BELU, GRANDISMA.COM – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Belu menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kesehatan para pengrajin tenun ikat lokal.
Langkah tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi puluhan ibu-ibu penenun yang berlangsung di Puskesmas Haliwen, Atambua, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini digagas sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi fisik para penenun yang menjadi pilar pelestarian budaya sekaligus penopang ekonomi keluarga.
Ketua Dekranasda Kabupaten Belu, Lidwina Viviawaty Ng Lay, memantau secara langsung alur pelayanan kesehatan, mulai dari meja pendaftaran, pemeriksaan fisik umum, hingga proses pendistribusian obat-obatan.
Dalam kunjungannya, wanita yang akrab disapa Bunda Vivi tersebut menegaskan bahwa pendampingan terhadap komunitas penenun tidak boleh berhenti pada aspek peningkatan keterampilan dan pemasaran produk semata.
Faktor kesehatan para pengrajin dinilai menjadi fondasi utama yang mendasari produktivitas mereka.
Pelayanan kesehatan yang dipusatkan di Puskesmas Haliwen ini berhasil menjangkau sekitar 30 penenun dari empat wilayah strategis, yakni Desa Sadi, Desa Umaklaran, Desa Kabuna, dan Kelurahan Manumutin.
Selain pemeriksaan kesehatan dasar, para peserta perempuan yang masuk dalam kategori usia produktif juga mendapatkan pelayanan IVA Test sebagai langkah deteksi dini kanker serviks.
Program intervensi ini dirancang untuk memberikan perlindungan kesehatan yang komprehensif bagi kelompok pekerja informal tersebut.
Berdasarkan hasil skrining medis awal yang dilakukan tim medis, sejumlah penenun teridentifikasi mengalami berbagai keluhan kesehatan serta faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM).
Beberapa gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan di antaranya tingginya tekanan darah (hipertensi), kadar asam urat yang melebihi batas normal, hingga gangguan ketajaman penglihatan.
Temuan ini menjadi alarm penting bagi efektivitas perlindungan keselamatan kerja para penenun.
Menanggapi hasil pemeriksaan tersebut, Bunda Vivi mengimbau para penenun untuk lebih ergonomis dan disiplin dalam mengatur pola kerja harian mereka.
Aktivitas menenun yang menuntut posisi duduk statis dalam durasi panjang berpotensi memicu masalah tulang belakang serta gangguan sirkulasi darah.
Ia menyarankan agar para mama penenun menyelingi aktivitas menenun dengan waktu istirahat yang cukup serta konsisten mengonsumsi obat sesuai instruksi medis.
Guna mengantisipasi penurunan fungsi penglihatan yang fatal, Dekranasda Belu mendorong para penenun yang mengeluhkan pandangan kabur untuk segera menjalani pemeriksaan mata tingkat lanjut.
Langkah deteksi dini terhadap potensi katarak dinilai sangat krusial mengingat ketajaman mata merupakan modal utama dalam merangkai motif tenun yang rumit.
Penanganan medis secara cepat diharapkan mampu mencegah penderitaan fisik yang lebih berat di masa mendatang.
Apresiasi mendalam disampaikan oleh Ketua TP PKK Kabupaten Belu ini kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, jajaran Puskesmas Haliwen, serta seluruh tenaga medis yang terlibat aktif dalam menyukseskan aksi sosial tersebut.
Pihaknya berharap kolaborasi lintas sektor ini dapat terus berlanjut secara konsisten dan memperluas jangkauan pelayanannya hingga ke seluruh pelosok kecamatan di Kabupaten Belu, sehingga seluruh pengrajin tenun mendapatkan akses kesehatan yang merata.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Haliwen, Vianey Maria Bitin Berek, M.Pharm., Apt., memastikan pihaknya akan menindaklanjuti temuan medis ini melalui mekanisme ‘jemput bola’ melalui program Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK).
Melalui Pos UKK, tim puskesmas akan rutin menyambangi kelompok-kelompok penenun secara berkala guna memantau perkembangan kesehatan serta efektivitas terapi obat secara berkelanjutan.
