Meski Operasi Militer Dihentikan, AS Tetap Pertahankan Blokade Selat Hormuz

TEHERAN, GRANDISMA.COM – Situasi ekonomi di kawasan Teluk tetap tercekik meskipun Amerika Serikat telah mengumumkan penghentian operasi tempur “Epic Fury”.

Washington menegaskan bahwa blokade militer di Selat Hormuz akan terus berlanjut sebagai bagian dari upaya memastikan keamanan navigasi dan tekanan terhadap pemerintah Iran.

​Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam keterangannya menyatakan bahwa meski operasi pembebasan kapal “Project Freedom” ditangguhkan sementara atas permintaan Pakistan, hal itu tidak berarti blokade dicabut.

AS tetap akan menyiagakan armada lautnya untuk mengontrol setiap pergerakan kapal yang keluar masuk selat strategis tersebut.

​Penangguhan sementara “Project Freedom” dimaksudkan untuk memberi ruang bagi proses negosiasi damai yang sedang diupayakan di Islamabad.

Namun, militer Amerika Serikat, melalui pernyataan Menteri Perang Pete Hegseth, memberikan sinyal kesiapan penuh dan mengklaim telah membangun “kubah pelindung” di atas Selat Hormuz untuk menangkal serangan udara Iran.

​Blokade ini terus berdampak pada rantai pasok global dan stabilitas harga energi dunia. Iran menuduh tindakan AS ini sebagai bentuk terorisme ekonomi yang bertujuan menyengsara rakyat Iran.

Selat Hormuz kini menjadi medan perang urat syaraf di mana kapal-kapal tanker terjebak dalam ketidakpastian hukum dan keamanan.

​Di sisi lain, Iran juga melakukan langkah balasan dengan melakukan blokade serupa dari sisi perairan kedaulatan mereka. Hal ini menciptakan situasi “deadlock” di mana jalur perdagangan minyak paling vital di dunia ini hampir tidak berfungsi secara normal.

​Pakar ekonomi internasional memperingatkan bahwa jika blokade ini berlanjut hingga lebih dari satu bulan ke depan, krisis energi global tidak akan terhindarkan.

Negara-negara konsumen besar seperti China dan India disebut-sebut sebagai pihak yang paling dirugikan oleh kebijakan blokade Amerika Serikat ini.

​Pemerintah AS berdalih bahwa blokade diperlukan untuk mencegah Iran menyelundupkan komponen senjata nuklir dan bahan peledak ke kelompok-kelompok proksinya di kawasan.

Namun, klaim ini dibantah keras oleh Teheran yang menyebut blokade tersebut melanggar hukum internasional terkait kebebasan navigasi di laut lepas.

​Hingga laporan ini diturunkan, kapal-kapal perang dari kedua negara masih saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat, meningkatkan risiko insiden yang tidak disengaja yang dapat memicu perang skala besar kembali pecah di kawasan tersebut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *