KEFAMENANU, GRANDISMA.Com – Ada aroma yang lebih busuk daripada tumpukan sampah di pinggiran jalan Hutan Tatup menuju Desa Tublopo. Aroma itu adalah bau bangkai tanggung jawab dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Menyongsong Dies Natalis GMNI ke-72, kami tidak sedang merayakan kemajuan, melainkan sedang menziarahi kehancuran martabat daerah yang dibuang dengan sengaja di selokan birokrasi yang lumpuh.
๐๐๐ฃ๐๐ก๐๐ญ๐๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ข๐ซ๐๐ง๐๐๐ง๐๐ค๐๐ง: ๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐๐๐ก ๐๐ฎ๐ญ๐๐ง ๐๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐๐๐ฉ๐ญ๐ข๐ ๐๐๐ง๐ค
Apa yang terjadi di Jalur Tublopo bukanlah kecelakaan. Itu adalah kejahatan lingkungan yang terstruktur.
Bagaimana mungkin sebuah instansi yang menyandang nama “Lingkungan Hidup” justru membiarkanโatau bahkan diduga mengaminiโpembuangan sampah di jalur hijau yang seharusnya dilindungi?
Ini adalah penghinaan terhadap UU No. 18 Tahun 2008. Pemerintah secara sadar sedang meludahi regulasi yang mereka buat sendiri.
Jalur Tublopo kini bukan lagi sekadar akses transportasi, melainkan “Monumen Ketidakmampuan” yang dipajang secara vulgar di depan mata rakyat.
๐๐๐ซ๐๐๐จ๐ค๐ฌ ๐๐๐ ๐๐๐ง๐๐ฉ: ๐๐จ๐ง๐ฎ๐ฆ๐๐ง ๐๐๐ฐ๐๐ก ๐๐ข ๐๐ญ๐๐ฌ ๐๐๐ง๐๐๐ซ๐ข๐ญ๐๐๐ง ๐๐๐ค๐ฒ๐๐ญ
Ketajaman ironi ini semakin menyayat ketika kita menoleh ke TPA Kenep. Miliaran rupiah uang rakyat telah ditelan oleh proyek tersebut, namun hingga hari ini, fasilitas itu hanyalah gedung kosong yang dihuni hantu birokrasi.
TPA Kenep adalah bukti nyata cacat bawaan birokrasi TTU. Kita membangun infrastruktur dengan gagah, namun membiarkannya membusuk tak terpakai, sementara alam di Tublopo diperkosa oleh limbah.
Ini bukan lagi soal kendala teknis; ini adalah disfungsi otak pemerintahan. Mengapa rakyat harus menghirup bau busuk sampah di Tublopo sementara fasilitas pengolahan sampah di Kenap dibiarkan menjadi rongsokan mahal?
๐๐๐ฆ๐๐ค๐ฅ๐ฎ๐ฆ๐ข ๐๐๐ ๐๐ ๐๐ฅ๐๐ง, ๐๐๐ง๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ญ ๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐ง๐๐ฎ๐ซ๐๐ง ๐๐ข๐ซ๐ข
Melalui aksi nyata pembersihan yang dilakukan oleh Kader GMNI Komisariat Faperta dan FEB hari ini, kami ingin menyampaikan pesan yang paling menyakitkan bagi pemerintah:
“Kami sangat memaklumi ketidakmampuan kalian. Kami maklum bahwa kalian telah gagal. Kami maklum bahwa urusan sampah saja terlalu berat untuk kapasitas berpikir kalian.”
Pemakluman kami adalah bentuk penghinaan tertinggi. Jika mahasiswa harus turun tangan memungut sampah yang dibuang oleh ketidakpedulian negara, maka keberadaan DLH TTU sudah tidak relevan lagi. Keberadaan kalian hanya menjadi beban bagi APBD dan polusi bagi nurani masyarakat.
๐๐จ๐ง๐ข๐ฌ ๐๐๐ซ๐๐ค๐ก๐ข๐ซ: ๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐ง ๐๐ญ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ฆ๐๐๐ง๐ !
Birokrasi yang cacat ini tidak boleh terus memimpin. Kami tidak butuh rapat koordinasi yang hanya menghasilkan nota kesepahaman di atas kertas. Kami butuh TPA Kenap beroperasi detik ini juga dan Jalur Tublopo disterilkan dari sampah.
Jika dalam hitungan hari Hutan Tatup masih menjadi tempat penampungan dosa kalian, maka jangan salahkan jika sampah-sampah ini kami pindahkan ke depan pintu kantor kalian.
Biar kalian merasakan sendiri bagaimana rasanya hidup di tengah hasil kerja kalian yang busuk!
Di usia GMNI ke-72, kami bersumpah: Selama sampah masih berserakan di jalur Tublopo dan TPA Kenep masih menjadi monumen mati, maka selama itu pula perlawanan kami akan menghantui tidur nyenyak kalian para birokrat gagal!
GMNI JAYA!
MARHAEN MENANG!
BIINMAFO HARUS BERSIH!
