Teheran, Grandisma.com- Kemungkinan penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah dililai sebagai bentuk tekanan strategis, dengan dugaan bahwa langkah tersebut ditargetkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Klaim dan rencana terkait kawasan jalur pelayaran vital ini telah menarik perhatian luas dari komunitas internasional. Informasi mengenai hal ini disebarluaskan melalui berbagai media massa.
Selat Hormuz merupakan jalur pelaut paling vital bagi perdagangan energi global, dengan sekitar 20 juta barel minyak mentah didistribusikan melalui kawasan tersebut setiap hari.
Sekitar sepertiga dari total ekspor minyak dunia melewati jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini. Pentingnya kawasan ini dikenal oleh seluruh negara di dunia.
Baru-baru ini, klaim mengenai kontrol penuh atas wilayah Selat Hormuz telah dibuat oleh pihak Iran.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, terutama seiring dengan rencana latihan militer IRGC yang akan diadakan pada tanggal 1 hingga 2 Februari 2026. Rencana ini diumumkan secara resmi pada hari Jum’at (30/1/2026).
Rencana latihan tembak langsung oleh Angkatan Laut Korps Gerda Revolusi Iran (IRGC) telah mendapat tanggapan dari Komando Pusat AS Senkom.
Peringatan agar Iran menahan diri dari tindakan provokatif disampaikan secara tegas. Selain itu, juga ditegaskan bahwa aktivitas militer harus dilakukan secara profesional dan sesuai aturan yang berlaku.
Penutupan Selat Hormuz dililai sebagai langkah strategis yang dapat memberi tekanan langsung kepada Presiden Donald Trump.
Hal ini dikarenakan langkah tersebut berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak dunia yang signifikan yang akan dirasakan secara luas di seluruh dunia.
Dampak ini diprediksi akan memberikan pengaruh besar terhadap kebijakan ekonomi AS.
Peningkatan harga minyak dunia diperkirakan akan secara otomatis menaikkan laju inflasi baik di Amerika Serikat maupun secara global.
Dampak ekonomi ini dianggap sebagai bentuk tekanan yang dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah AS yang ditetapkan oleh Presiden Trump.
Analisis mengenai hal ini dikeluarkan oleh berbagai lembaga ekonomi internasional.
Meski demikian, langkah penutupan juga berisiko merugikan Iran sendiri. Seluruh ekspor minyak negara tersebut bergantung pada jalur Selat Hormuz, sehingga aktivitas ekonomi Teheran juga berpotensi terganggu secara signifikan.
Selain itu, tindakan penutupan juga dapat menyeret negara-negara Teluk ke dalam konflik untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka.
Pihak AS telah menegaskan bahwa segala bentuk ancaman di jalur pelayaran internasional tidak dapat ditoleransi.
Tindakan yang membahayakan personel atau kendaraan militer AS akan dapatkan respons tegas, termasuk jika terjadi gangguan pada lalu lintas pelayaran.
Perkiraan mengenai tujuan strategis di balik potensi penutupan terus menjadi bahan analisis mendalam oleh para ahli internasional.
