ATAMBUA, GRANDISMA.COM – Pakar Strategi Militer Amerika Serikat (AS) , Profesor Robert Pape dalam analisisnya yang dikutip dari The Diary of CEO pada Minggu (15/02/26) menyatakan bahwa situasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran saat ini menjadi insentif terkuat bagi Teheran untuk segera memiliki hulu ledak nuklir.
“Situasi perang yang terjadi saat ini telah memberikan dorongan paling besar bagi Iran untuk mempercepat langkah mereka dalam mengembangkan senjata nuklir,” ujar Pape.
Menurutnya, tekanan militer yang terus meningkat dari Barat mempercepat keinginan Iran untuk memiliki deterensi nuklir yang nyata, dengan mengacu pada model Korea Utara yang terbukti efektif sebagai perisai terhadap upaya penggulingan rezim.
“Iran melihat bahwa tanpa bom nuklir, mereka akan terus menjadi sasaran serangan udara dan pembunuhan terhadap para pemimpin mereka,” tambah Pape.
Laporan intelijen menunjukkan bahwa Iran tidak bermaksud menggunakan satu bom untuk menyerang, melainkan membangun stok yang cukup untuk melakukan uji coba berganda.
Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka telah melampaui ambang batas kemampuan rekayasa nuklir melalui strategi yang disebut “Multiple Bomb Path” – di mana Iran berencana memiliki setidaknya lima hingga enam hulu ledak sekaligus.
Dengan demikian, satu atau dua uji coba seperti yang dilakukan Pyongyang akan mengubah politik Iran secara signifikan.
Pape menjelaskan bahwa Iran menyadari cara terbaik untuk bertahan hidup dari serangan AS dan Israel adalah dengan memiliki senjata nuklir itu sendiri.
“Mereka tahu cara bertahan hidup, sehingga tekanan militer yang dilakukan tanpa adanya jalur diplomasi yang jelas hanya akan memicu terjadinya radikalisasi dalam pengembangan senjata nuklir,” katanya.
Ketegangan semakin diperparah dengan hilangnya kendali internasional terhadap lokasi material nuklir Iran.
Badan Energi Atom Internasional kini kesulitan melacak uranium yang sudah diperkaya hingga 60 persen karena telah didispersikan ke lokasi-lokasi rahasia.
Sebelumnya, pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump berharap tekanan ekonomi akan menghentikan program tersebut.
Namun, setelah Perjanjian Nuklir (JCPOA) ditarik secara sepihak, Iran justru meningkatkan kecepatan pengayaan uranium.
Secara teknis, negara ini kini hanya memerlukan waktu beberapa bulan untuk mencapai pengayaan 90 persen, standar untuk senjata nuklir dengan ilmuwannya bekerja dalam shift penuh untuk menyelesaikan tahap rekayasa hulu ledak.
Pape mengingatkan bahwa kehadiran senjata nuklir di tangan Iran berpotensi memicu negara-negara tetangga seperti Arab Saudi dan Turki untuk mengejar teknologi serupa, yang akan memperparah perlombaan senjata nuklir di kawasan yang sudah tidak stabil.
Dunia internasional kini khawatir bahwa jika Iran berhasil melakukan uji coba nuklir pertama di bawah tanah, konstelasi geopolitik di Timur Tengah akan berubah secara permanen dan tidak bisa kembali ke kondisi semula.
Menurut Pape, hal ini akan menciptakan kebuntuan diplomatik yang berbahaya bagi stabilitas global, dengan AS dihadapkan pada pilihan sulit: menerima Iran sebagai negara nuklir atau melakukan invasi darat yang berisiko tinggi.
Sementara itu, publik Iran mulai terpolarisasi antara mereka yang takut akan perang dan mereka yang mendukung pengembangan nuklir sebagai harga diri bangsa.
Namun, di tingkat elit penguasa, keputusan untuk mengembangkan senjata nuklir tampaknya sudah bulat.
