Sepotong Roti, Secangkir Rindu, dan Jiwa yang Pasrah

Oleh: Rikardus A. Bere

CERPEN46 Dilihat

Sepotong Roti, Secangkir Rindu, dan Jiwa yang PasrahDi pinggir Haliwen, Septio menatap cakrawala yang perlahan menggelap oleh bayang-bayang bukit.

Angin senja berembus membawa aroma debu jalanan yang menyengat di tenggorokan.

Ia mengepit sepotong roti manis di jemarinya yang mulai bergetar pelan.

Tekstur roti itu terasa dingin, seolah ikut membeku bersama sisa-sisa kenangan masa lalu.

Septio mengingat betapa sederhananya kebahagiaan yang dulu pernah mereka bagi di bawah pohon sukun ini.

Namun kini, kehangatan itu tinggal jejak samar yang hampir terhapus waktu.

Ia mematahkan roti tersebut menjadi dua bagian yang tak sama besar.

Satu bagian disimpannya dengan hati-hati ke dalam kantong kemeja yang lusuh.

Sebagian lagi dibbiarkannya tergeletak di atas meja kayu yang mulai lapuk.

Stefania  melangkah perlahan menuju bangku di sudut kedai kecil itu.

Matanya menyimpan kesedihan yang tak pernah benar-benar selesai dibicarakan.

Di genggamannya, sebuah cangkir seng berisi teh hangat yang mengepulkan asap tipis.

Rindu itu mengendap di dasar cangkir seperti ampas yang enggan larut oleh adukan jemari.

Stefania menghirup aromanya hangat-hangat, mencari sedikit penghiburan untuk hatinya yang terluka.

Setiap regukan terasa pahit, menyuarakan jarak yang tak pernah berhasil mereka jembatani.

Ia meletakkan cangkir itu tepat di samping potongan roti milik Septio.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya yang pucat dan bergetar.

Haliwen seketika hening, diselimuti derit jangkrik yang mulai bersahut-sahutan.

Septio memandangi Stefania dengan tatapan mata seorang musafir yang kehilangan jalan pulang.

Ada begitu banyak alasan untuk bertahan, namun lebih banyak alibi untuk menyerah.

Ia tahu bahwa batas di antara mereka bukan lagi soal jarak tempat, melainkan takdir.

Dunia di luar sana terus bergerak riuh, tetapi di meja kecil ini waktu seolah berhenti meletup.

Keheningan itu menuntut jawaban yang tak pernah disanggupi oleh logika manusia.

Septio hanya mendesah pelan, membiarkan dadanya sesak oleh penyesalan.

Ia mengulurkan tangan, menyentuh tepi cangkir hangat yang baru saja diletakkan Stefania.

Kehangatan singkat itu merambat ke jarinya, namun gagal melelehkan kebekuan di dadanya.

Segala impian yang pernah dirajut kini terasa begitu jauh dan mengawang.

Stefania menatap jemari Septio yang bergemetar di atas kayu meja yang berdebu.

Ada kepasrahan yang mendalam terukir di lekuk wajah lelaki yang pernah sangat dicintainya itu.

Jiwa mereka seperti dua perahu yang terombang-ambing di muara yang tenang namun mematikan.

Mereka telah lelah bertarung melawan garis yang tak pernah bisa disatukan oleh waktu.

Keikhlasan perlahan menyusup, menggantikan amarah dan kekecewaan yang berbulan-bulan membakar.

Jiwa yang pasrah tak lagi menuntut keadilan dari langit yang membisu.

Stefania mengangguk pelan, sebuah isyarat perlambang penerimaan atas kenyataan yang pahit ini.

Ia menarik napas panjang, meresapi keheningan Haliwen yang terasa semakin pekat.

Tidak ada lagi ganjalan yang perlu diperdebatkan di antara sisa rindu mereka.

Malam akhirnya jatuh sepenuhnya di atas tanah Haliwen, menutupi bukit-bukit dengan selimut kegelapan.

Septio mengambil kembali potongan roti manisnya tanpa ada niat untuk mengunyahnya.

Ia membiarkan roti itu menjadi saksi bisu atas ikatan yang resmi terputus.

Stefania meneguk sisa rindu di cangkirnya hingga tak ada lagi yang tersisa selain kenangan.

Rasa hangat itu kini menguap, meninggalkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Ia berdiri perlahan, bersiap membelakangi lelaki yang dulu menjadi pusat dunianya.

Tak ada kata perpisahan yang puitis atau jeritan tangis yang memecah malam senyap itu.

Mereka saling melepas bukan karena benci, melainkan karena batas kemanusiaan telah tercapai.

Pasrah menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan sisa-sisa kedamaian di hati.

Septio membiarkan langkah kaki Stefania menjauh dan perlahan menghilang di balik kegelapan jalan.

Bayangan perempuan itu menyatu sempurna dengan malam Haliwen yang sunyi dan dingin.

Ia tidak berbalik, hanya terus menatap lurus ke arah kegelapan yang membentang.

Sepotong roti yang tersisa di atas meja kini terasa seperti monumen kecil dari perjumpaan terakhir.

Secangkir rindu telah purna ditunaikan dalam keheningan yang serba tidak sempurna.

Dan jiwa yang pasrah akhirnya menemukan rumahnya di tengah ketidakpastian dunia.

Haliwen menyerap seluruh kisah itu tanpa menyisakan jejak selain desir angin malam yang berembus pelan.

Dua insan itu kini menempuh jalan masing-masing dengan hati yang telah dikosongkan.

Di bawah langit yang sama, mereka belajar merayakan kehilangan dengan cara yang paling sunyi.

Catatan: Rikardus A. Bere adalah pelajar di SMA Terpadu HTM Halilulik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *