Santri Tak Cukup Jadi Pengguna AI, Gibran Tekankan Berpikir Kritis dan Etika Digital di PP Dalwa

BERITA, PENDIDIKAN8 Dilihat

Santri Tak Cukup Jadi Pengguna AI, Gibran Tekankan Berpikir Kritis dan Etika Digital di PP DalwaPASURUAN, GRANDISMA.COM – Penguasaan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dipersiapkan generasi muda, termasuk para santri.

Pesan tersebut mengemuka saat Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau pelatihan AI dan robotik di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (PP Dalwa), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Gibran menegaskan pentingnya membekali santri dengan pola pikir kritis, kemampuan berpikir komputasional, dan keterampilan memecahkan masalah.

Menurutnya, santri perlu memiliki kemampuan untuk memahami teknologi dan mengambil peran aktif dalam perkembangannya, bukan sekadar menjadi pengguna.

Kemampuan menggunakan AI tidak hanya berkaitan dengan kecakapan mengoperasikan aplikasi.

Pengguna juga perlu memahami cara menyusun pertanyaan, mengevaluasi jawaban, memeriksa sumber informasi, serta mengenali kemungkinan kesalahan atau bias dalam hasil yang dihasilkan sistem.

Bagi lingkungan pendidikan, kemampuan berpikir kritis menjadi penting karena jawaban AI tidak selalu benar dan tidak dapat menggantikan seluruh proses pembelajaran.

Santri tetap perlu membaca sumber tepercaya, berdiskusi dengan guru, dan menggunakan penalaran sendiri sebelum menerima suatu informasi sebagai fakta.

Gibran turut mengapresiasi inovasi berbasis coding yang dikembangkan para santri selama pelatihan.

Kegiatan tersebut membuka ruang bagi peserta untuk mempelajari bagaimana instruksi komputer disusun dan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menghasilkan solusi terhadap persoalan tertentu.

Selain keterampilan santri, Wapres menyoroti perlunya peningkatan kapasitas tenaga pengajar.

Guru memiliki peran strategis dalam membimbing penggunaan teknologi di kelas, menyusun metode pembelajaran yang relevan, dan memastikan bahwa pemanfaatan AI tidak menghilangkan proses berpikir mandiri.

Tantangan lainnya adalah etika digital. Penggunaan AI perlu memperhatikan privasi, keamanan data, hak cipta, kejujuran akademik, serta tanggung jawab terhadap informasi yang disebarkan. Santri perlu memahami bahwa kemudahan teknologi tidak menghapus kewajiban untuk menjaga integritas dan menghormati hak orang lain.

Dalam pendidikan pesantren, penguasaan teknologi juga dapat dipadukan dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai keagamaan.

Kecakapan digital diharapkan menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan produktivitas, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Meski demikian, pembelajaran AI tidak cukup hanya mengandalkan pelatihan sesaat.

Dibutuhkan kurikulum yang sesuai, pendampingan berkelanjutan, perangkat yang memadai, serta peningkatan kompetensi guru agar santri memiliki kesempatan belajar yang setara dan dapat menerapkan pengetahuannya dalam situasi nyata.

Kunjungan Gibran ke PP Dalwa sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Santri yang menguasai teknologi, berpikir kritis, dan menjaga etika berpeluang menjadi bagian penting dari generasi yang membangun masa depan digital Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *