KUPANG, GRAND ISMA.COM – Aksi heroik Frans Lumentut yang berjalan kaki melintasi enam pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama 46 hari akhirnya sampai ke telinga pemangku kebijakan tertinggi di wilayah tersebut. Frans menempuh jarak sekitar 945 kilometer untuk memotret potret buram pendidikan di pelosok.
Dalam audiensi resmi di Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT, Kupang, pada Kamis (16/4), Frans memaparkan realitas pahit yang ia temukan di Pulau Rote, Solor, Adonara, Lembata, Alor, hingga Pantar. Ia menyebut akses pendidikan masih menjadi barang mewah bagi anak-anak di pedalaman.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyambut langsung kedatangan Frans dengan apresiasi tinggi. Melki menilai data yang dibawa Frans jauh lebih berharga daripada laporan administratif karena didasarkan pada pengalaman langsung menyentuh tanah dan debu di desa-desa terpencil.
Frans menjelaskan bahwa motivasi utamanya melakukan aksi ini adalah untuk menggalang kepedulian publik. Bekerja sama dengan Nyata Foundation, ia ingin memastikan bahwa anak-anak dari keluarga tidak mampu tetap memiliki harapan untuk duduk di bangku sekolah meski infrastruktur tidak mendukung.
Selama perjalanan, Frans menemukan fakta bahwa banyak desa hanya memiliki fasilitas Sekolah Dasar (SD). Kondisi ini memaksa siswa untuk menempuh perjalanan jauh ke desa lain atau bahkan ke kota hanya untuk melanjutkan ke jenjang SMP atau SMA, yang memicu tingginya angka putus sekolah.
Ketimpangan ini bukan hanya soal jarak, melainkan juga biaya transportasi dan akomodasi yang tidak terjangkau oleh masyarakat kecil. Frans menekankan bahwa semangat belajar anak-anak NTT sangat luar biasa, namun seringkali terbentur oleh tembok kemiskinan sistemik.
Merespons hal tersebut, Gubernur Melki menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menutup mata. Ia menyatakan bahwa temuan Frans akan menjadi basis evaluasi kebijakan pendidikan, terutama terkait pemerataan sarana dan prasarana di wilayah yang selama ini sulit dijangkau.
Melki juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan organisasi non-pemerintah seperti Nyata Foundation yang telah mendampingi ribuan anak asuh. Menurutnya, pemerintah membutuhkan mitra strategis untuk menjangkau setiap jengkal wilayah NTT yang secara geografis sangat menantang.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur juga berjanji untuk menyisir kembali anggaran pendidikan agar lebih tepat sasaran. Ia berkomitmen meningkatkan intervensi di sektor kesejahteraan guru honorer yang menjadi ujung tombak pendidikan di daerah terisolasi.
Frans Lumentut menambahkan bahwa aksi serupa sebelumnya pernah ia lakukan di Pulau Flores pada tahun 2024. Baginya, NTT memiliki panggilan jiwa yang kuat karena keindahan alamnya berbanding terbalik dengan sulitnya akses bagi warga setempat untuk berkembang.
Ia berharap melalui laporannya, Gubernur dapat segera mengambil langkah taktis untuk memperbaiki akses jalan menuju sekolah. Infrastruktur jalan yang buruk diakui Frans menjadi faktor penghambat utama mobilitas guru dan murid di enam pulau yang ia kunjungi.
Audiensi ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga momentum kepedulian ini. Frans menegaskan bahwa perjuangannya tidak berakhir di ruang kerja Gubernur, melainkan akan terus berlanjut melalui program-program advokasi pendidikan bersama Yayasan Nyata ke depannya.





