimpulan teoritis bahwa tindakan memproduksi hoaks sejak awal mula kemunculannya memang bertujuan sebagai sebuah trik tipuan untuk mengecoh audiens.

Melalui fondasi sejarah kebahasaan yang kokoh tersebut, Rhenald Kasali mengonstruksikan argumennya mengenai ancaman fatal kebohongan terstruktur terhadap eksistensi peradaban modern.

Ia mempertegas posisi konseptualnya di hadapan khalayak pemirsa televisi dengan menyatakan, “Hoax itu berasal dari kata ‘hocus’, dipotong dari kata ‘hocus pocus’. Itu artinya trik sulap untuk mengelabui mata penonton.”

Bagi Rhenald, penyebaran disinformasi yang disengaja bukan sekadar masalah pelanggaran moralitas individual, melainkan sebuah bentuk kejahatan komunikasi yang mencederai nalar publik.

Pandangan ini sekaligus menjadi legitimasi ilmiah bagi tesisnya bahwa instrumen hukum positif negara yang represif sangat dibutuhkan untuk meredam kekacauan arus data.

Lebih jauh lagi, Rhenald Kasali mengekspos bagaimana evolusi teknologi digital telah merevolusi kecepatan serta daya hancur dari narasi palsu terhadap psikologi massa.

Ia melengkapi argumentasi sosiologisnya dalam forum itu dengan sebuah penekanan verbal yang lugas, “Dalam perkembangannya, hoaks dipakai untuk menipu publik dan memicu kepanikan.”

Konteks hiperrealitas di era kontemporer memperlihatkan bahwa luapan kabar bohong tidak lagi berfungsi sebagai lelucon panggung hiburan, melainkan instrumen pemecah belah kohesi sosial.

Dampak destruktif ini dinilai mampu meruntuhkan sendi-sendi kepercayaan antarwarga negara serta menciptakan anarki informasi yang mengancam stabilitas nasional secara instan.

Melihat realitas sosial yang kian rentan terhadap ancaman disinformasi, pakar manajemen terkemuka ini mendesak intervensi negara secara konkret demi menegakkan ketertiban umum.

Ia mengakhiri sesi pemaparan awalnya pada malam maret itu dengan sebuah peringatan keras yang berorientasi pada perlindungan masyarakat hukum.

Rhenald berujar dengan intonasi penuh penekanan, “Kita tidak bisa membiarkan kebohongan ini merusak tatanan sosial masyarakat kita dengan dalih kebebasan berpikir.”

Konstruksi berpikir ini mencerminkan watak sosiologis-pragmatis yang menempatkan keselamatan kolektif di atas kebebasan berekspresi individu yang kebablasan dan tidak bertanggung jawab di jagat maya.

Interupsi tajam yang dilayangkan oleh Rocky Gerung setelah mendengar paparan tersebut segera mendepak arah perdebatan keluar dari sekat-sekat analisis hukum formal.

Sang pakar filsafat mengkritik metodologi berpikir Rhenald yang dinilainya terlalu naif karena mengurung makna kata yang dinamis ke dalam definisi kamus yang kaku.

Melalui retorika satire yang menjadi ciri khas intelektualnya, Rocky langsung menyerang basis data sang guru besar dengan sebuah kalimat pembuka yang provokatif.

Rocky menegaskan posisinya di mimbar perdebatan dengan berkata, “Prof. Rhenald membaca kamus, saya membaca sejarah ilmu pengetahuan.

Pernyataan menohok ini sengaja dilontarkan untuk membedakan antara pemahaman kebahasaan permukaan dengan pemahaman kritis mengenai dinamika pemikiran sains.

Guna meruntuhkan konstruksi pemikiran sosiologis yang diajukan oleh Rhenald Kasali, Rocky Gerung menyodorkan sebuah anomali sejarah modern yang sangat dihormati dalam dunia akademik internasional.

Ia mengajak para pemirsa kembali ke akhir abad kedua puluh dengan menonjolkan sebuah peristiwa revolusioner dalam tradisi ilmiah barat.

Dalam upayanya menggeser titik awal perdebatan, Rocky meluncurkan sebuah premis historis baru dengan berujar, “Istilah hoaks dalam tradisi akademik modern dipopulerkan oleh Alan Sokal tahun 1996.”

Kehadiran nama Alan Sokal secara strategis diposisikan sebagai antitesis radikal yang menggantikan narasi mantra sulap kuno abad ketujuh belas bentukan Rhenald.

Fokus pemaparan Rocky kemudian bergeser pada pembongkaran kronologis peristiwa besar yang dikenal di dunia intelektual barat sebagai Sokal Affair di New York University Social Text.

Ia menceritakan keberhasilan tulisan sains palsu ciptaan Sokal yang mampu mengelabui sistem penelaahan pakar pada sebuah lembaga penerbitan ilmiah prestisius.

Di hadapan publik penonton, Rocky menguliti motif sesungguhnya di balik aksi penipuan intelektual yang menggemparkan jagat akademik global tersebut.

Dalam rekaman argumennya, Rocky memaparkan fakta krusial tersebut dengan menjelaskan, “Dia membuat hoaks ilmiah untuk mengelabui dewan redaksi jurnal yang sok tahu.

Melalui konklusi dari eksperimen sosial Alan Sokal tersebut, Rocky Gerung merumuskan kembali definisi fungsional hoaks dari sudut pandang epistemologi filsafat ilmu.

Ia secara berani menjungkirbalikkan konotasi negatif istilah ini menjadi sebuah instrumen penguji yang sah di dalam dunia pemikiran.

Rocky mengunci logika argumennya malam itu dengan sebuah kesimpulan filosofis yang berbunyi, “Jadi, hoaks itu adalah formula yang dipakai oleh orang cerdas untuk menguji kejujuran berpikir, untuk mengelabui kedunguan.”

Bagi Rocky, hoaks ilmiah merupakan bentuk perlawanan intelektual yang bertujuan menelanjangi kepalsuan metodologis serta kesombongan epistemis dari sebuah otoritas elitis.

Saling serang gagasan ini seketika memicu polarisasi di ruang sidang ILC karena Rhenald Kasali nolak keras generalisasi kasus yang diajukan lawannya.

Rhenald menilai pola pikir Rocky mengandung kelemahan logika yang fatal akibat terjebak pada bias rujukan tunggal yang dipaksakan secara serampangan.

Ia memperingatkan forum bahwa mereduksi fenomena ancaman disinformasi publik berdasarkan satu kasus spesifik di dunia akademik Amerika Serikat adalah kekeliruan besar.

Rhenald mendesak Rocky untuk melihat realitas empiris di mana jutaan hoaks politik dan kesehatan harian telah nyata-nyata memakan korban jiwa dan merusak psikologi bangsa.

Menanggapi tuduhan mengenai keterbatasan basis referensinya, Rocky Gerung justru membalikkan kritik tersebut dengan benteng argumentasi filsafat yang lebih defensif.

Ia berargumen bahwa untuk menangkap esensi dari sebuah fenomena kebudayaan yang kompleks memang dituntut fokus mendalam pada peristiwa kunci yang bersifat transformatif.

Menurut Rocky, ketidakmampuan Rhenald menangkap nilai kritik di balik skandal Sokal mengindikasikan ketumpulan dalam melihat hoaks sebagai alat kontrol sosial dari masyarakat terhadap penguasa.

Rocky memandang resistensi Rhenald sebagai bentuk ketakutan kaum akademisi birokratis menara gading yang enggan menghadapi gugatan berpikir kritis dari publik sipil.

Jika dibedah menggunakan kacamata logika formal, perdebatan pada tanggal 26 Maret 2019 ini mengalami jalan buntu akibat gejala kesesatan ekuivokasi (equivocation fallacy).

Kedua pemikir terkemuka ini pada hakikatnya tidak sedang menegasi argumen satu sama lain, melainkan membicarakan dua subjek hukum yang berbeda makna.

Rhenald mengarahkan analisisnya pada fenomena patologi sosial kontemporer berupa manipulasi data digital yang diproduksi secara massal untuk kepentingan politik elektoral atau kapital.

Sementara itu, Rocky menempatkan diskursus pada level filsafat tinggi di mana hoaks bekerja sebagai satire cerdas untuk menguji integritas berpikir kaum intelektual.

Menelaah draf argumen yang disodorkan Rhenald Kasali, publik disuguhkan pada karakter pemikiran mazhab hukum pragmatis yang berorientasi pada kepastian hasil akhir (outcome-oriented).

Sebagai seorang ilmuwan manajemen, fokus utamanya adalah bagaimana instrumen kebijakan negara dapat secepatnya memulihkan ketertiban dari kekacauan ekosistem digital.

Bagi Rhenald, ketika sebuah narasi bohong telah melahirkan kecemasan publik yang masif di sektor ekonomi atau keamanan, segala bentuk motif intelektual di belakangnya menjadi gugur.

Otoritas negara wajib hadir secara represif menggunakan undang-undang untuk memproteksi masyarakat dari distorsi kebenaran yang diproduksi mesin disinformasi.

Sebaliknya, anatomi berpikir Rocky Gerung berakar kuat pada tradisi skeptisisme radikal yang menolak kepatuhan buta terhadap setiap narasi yang diproduksi oleh kekuasaan.

Ia mengkhawatirkan jika instrumen hukum antiterorisme yang represif diaplikasikan secara longgar, undang-undang tersebut akan bertransformasi menjadi alat pemukul suara kritis.

Bagi Rocky, ketiadaan batasan definisi hoaks yang jernih di tangan aparat penegak hukum berpotensi besar mengkriminalisasi setiap oposisi pemikiran warga negara.

Penguasa yang tidak memiliki kedalaman logika akan cenderung melabeli setiap kritik yang merongrong posisinya sebagai sebuah hoaks atau teror informasi.

Konfrontasi pemikiran yang epik ini pada akhirnya memberikan pengaruh yang sangat masif terhadap pergeseran peta literasi digital masyarakat Indonesia pasca-2019.

Penonton televisi yang mulanya hanya terbiasa dengan retorika politik dangkal dipaksa berkenalan dengan kosakata konseptual seperti etimologi, epistemologi, hingga sosiologi hukum.

Diskusi interaktif ini berhasil mendongkrak derajat debat publik nasional dari sekadar perang tagar antar-simpatisan menjadi sebuah adu metodologi pemikiran yang bergengsi.

Publik disadarkan secara kolektif bahwa pemaknaan atas sebuah realitas sosial memerlukan pembedahan berlapis yang melampaui teks-teks hukum formal belaka.

Jika ditarik ke dalam lanskap sosial hari ini, pertarungan argumen tersebut sejatinya memotret potret riil situasi psiko-sosial-politik masyarakat kita dalam merespons kebijakan negara.

Kita menyaksikan representasi kelompok masyarakat yang berpikir layaknya Rhenald Kasali, yaitu mereka yang sangat mendambakan kepastian regulasi demi ketertiban sosial.

Kelompok ini secara psikologis cenderung merasa cemas terhadap kebebasan berpendapat yang tidak terkendali karena berpotensi melahirkan anarki di ruang publik.

Bagi kelompok ini, intervensi dan kehadiran negara secara tegas adalah sebuah keharusan mutlak untuk menjaga kedamaian hidup bersama.

Sebaliknya, ada pula spektrum masyarakat yang mengadopsi cara pandang kritis dan skeptis yang diwakili oleh figur Rocky Gerung dalam melihat kekuasaan.

Kelompok masyarakat ini secara psiko-politik selalu menaruh kecurigaan yang sehat terhadap setiap regulasi dan kebijakan yang diproduksi oleh aparatur negara.

Mereka memandang bahwa kepatuhan total tanpa kritik adalah jalan pintas menuju otoritarianisme yang mematikan hak-hak sipil serta kebebasan berekspresi.

Bagi kelompok skeptis ini, menguji validitas argumentasi pemerintah secara terus-menerus adalah satu-satunya cara untuk merawat kesehatan akal sehat publik.

Kehadiran kedua pola pikir yang saling bertolak belakang ini membuktikan bahwa realitas sosial kita memiliki kompleksitas psikologis yang sangat dinamis dalam melihat dinamika bernegara.

Polarisasi ini tidak boleh dipandang sebagai kelemahan bangsa, melainkan sebuah simfoni kedewasaan yang melatih ketahanan mental publik dalam menghadapi gejolak politik.

Tarik-menarik antara kebutuhan akan ketertiban sosial dan desakan kebebasan berpikir adalah roda penggerak yang mendewasakan demokrasi di Indonesia.

Memahami realitas psiko-sosial ini sangat krusial agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam fanatisme buta yang merusak nalar kritis.

Sebagai catatan penutup yang konklusif, dialektika historis pada maret 2019 tersebut menegaskan bahwa kecerdasan bernegara menuntut keseimbangan nalar yang dinamis.

Kita wajib menolak segala bentuk hoaks destruktif yang mengancam kohesi sosiologis masyarakat demi menjaga keutuhan bangsa sebagaimana yang dikhawatirkan oleh kelompok Rhenald Kasali.

Namun, pada saat yang sama, hak bersuara dan skeptisisme kritis harus tetap dirawat seperti yang disuarakan kelompok Rocky Gerung agar ruang demokrasi tetap hidup.

Melalui sintesis pemikiran akademik  masyarakat diharapkan menjelma menjadi entitas politik yang merdeka, berdaulat dalam berpikir, dan cerdas dalam mengawal setiap persoalan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *