KUPANG, GRANDISMA.COM – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, mengeluarkan imbauan tegas terkait pola belajar siswa di era digital saat mengunjungi SMA Negeri 9 Kupang, Senin (27/4/2026).
Ia menekankan pentingnya penguasaan literasi dan keterampilan bahasa asing di tengah kepungan gangguan teknologi.
Dalam arahannya, Wagub Johni meminta para siswa untuk membatasi penggunaan telepon genggam (smartphone) di lingkungan sekolah.
Secara spesifik, ia menyarankan agar perangkat komunikasi tersebut tidak dibawa masuk ke dalam kelas agar konsentrasi siswa dalam menyerap materi pelajaran tetap terjaga maksimal.
Menurutnya, kecanduan media sosial dapat merusak pola pikir kritis dan membuat siswa kehilangan fokus pada prioritas pendidikan.
Ia mengajak generasi muda NTT untuk kembali kepada budaya membaca buku secara rutin setiap hari untuk melatih cara berpikir yang metodis dan sistematis.
Pesan krusial lainnya yang disampaikan adalah kewajiban mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional.
Wagub mendorong siswa untuk mulai membiasakan diri membaca literatur atau menonton berita berbahasa Inggris secara konsisten walaupun hanya dalam durasi singkat setiap harinya.
Ia menjelaskan bahwa di dunia kerja masa depan, kemampuan bahasa Inggris bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat mutlak untuk bersaing. Dengan menguasai bahasa asing, pemuda NTT akan memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi dan peluang karier di tingkat global.
Wagub juga menyoroti peran penting literasi dalam melatih kemampuan analisis siswa terhadap fenomena sosial. Membaca setiap hari disebutnya akan membantu siswa menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menyaring informasi hoaks yang banyak beredar di dunia maya.
Dalam kunjungan tersebut, Wagub didampingi Plt. Kepala Biro Administrasi Pimpinan Lery Rupidara yang turut menyaksikan antusiasme siswa saat diberikan kuis interaktif.
Kuis ini dirancang untuk memacu kecepatan berpikir dan keberanian siswa dalam mengutarakan pendapat di depan publik.
Wagub juga mengingatkan agar siswa tidak menjadi generasi yang manja oleh fasilitas teknologi. Ia menekankan bahwa kecerdasan sejati didapat dari proses belajar yang mendalam (deep learning), bukan sekadar mencari jawaban instan melalui mesin pencari di internet.
Para pengajar di SMAN 9 Kupang diminta untuk lebih ketat dalam mengawasi penggunaan gadget saat jam pelajaran berlangsung. Sinergi antara guru dan orang tua di rumah juga sangat diperlukan untuk mengontrol pola konsumsi digital anak agar tetap produktif dan edukatif.
Dorongan untuk belajar bahasa Inggris ini disambut positif oleh jajaran Dinas Pendidikan NTT yang hadir dalam kunjungan tersebut. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah provinsi untuk menciptakan sumber daya manusia yang berwawasan internasional tanpa meninggalkan identitas lokal.
Wagub Johni percaya bahwa jika siswa NTT rajin membaca dan mahir berbahasa Inggris, mereka tidak akan kalah saing dengan siswa dari daerah lain di Indonesia maupun luar negeri. Kemampuan komunikasi adalah kunci pembuka pintu-pintu kesempatan yang ada di depan mata.
Menutup arahannya, Wagub berpesan agar setiap langkah perjuangan siswa diniatkan sebagai bentuk balas budi kepada orang tua. Dengan belajar sungguh-sungguh dan berprestasi, para siswa telah memberikan kebanggaan terbesar bagi keluarga serta kontribusi nyata bagi pembangunan Nusa Tenggara Timur.




