KUPANG, GRANDISMA.COM – Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah antara Iran dan Israel kini berada di titik nadir yang mengkhawatirkan.
Mantan agen intelijen CIA, Andrew Bustamante, memberikan peringatan keras bahwa situasi saat ini telah membawa dunia jauh lebih dekat ke arah perang nuklir global daripada sebelumnya.
Dalam sebuah diskusi mendalam, Bustamante menyoroti bagaimana eskalasi militer kedua negara bukan lagi sekadar gertakan politik.
Ia menilai bahwa ambang batas penggunaan senjata strategis mulai menipis seiring dengan keterlibatan kekuatan besar dunia yang mendukung masing-masing pihak.
”Saya 100 persen yakin bahwa tindakan ini telah menggerakkan kita lebih dekat ke perang nuklir,” ujar Bustamante
Menurutnya, indikasi ini terlihat dari pergerakan aset militer di berbagai belahan dunia yang mulai bersiaga penuh.
Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa pengerahan hulu ledak nuklir taktis sudah mulai dilakukan oleh beberapa negara Eropa sebagai bentuk pencegahan.
Hal ini dianggap sebagai sinyal bahwa risiko proliferasi nuklir meningkat drastis akibat konflik yang tak kunjung reda di wilayah tersebut.
Bustamante menjelaskan bahwa Iran memang belum secara resmi memiliki senjata nuklir, namun ancaman nyata justru datang dari reaksi berantai yang ditimbulkan.
Jika Israel merasa terancam secara eksistensial, respons yang diberikan bisa memicu keterlibatan Rusia atau negara nuklir lainnya.
Dikutip dari saluran YouTube The Diary Of A CEO Clips yang disiarkan pada hari Kamis, 19 Maret 2026, Bustamante menekankan bahwa dunia internasional harus segera melakukan deeskalasi sebelum terlambat.
Pengamat militer ini menilai bahwa perang nuklir tidak akan dimulai dengan ledakan besar secara tiba-tiba, melainkan melalui serangkaian salah perhitungan di medan tempur.
“Ketidakpastian kepemimpinan di negara-negara konflik menjadi faktor risiko terbesar saat ini.” Ujar Bustamante
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa doktrin militer saat ini sudah mulai mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir taktis di medan perang.
“Ini adalah pergeseran berbahaya dari kebijakan pencegahan (deterrence) menjadi penggunaan aktif (deployment).” katanya
Masyarakat internasional kini mendesak adanya pakta perdamaian baru untuk meredam tensi di Teheran dan Tel Aviv.
Namun, selama ego politik masih mendominasi diplomasi, risiko “kiamat nuklir” tetap membayangi peradaban manusia.
Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau situasi ini dengan saksama.
Indonesia secara konsisten menyerukan agar seluruh pihak menahan diri demi menjaga stabilitas keamanan energi dan ekonomi global.
