Yusril Soroti Fenomena Masyarakat Lebih Memilih Memanggil Damkar Daripada Polisi

BERITA, POLITIK, POLRI440 Dilihat

Makassar, Grandisma.com – Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan rasa heran terhadap fenomena tren masyarakat yang lebih memilih melapor ke Pemadam Kebakaran (Damkar) daripada ke Kepolisian (Polri) saat menghadapi berbagai permasalahan.

Fenomena ini disoroti beliau selama memberikan Kuliah Umum di Aula Al Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Senin (24/11/2025).

“Saya membaca artikel masyarakat kalau ada apa-apa lebih senang menghubungi damkar dari pada menghubungi polisi,” ungkap Yusril di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Hukum UMI.

Menurutnya, tren ini terjadi mulai dari persoalan penanganan binatang buas atau berbisa, kejepit teralis, hingga permasalahan yang cukup sepele.

Yusril bahkan memberikan contoh konkret yang membuatnya semakin heran. Dia menyebutkan, ketika ada ular atau buaya yang masuk ke rumah warga, yang dipanggil bukanlah polisi melainkan petugas damkar.

“Kalau ada ular, ada buaya, yang dipanggil damkar, bukan polisi. Polisi dipanggil, polisi tidak bisa, damkar bisa menangkap buaya, saya juga heran-heran tapi itu yang terjadi,” katanya.

Menurut Menko Kumham, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran persepsi di masyarakat. Dia menduga, alasan utama warga memilih memanggil damkar adalah karena merasa lebih aman atau tidak ada rasa takut terhadap petugas tersebut.

Yusril menekankan bahwa fenomena yang terjadi saat ini perlu menjadi perhatian bersama. Dia menekankan pentingnya agar polisi tidak menimbulkan rasa takut melainkan rasa mengayomi dan melindungi bagi masyarakat.

“Nah, itu yang harus kita pikirkan sekarang, karena dalam hal pelindung dan pengayom terasa kurang dan dalam law enforcement juga banyak kritik yang dituduhkan kepada para penyidik kepolisian,” jelasnya.

Kritik terhadap penyidik kepolisian dalam penegakan hukum menjadi salah satu poin yang diangkat Yusril sebagai latar belakang terjadinya pergeseran itu. Dia mengakui bahwa banyak kekurangan yang perlu diperbaiki agar kinerja polisi lebih baik.

Saat ditanya mahasiswa tentang reformasi kepolisian, Yusril menyatakan bahwa semua saran dan kritik yang ditujukan kepada polisi akan diterima dengan terbuka. Dia berharap, dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan, kondisi akan menjadi lebih baik di masa depan.

Fenomena yang disoroti Yusril telah menjadi perbincangan hangat di masyarakat, termasuk di platform media sosial melalui hashtag #ReformasiPolri.

Banyak warga menyampaikan pengalaman pribadi yang mendukung tren tersebut, menyebutkan bahwa petugas damkar seringkali lebih cepat datang dan memberikan tanggapan yang tepat.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi lembaga penegak hukum untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan hubungan dengan masyarakat. Harapan terbesar adalah agar polisi kembali menjadi lembaga yang dipercaya dan diandalkan oleh warga sebagai pelindung dan pengayom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *