BOGOR, GRANDISMA.COM – Kehadiran sosok pria berpostur tinggi besar di samping podium Presiden RI menarik perhatian penuh ribuan hadirin di Sentul International Convention Center (SICC), Rabu, 3 Juni 2026.
Pria tersebut adalah Tony Robbins, motivator kondang sekaligus pengusaha sukses asal Amerika Serikat yang sengaja diundang langsung oleh Kepala Negara.
Kehadirannya dirancang untuk menyuntikkan doktrin kepemimpinan tangguh bagi para penggerak gizi di daerah perbatasan.
​Presiden mengisahkan bahwa keputusan mengundang Tony Robbins didasarkan pada adanya titik temu filosofis dan kesamaan latar belakang kehidupan masa kecil.
Robbins tumbuh dari ekosistem keluarga yang sangat miskin di Amerika, di mana ayahnya bekerja keras sebagai seorang tukang parkir.
Pengalaman empiris menghadapi kelaparan masa kecil membentuk karakter Robbins menjadi filantropi dunia yang peduli pada isu pangan.
​Salah satu fragmen cerita yang paling menyentuh adalah kisah malam Thanksgiving di masa kecil Robbins, saat keluarganya sama sekali tidak memiliki makanan di atas meja.
Keajaiban datang ketika seorang tetangga tak dikenal mengetuk pintu dan memberikan sepaket makanan, sebuah momen yang sempat membuat sang ayah merasa malu namun terpaksa menerima demi kelangsungan hidup anak-anaknya.
Insiden traumatik sekaligus humanis itulah yang memicu Robbins mendedikasikan sebagian kekayaannya untuk memberi makan jutaan orang kelaparan di bumi.
​”Di situlah ada berjumpanya nilai, berjumpanya pandangan, dan berjumpanya filosofi antara saya dengan Saudara Tony. Dia mendengar program makan gratis kita dan langsung tertarik,” ungkap Presiden disambut anggukan hormat dari Robbins di sisi panggung.
Pertemuan kedua tokoh ini menjadi simbol bahwa gerakan pengentasan kelaparan adalah bahasa universal yang melampaui batas negara.
​Presiden juga merefleksikan kesamaan mentalitas pantang menyerah Robbins dengan perjalanan politik pribadinya yang penuh lika-liku di Indonesia.
Dengan nada berkelakar, Presiden mengingatkan hadirin bahwa dirinya telah lima kali mengikuti kontestasi pemilu kepresidenan dan mengalami kegagalan sebanyak empat kali.
Kekalahan beruntun tersebut tidak membuatnya mundur karena adanya panggilan tugas suci kemanusiaan yang belum rampung.
​”Kalah itu sedih, tahu enggak. Tapi yang penting adalah bagaimana kita jatuh, bangun lagi. Jatuh, bangkit lagi,” kata Presiden disambut riuh tepuk tangan dan tawa renyah peserta.
Filosofi ketahanan mental inilah yang ingin ditularkan kepada para sarjana penggerak pembangunan yang akan dikirim ke wilayah-wilayah terpencil Indonesia.
​Kolaborasi antara pemikir strategis Indonesia dan motivator global ini diharapkan mampu melahirkan perspektif baru dalam manajemen tata kelola organisasi BGN.
Robbins dijadwalkan akan memberikan sesi pembekalan khusus mengenai cara menghadapi tekanan psikologis bagi para kepala dapur umum di lapangan.
Pemerintah ingin memastikan bahwa para pengawas gizi memiliki ketahanan mental setebal baja dalam menghadapi tantangan logistik.
​Kehadiran Robbins di SICC sekaligus menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis di Indonesia kini mulai memancing perhatian dan pengakuan dari komunitas internasional.
Konsep pemenuhan gizi berbasis penguatan ekonomi desa ini dipandang sebagai model eksperimen sosial terbesar di Asia Tenggara.
Sinergi gagasan global dan eksekusi lokal ini diharapkan mampu mempercepat pemutusan rantai kemiskinan struktural.






