Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat, AS Desak Sekutu Ambil Langkah Tegas

Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat, AS Desak Sekutu Ambil Langkah TegasWASHINGTON,GRANDISMA.COM — Gedung Putih secara resmi mendesak negara-negara sekutu untuk meningkatkan peran mereka dalam mengamankan jalur maritim di Selat Hormuz.

Langkah ini diambil menyusul eskalasi konflik dengan Iran yang kian memanas dalam beberapa pekan terakhir.

​Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump terus menjalin komunikasi intensif dengan para pemimpin di Eropa dan kawasan Teluk.

Fokus utama pembicaraan tersebut adalah stabilitas keamanan di wilayah Arab yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

​Dalam keterangannya pada Senin, 23 Maret 2026, Leavitt menegaskan bahwa militer Amerika Serikat memiliki kapabilitas yang sangat besar.

Hal ini, menurutnya, telah teruji melalui berbagai operasi yang digelar selama 18 hari terakhir di zona konflik tersebut.

​Meskipun situasi kian genting, Leavitt mengisyaratkan bahwa pihak Pentagon masih menyimpan strategi khusus yang belum dipublikasikan.

“Militer kami masih memiliki kartu truf (tricks up their sleeve). Saya tidak akan menyiarkannya kepada media,” ujar Leavitt di Washington.

​Ia memastikan bahwa pemerintah telah menyusun rencana matang yang kini sedang dalam tahap eksekusi.

Kendati demikian, Amerika Serikat tetap menuntut komitmen yang lebih nyata dari para sekutu untuk tidak hanya berpangku tangan.

​Presiden Trump, lanjut Leavitt, secara konsisten meminta negara-negara mitra untuk “melangkah maju” dan berbuat lebih banyak.

Tanggung jawab menjaga keamanan internasional dinilai tidak seharusnya didominasi oleh Washington semata.

​Sejauh ini, pihak Gedung Putih mengklaim telah melihat adanya kemajuan dalam koordinasi dengan negara-negara sekutu.

Namun, progres tersebut dianggap belum cukup untuk meredam potensi gangguan di Selat Hormuz.

​Ketegangan ini bermula dari ancaman penutupan jalur pelayaran internasional oleh pihak Iran.

Jika hal itu terjadi, distribusi minyak dunia dipastikan akan terganggu dan memicu krisis ekonomi global yang masif.

​Leavitt menekankan bahwa kehadiran militer AS di kawasan tersebut murni bertujuan untuk pencegahan dan perlindungan kepentingan global.

Ia menjamin bahwa setiap langkah yang diambil telah melalui pertimbangan strategis yang mendalam.

​Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz masih dalam pemantauan ketat radar militer internasional.

AS memperingatkan bahwa segala bentuk provokasi di wilayah tersebut akan direspons dengan tindakan yang setimpal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *