KUPANG, GRANDISMA.COM – Perubahan iklim global dan ancaman krisis lingkungan semakin nyata memberikan dampak langsung terhadap ketahanan pangan serta keseimbangan ekosistem di kawasan kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Merespons tantangan geografis yang kompleks tersebut, Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (UNDANA) menggelar Seminar Nasional Pendidikan Geografi 2026 yang berlangsung di Aula Pascasarjana UNDANA, Kupang, pada Rabu (14/10/2026).
Kegiatan akademik bergengsi ini mengusung tema “Transformasi Pendidikan Geografi di Era Perubahan Iklim dan Krisis Lingkungan untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Pembangunan Berkelanjutan.”
Forum strategis tersebut dirancang untuk mengaitkan keilmuan geografi dengan penyelesaian masalah nyata di lapangan, mulai dari ancaman kekeringan, degradasi lahan, hingga kesenjangan pembangunan antarwilayah di NTT.
Acara dibuka secara resmi melalui sambutan Dekan FKIP UNDANA, Prof. Dr. Malkisedek Taneo, M.Si., yang menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam melahirkan solusi konkret bagi daerah.
Diskusi ini mempertemukan ratusan peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa strata satu hingga pascasarjana, serta para guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi dari berbagai wilayah di NTT.
Guna membedah persoalan secara komprehensif, panitia menghadirkan tiga pakar terkemuka sebagai narasumber utama.
Ketiganya yakni Pakar Iklim dan Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng.; Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT, Sulastri H. I. Rasyid, S.Pi., M.Si.; serta akademisi Pendidikan Geografi UNDANA, Dr. Defritus A. Punuf, S.Si., M.Sc.
Dalam pemaparannya, para narasumber menggarisbawahi bahwa karakteristik geografi NTT yang didominasi bentang alam lahan kering membutuhkan pendekatan sains terapan yang presisi.
Integrasi teknologi geospasial seperti Sistem Informasi Geografis (SIG), penginderaan jauh (remote sensing), hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence) dinilai menjadi kunci utama dalam memetakan potensi air tanah serta kesuburan lahan secara terukur.
Persoalan ketahanan pangan menjadi isu sentral yang menyita perhatian para peserta seminar.
Pendekatan geospasial terbukti mampu mengidentifikasi pola curah hujan yang terus berubah, mendeteksi kerentanan tanaman pangan, serta merumuskan strategi distribusi logistik antar-pulau agar lebih efisien di tengah cuaca ekstrem.
Selain aspek ketahanan pangan, transformasi kurikulum pendidikan geografi di tingkat sekolah menengah juga disorot secara tajam.
Keterlibatan para guru yang tergabung dalam MGMP Geografi dinilai sangat vital untuk membumikan konsep-konsep literasi iklim dan mitigasi bencana hidrometeorologi kepada para siswa di dalam kelas secara kontekstual.
Melalui materi pembelajaran yang dihubungkan langsung dengan fenomena lokal, seperti krisis air bersih dan perubahan fungsi lahan, generasi muda di NTT diharapkan tidak hanya memahami teori geografi secara analitis, tetapi juga memiliki kepekaan ekologis untuk merespons risiko bencana di lingkungan tempat tinggal mereka.
Sesi paralel dan diskusi interaktif yang diselenggarakan seusai pemaparan utama turut membuka ruang bagi mahasiswa dan peneliti muda untuk mempresentasikan hasil riset lapangan mereka.
Berbagai subtema menarik dipaparkan, mencakup pengelolaan wilayah pesisir, pemukiman berkelanjutan, hingga inovasi pembelajaran geografi berbasis digital.
Inisiatif ini sejalan dengan visi “UNDANA Berdampak” serta komitmen institusi untuk berorientasi World Class Locally Relevant.
Melalui kerangka kerja ini, reputasi akademik internasional dibangun tanpa melepas akar kebutuhan lokal masyarakat kepulauan.
Penyelenggaraan seminar ini diharapkan tidak berhenti sebagai selebrasi akademik semata, melainkan mampu merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat diserap oleh pemerintah daerah.
Pengetahuan ilmiah yang dihasilkan dari kampus harus ditransformasikan menjadi aksi nyata dalam pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana.
Dengan berakhirnya rangkaian seminar nasional ini, UNDANA kembali mempertegas posisinya sebagai pusat keunggulan sains terapan di kawasan perbatasan dan kepulauan.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pihak sekolah diharapkan terus berlanjut guna memastikan pembangunan di Nusa Tenggara Timur berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.





