Sayat Hati! Kisah 8 Suster Asuh Anak ABK, Wabub Belu: ‘Jangan Terima Kasih, Ini Kewajiban Kami’

BERITA, DAERAH38 Dilihat

Sayat Hati! Kisah 8 Suster Asuh Anak ABK, Wabub Belu: 'Jangan  Terima Kasih, Ini Kewajiban Kami'ATAMBUA, GRANDISMA.COM – Di balik dinding sederhana Panti Asuhan Bhakti Luhur Atambua, tersimpan kisah dedikasi tanpa pamrih dari delapan orang suster yang mendedikasikan hidup mereka untuk merawat anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pada Selasa (28/04/2026), potret kemanusiaan ini disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, dalam sebuah kunjungan yang penuh haru.

​Panti asuhan ini saat ini menampung 19 anak yang menderita berbagai kondisi medis dan perkembangan, mulai dari autisme, down syndrome, hingga tunadaksa.

Kedelapan suster tersebut bekerja siang dan malam, melampaui peran pengasuh biasa, bertindak sebagai perawat, guru, sekaligus orang tua bagi anak-anak yang seringkali terlupakan oleh dunia luar.

​Pimpinan panti, Suster Aplonia Hoar, menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal logistik, melainkan penanganan medis dan psikologis yang intensif bagi setiap anak.

Keterbatasan fasilitas dan tenaga ahli membuat para suster harus memiliki kesabaran ekstra dan pengetahuan dasar yang mumpuni mengenai perawatan disabilitas.

​Saat mendengarkan paparan tersebut, Wakil Bupati Vicente tampak tersentuh. Ia menyaksikan sendiri bagaimana interaksi hangat antara para suster dan anak-anak yang memiliki keterbatasan komunikasi.

Suasana haru menyelimuti ruangan ketika salah satu anak menyambut kedatangan rombongan pemerintah dengan semangat meskipun dalam keterbatasan fisik.

​Merespons ucapan terima kasih yang tulus dari Suster Aplonia, Vicente justru memberikan jawaban yang mengejutkan banyak pihak.

Ia meminta para pengelola panti untuk tidak berterima kasih kepada pemerintah, karena menurutnya, beban moral dan kerja keras yang dilakukan para suster justru jauh lebih besar daripada bantuan yang dibawa pemerintah.

​”Suster tidak perlu berterima kasih. Kami yang seharusnya berterima kasih karena Suster telah mengambil peran negara dalam merawat anak-anak ini. Ini adalah kewajiban kami, tugas pemerintah untuk hadir bagi mereka yang lemah dan membutuhkan perlindungan,” ujar Vicente

​Vicente mengakui bahwa kehadirannya di panti asuhan tersebut merupakan sebuah teguran bagi nurani sebagai pemimpin.

Ia menyadari bahwa di tengah kemajuan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Belu, masih ada kantong-kantong kemanusiaan yang memerlukan sentuhan kebijakan yang lebih afirmatif dan berkelanjutan.

​Dalam kunjungan tersebut, pemerintah daerah juga mendata kebutuhan mendesak terkait layanan kesehatan bagi anak-anak ABK di panti.

Masalah aksesibilitas terhadap terapi rutin dan peralatan medis pendukung menjadi poin penting yang akan dibawa ke tingkat pembahasan anggaran daerah selanjutnya.

​Bagi para suster, kehadiran pemerintah bukan sekadar soal nominal bantuan, melainkan pengakuan atas eksistensi anak-anak tersebut.

Suster Aplonia menegaskan bahwa panti mereka terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama, karena nilai kemanusiaan bersifat universal dan melampaui sekat-sekat dogmatis.

​Kunjungan ini diharapkan menjadi titik balik bagi perbaikan sistem advokasi disabilitas di Kabupaten Belu.

Pemerintah berkomitmen untuk tidak lagi menjadikan panti asuhan sebagai objek seremonial, melainkan mitra strategis dalam mewujudkan masyarakat yang inklusif dan ramah terhadap kelompok berkebutuhan khusus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *