Stuxnet hingga Pembunuhan Ilmuwan Nuklir: Bagaimana Mossad Hancurkan Program Nuklir Iran?

BERITA10 Dilihat

Stuxnet hingga Pembunuhan Ilmuwan Nuklir: Bagaimana Mossad Hancurkan Program Nuklir Iran?GRANDISMA.COMProgram nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi Israel telah menjadi target utama Mossad sejak awal tahun 2000-an.

Serangkaian operasi yang canggih dan terkoordinasi telah dilakukan, mulai dari serangan cyber melalui virus Stuxnet hingga pembunuhan secara langsung terhadap ilmuwan nuklir Iran.

Israel telah lama menyatakan kekhawatirannya tentang perkembangan program nuklir Iran, yang mereka klaim memiliki tujuan untuk membuat senjata nuklir.

Meskipun Iran menyatakan bahwa program mereka hanya untuk tujuan damai, Mossad diberi mandat untuk mengambil tindakan untuk menghambat atau menghancurkannya.

Salah satu operasi paling terkenal yang dilakukan adalah penyebaran virus komputer Stuxnet.

Virus ini dirancang secara khusus untuk menyusup ke dalam sistem kontrol centrifugal yang digunakan di fasilitas nuklir Iran untuk memperkaya uranium.

Stuxnet tidak seperti virus komputer biasa yang hanya merusak data atau sistem operasi.

Ia dirancang untuk mengganggu kerja mesin centrifugal dengan cara membuat mereka berputar terlalu cepat hingga mengalami kerusakan parah dan tidak dapat digunakan lagi.

Virus ini diyakini diciptakan bersama oleh Mossad dan NSA Amerika Serikat.

Ia berhasil menyusup ke dalam sistem Iran melalui media fisik seperti flash disk, karena fasilitas nuklir Iran tidak terhubung langsung ke internet.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh Stuxnet sangat signifikan.

Ribuan centrifugal di fasilitas nuklir Natanz dan lainnya mengalami kerusakan parah, yang menyebabkan penundaan berkepanjangan dalam perkembangan program nuklir Iran.

Kehadiran Stuxnet baru ditemukan setelah virus tersebut menyebar ke luar sistem nuklir Iran dan masuk ke dalam jaringan komputer publik di seluruh dunia.

Penemuan ini membuat dunia menyadari adanya perang cyber baru yang semakin kompleks.

Selain serangan cyber, Mossad juga menjalankan operasi untuk membunuh sejumlah ilmuwan nuklir Iran yang dianggap sebagai kunci dalam perkembangan program mereka.

Serangan dilakukan dengan cara yang sangat presisi dan direncanakan dengan matang.

Metode yang digunakan antara lain penembakan oleh pengendara motor yang datang secara tiba-tiba saat ilmuwan sedang dalam perjalanan dengan mobil.

Beberapa korban ditembak beberapa kali di bagian tubuh penting hingga tidak dapat diselamatkan.

Pada beberapa kasus lainnya, bom ditempatkan di dekat kendaraan atau rumah ilmuwan nuklir.

Ledakan terjadi saat mereka memutar kunci pintu rumah atau saat mulai menjalankan mobil, menyebabkan kematian yang instan dan menyakitkan.

Salah satu kasus yang mencolok adalah pembunuhan Dr. Masoud Ali-Mohammadi pada tahun 2010.

Ia ditemukan tewas di luar rumahnya di Tehran setelah sebuah bom yang ditempatkan di bawah sepeda motor meledak.

Dr. Majid Shahriari, seorang ahli fisika nuklir terkemuka Iran, juga menjadi korban pada tahun yang sama.

Ia ditembak oleh dua orang yang naik motor saat sedang dalam perjalanan dengan istri dan anak-anaknya.

Pada tahun 2011, Dr. Darioush Rezaeinejad, seorang ahli elektronika yang bekerja pada program nuklir Iran, ditembak mati di depan istri dan putranya saat sedang dalam perjalanan pulang kerja.

Tidak ada kelompok atau negara yang pernah secara resmi mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan tersebut.

Namun, pola serangan yang presisi dan target yang dipilih membuat dunia mengarah pada Mossad sebagai pelaku yang paling mungkin.

Mossad juga diduga melakukan sabotase terhadap bahan dan peralatan yang digunakan dalam program nuklir Iran.

Beberapa pengiriman peralatan penting dilaporkan mengalami kerusakan misterius atau hilang dalam perjalanan.

Selain itu, Mossad dipercaya telah menyusup ke dalam jaringan pekerja yang terlibat dalam program nuklir Iran.

Mereka merekrut orang dalam untuk memberikan informasi atau melakukan tindakan yang dapat merusak proses kerja.

Operasi terhadap program nuklir Iran juga melibatkan penggunaan identitas samaran dan paspor palsu.

Agen Mossad menyamar sebagai pedagang, teknisi, atau ahli bidang tertentu untuk memasuki Iran atau negara lain yang terkait dengan program tersebut.

Iran telah beberapa kali mengumumkan bahwa mereka akan mengambil tindakan balas terhadap pembunuhan ilmuwan nuklir dan sabotase program mereka.

Namun, hingga saat ini tidak ada tindakan balas yang jelas yang dapat dikaitkan langsung dengan Mossad.

Upaya Mossad untuk menghambat program nuklir Iran telah menyebabkan ketegangan yang semakin tinggi antara kedua negara.

Hal ini juga telah menarik perhatian dunia internasional yang khawatir akan munculnya konflik militer yang lebih besar di wilayah Timur Tengah.

Dari operasi Stuxnet hingga pembunuhan ilmuwan nuklir, Mossad telah menunjukkan bahwa mereka bersedia menggunakan segala cara yang diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dianggap serius bagi keamanan Israel.

Dampak dari operasi ini terus terasa dalam dinamika geopolitik Timur Tengah hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *