YERUSALEM, GRANDISMA.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan penolakannya terhadap pembentukan pemerintahan yang bergantung pada dukungan partai-partai Arab setelah pemilu parlemen Israel, Selasa (27/10/2026).
Meski hasil hitung cepat belum menunjukkan pemenang yang meyakinkan, Netanyahu tetap mendorong pembentukan pemerintahan nasionalis sayap kanan.
Dalam pidatonya di hadapan pendukung Partai Likud di Yerusalem pada Rabu dini hari, Netanyahu menyatakan bahwa partainya merupakan kekuatan politik terbesar dalam pemilu tersebut.
Ia mengatakan penghitungan suara masih berlangsung, tetapi menegaskan bahwa Israel membutuhkan pemerintahan yang kuat dan berhaluan kanan.
“Kita membutuhkan pemerintahan sayap kanan, nasionalis, dan kuat,” ujar Netanyahu, 27 September 2026.
Ia juga menolak kemungkinan terbentuknya pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab yang disebutnya berseberangan dengan ideologi Zionisme.
Netanyahu bahkan memperingatkan bahwa Israel tidak boleh mempertaruhkan keamanan negara dengan membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab yang dianggapnya anti-Zionis.
Pernyataan tersebut kembali menempatkan hubungan dengan warga Arab Israel sebagai salah satu persoalan penting dalam perebutan kekuasaan politik di negara itu.
Hasil exit poll dari sejumlah stasiun televisi Israel memperlihatkan Partai Likud memperoleh kursi terbanyak sebagai partai tunggal.
Namun, proyeksi perolehan kursi blok pendukung Netanyahu dan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot masih berdekatan.
Kedua kubu belum menunjukkan jalur yang mudah untuk mengamankan sedikitnya 61 kursi dari total 120 kursi Knesset.
Situasi tersebut membuat partai-partai kecil, termasuk partai yang mewakili warga Arab Israel, berpotensi menentukan arah pembentukan pemerintahan berikutnya.
Meski demikian, kerja sama politik masih menghadapi hambatan karena sejumlah pemimpin kubu utama sebelumnya menyatakan keberatan untuk membentuk koalisi bersama partai-partai Arab.
Dalam pidatonya, Netanyahu juga menyinggung Iran dan menyebut Israel memiliki peluang bersejarah bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghadapi ancaman yang ditimbulkan Teheran.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa isu keamanan nasional dan kebijakan luar negeri tetap menjadi bagian utama dari pesan politik Netanyahu setelah pemungutan suara.
Pemilu kali ini berlangsung di tengah perdebatan mengenai kepemimpinan Netanyahu, dampak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, konflik regional, serta arah kebijakan keamanan Israel.
Tingkat partisipasi pemilih mencapai sekitar 77,7 persen, tertinggi dalam lebih dari dua dekade menurut laporan media internasional.
Dengan belum adanya kepastian mayoritas, Netanyahu masih harus menghadapi proses negosiasi politik yang berpotensi panjang.
Hasil akhir penghitungan suara dan kemampuan masing-masing kubu membangun dukungan di parlemen akan menentukan apakah Netanyahu dapat mempertahankan kekuasaan atau Israel harus menghadapi kebuntuan politik baru.






