Wamendikdasmen: Pendidikan Katolik Jadi Laboratorium Inklusi Sejak Era Kolonial  

BERITA, DAERAH, PENDIDIKAN476 Dilihat

Kupang, Grandisma.com – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI Fajar Riza Ul Haq menekankan bahwa pendidikan Katolik di Indonesia telah berperan sebagai laboratorium inklusi sejak era kolonial.

Penyampaian ini dilakukan dalam acara Hari Studi dan Perayaan Hari Ulang Tahun Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) ke 50+1 yang digelar di Hotel Kristal Kupang, Rabu (17/12/2025).

Kegiatan yang berlangsung sejak 15-18 Desember 2025 mengangkat tema “Ut Omnes Unum Sint, All Together Now Mewujudkan Sekolah Unggul Katolik di Bumi Nusantara”.

Acara ini dihadiri juga oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, serta berbagai tokoh pendidikan dan agama dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Wamendikdasmen Haq mengungkapkan bahwa peran pendidikan sangat besar bagi perkembangan negara, dan peningkatan kualitas pendidikan akan mencetak generasi unggul, cerdas, berkualitas, dan berkarakter.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap sejarah panjang dan kontribusi besar pendidikan Katolik dalam mencerdaskan bangsa.

“Filosofi pendidikan Katolik telah lama menjadi tempat perjumpaan antar individu, antar generasi, antar iman, antar bangsa, dan antar peradaban,” ujar Haq.

Ia menambahkan, hal ini sejalan dengan ungkapan Paus Fransiskus yang menyatakan bahwa pendidikan hari ini dan masa depan harus berani menciptakan individu yang inklusif, bertanggung jawab, dan empati.

“Sejak era kolonial, sekolah Katolik telah membuka pintu bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama, suku, atau status sosial. Ini menjadikannya laboratorium inklusi yang sesungguhnya, yang menjadi contoh bagi sistem pendidikan nasional,” tegas Wamendikdasmen.

Ia juga menekankan bahwa proses pendidikan yang benar harus menunjukkan keberanian untuk keluar dari ego individual menuju komunalitas dan kebersamaan. “Ini adalah cikal bakal tumbuhnya solidaritas yang kuat di tengah masyarakat yang beragam,” jelasnya.

Selain itu, Wamendikdasmen menyatakan bahwa pemerintah senantiasa memberikan dukungan terhadap keberlanjutan sekolah swasta, yang selama ini menjadi tulang punggung sistem pendidikan nasional.

“Sekolah swasta, termasuk yang Katolik, telah memberikan kontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat,” ungkapnya.

Sejalan dengan pembicaraan Wamendikdasmen, Gubernur NTT Melki Laka Lena membawakan materi tentang “Kontribusi Sekolah Katolik Dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di NTT”.

Ia mendorong setiap sekolah untuk mencetak lulusan yang mandiri dan bertanggung jawab membangun daerah.

“Visi NTT yang kami tetapkan adalah maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berlanjutan. Kata ‘cerdas’ dimasukkan secara khusus untuk menegaskan bahwa pendidikan adalah faktor penting dalam memajukan peradaban,” kata Gubernur.

Ia juga menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT aktif mendorong pendidikan vokasi unggulan berbasis potensi daerah. “Sekolah vokasi diprioritaskan untuk meningkatkan daya saing, kemandirian, dan kewirausahaan siswa,” jelasnya.

Selain itu, ada penguatan program “One School One Product” sebagai upaya mendukung ekonomi lokal dan kemandirian siswa. “Kita ingin setiap sekolah memiliki produk khas yang bisa dipasarkan, sehingga siswa belajar bukan hanya akademik tetapi juga keterampilan berwirausaha,” tambahnya.

Gubernur Laka Lena juga mengungkapkan apresiasi terkait peran sekolah Katolik dalam membentuk moral dan karakter siswa. “Perjalanan hidup saya yang bersekolah di sekolah Katolik membuat saya merasakan kuat peran pendidikan karakter dan moralnya – itu menjadi keunggulannya,” ceritanya.

Ia menambahkan bahwa konsep pendidikan di NTT diarahkan untuk mencakup aspek intelektual, karakter, spiritual, sosial, dan kewirausahaan guna membentuk peserta didik yang utuh dan mandiri. “SDM NTT juga diharapkan mampu mengelola sumber daya lokal dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan lain-lain,” tegasnya.

Selain sebagai ajang perayaan HUT MNPK, kegiatan ini juga bertujuan sebagai konsolidasi dan sinergi serta mensyukuri perjalanan, karya, dan kontribusi MNPK dalam pengembangan pendidikan Katolik di Indonesia.

Selain itu, acara ini juga menjadi wadah evaluasi peran MNPK dalam menjawab tantangan pendidikan nasional dan global.

Mengakhiri acara, kedua pejabat menyampaikan harapan agar pendidikan Katolik terus mempertahankan nilai-nilai inklusi dan kontribusinya dalam membangun generasi yang unggul.

“Mari kita bersama-sama mewujudkan sekolah unggul yang membumikan nilai-nilai kebersamaan dan keadilan di bumi Nusantara,” pungkas Wamendikdasmen Haq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *