Ponorogo, Grandisma.com – Penangkapan Dewi Astutik, seorang buronan internasional yang terlibat dalam jaringan narkoba lintas Asia, telah mengejutkan banyak pihak, terutama suaminya yang tinggal di Ponorogo, Jawa Timur.
Kisah hidup Dewi, dari seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) hingga menjadi gembong narkoba, sungguh tak terduga.
Operasi penangkapan Dewi Astutik di Kamboja, Senin, (1/12/25) menjadi salah satu operasi terbesar yang pernah dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam beberapa tahun terakhir.
Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi antara BNN, Interpol, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, dan BAIS TNI, setelah serangkaian pelacakan intelijen sejak pertengahan November 2025.
Dewi Astutik merupakan figur sentral dalam jaringan narkoba yang beroperasi di kawasan Golden Triangle.
Ia berperan penting dalam mengatur perekrutan lebih dari seratus kurir yang bertugas menyelundupkan narkoba lintas negara.
Di balik namanya yang terdengar biasa, Dewi Astutik menyimpan rekam jejak kriminal yang sangat besar.
Ia bertanggung jawab atas penyelundupan narkotika senilai triliunan rupiah, menjadikannya salah satu gembong narkoba paling dicari di kawasan Asia.
Dewi Astutik diketahui memulai karirnya sebagai TKW. Namun, di tengah perantauannya, ia terjerumus ke dalam dunia narkoba dan berhasil membangun jaringan yang kuat.
Suami Dewi Astutik, yang bernama Sarno, mengaku sangat terkejut ketika mendengar kabar tentang keterlibatan istrinya dalam jaringan narkoba internasional.
Ia tidak menyangka bahwa istrinya yang dikenal sebagai ibu rumah tangga biasa, ternyata adalah seorang gembong narkoba yang sangat berbahaya.
“Saya sangat syok dan tidak percaya. Saya tidak tahu menahu tentang kegiatan istri saya di luar negeri,” ujar Sarno dengan nada sedih.
Ia menambahkan bahwa komunikasi terakhir dengan istrinya terjadi beberapa bulan lalu, dan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
BNN mengungkapkan bahwa Dewi Astutik berperan sebagai otak dari penyelundupan sabu seberat 2 ton. Sabu tersebut rencananya akan diedarkan di berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia.
Kerugian yang ditimbulkan akibat peredaran narkoba yang dikendalikan oleh Dewi Astutik diperkirakan mencapai Rp 5 triliun.
Jumlah ini sangat fantastis dan menunjukkan betapa besar dampak negatif yang ditimbulkan oleh jaringan narkoba internasional.
Saat ini, Dewi Astutik masih menjalani proses hukum di Kamboja. BNN terus berkoordinasi dengan pihak berwenang di Kamboja untuk membawa Dewi Astutik ke Indonesia dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk memberantas narkoba hingga ke akar-akarnya.
Kerjasama dengan berbagai negara terus ditingkatkan untuk menangkap para gembong narkoba dan memutus rantai peredaran narkoba di kawasan Asia.







