MANUSIA PEMBURU RENTE

Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S.Fil

CERPEN7 Dilihat

Anak Itu Telah Tumbuh Menjadi Manusia Pemburu RenteRianha begitulah ia disapa. Ia terlahir dari keluarga sederhana yang hidup berkecukupan di sebuah kampung kecil, tempat orang-orang mengenal arti kerja keras, mengukur kebahagiaan dari makanan yang tersedia di meja makan, dan menerima hari esok tanpa harus menaklukkannya dengan segala cara.

Ayahnya telah lama pergi meninggalkan rumah, menyisakan ruang kosong dalam kehidupan keluarga yang kemudian diisi oleh ketabahan, penghematan, dan harapan bahwa suatu hari Rianha akan tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya berhasil memperbaiki nasibnya sendiri, tetapi juga memahami penderitaan orang-orang yang hidup dalam keterbatasan.

Pada masa kecilnya, Rianha pernah menjadi anak yang tahu bagaimana rasanya menghitung uang belanja, melihat ibunya menyembunyikan kecemasan di balik senyum, dan memahami bahwa kecukupan bukanlah perkara seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa jauh seseorang mampu merasa cukup tanpa harus mengambil bagian yang menjadi hak orang lain.

Waktu berjalan, Rianha tumbuh dewasa, menyelesaikan pendidikannya, dan akhirnya memperoleh jabatan pada sebuah instansi pemerintahan yang bertugas mengawasi serta mengontrol pelaksanaan kebijakan pemerintah, sebuah posisi yang menempatkannya di antara kewenangan, aturan, dan lembaga-lembaga yang harus memastikan bahwa kekuasaan tidak berjalan tanpa pengawasan.

Pada hari pelantikannya, ia mengenakan pakaian terbaik, berdiri dengan dada tegak di hadapan orang-orang yang memberikan ucapan selamat, sementara dalam benaknya terbayang kehidupan baru yang selama ini hanya dapat ia saksikan dari kejauhan melalui cerita orang-orang yang dianggap telah mencapai puncak keberhasilan.

Ia merasa telah melewati jalan panjang dari kesederhanaan menuju kehormatan, tetapi tidak menyadari bahwa jabatan yang diterimanya sesungguhnya bukan hanya tangga untuk menaikkan kedudukan, melainkan juga cermin yang kelak akan memperlihatkan siapa dirinya ketika kesempatan untuk menyalahgunakan kekuasaan terbuka lebar.

Pada awalnya, Rianha bekerja dengan wajah serius dan bahasa yang terdengar meyakinkan, berbicara tentang kepatuhan terhadap aturan, ketertiban administrasi, transparansi, serta pentingnya setiap instansi pemerintah menjalankan kebijakan secara bertanggung jawab.

Para bawahannya menghormati ketegasannya, sedangkan lembaga-lembaga yang berada dalam lingkup pengawasannya melihatnya sebagai pejabat yang tidak mudah berkompromi, seseorang yang konon lebih memilih aturan daripada kedekatan pribadi dan lebih mengutamakan kepentingan publik daripada keuntungan perseorangan.

Namun, sebagaimana karat yang tumbuh perlahan di balik lapisan besi yang tampak mengilap, perubahan dalam diri Rianha tidak dimulai dengan tindakan besar yang menggemparkan, melainkan melalui pembenaran-pembenaran kecil yang membuatnya merasa bahwa kewenangan yang dipercayakan kepadanya dapat digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadinya.

Ia mulai menyadari bahwa sebuah pemeriksaan dapat membuat pejabat lain gelisah, sebuah catatan evaluasi dapat mengganggu perjalanan program, dan sebuah rekomendasi yang tertahan dapat menjadi beban bagi pimpinan instansi yang sedang mengejar target kinerja.

Dari sana, ia belajar memainkan ketidakpastian, memperpanjang pembicaraan, membiarkan persoalan administratif menggantung, lalu memberikan isyarat-isyarat halus bahwa segala sesuatu dapat berjalan lebih lancar apabila hubungan di antara mereka dibangun dengan cara yang saling menguntungkan.

Rianha tidak pernah secara terbuka menyebut dirinya meminta uang, sebab ia lebih menyukai bahasa yang samar, percakapan di ruang tertutup, dan pertemuan yang meninggalkan cukup banyak ruang bagi orang lain untuk memahami ancaman tanpa harus mendengarnya dalam bentuk kalimat yang terang-terangan.

Satu demi satu instansi yang berada di bawah pengawasannya mulai merasakan perubahan suasana, ketika pengawasan yang seharusnya menjadi instrumen pembenahan justru terasa seperti bayangan yang dapat dijatuhkan kapan saja kepada siapa pun yang tidak bersedia memenuhi kepentingan tertentu.

Sebagian pejabat memilih diam karena takut program mereka terhambat, sebagian lainnya mencari jalan untuk menyenangkan Rianha demi menghindari persoalan yang mungkin membesar, sementara mereka yang mencoba bertahan pada aturan harus menghadapi tekanan yang membuat pekerjaan sehari-hari terasa seperti berjalan di atas tanah yang sewaktu-waktu dapat runtuh.

Di tengah keadaan itu, Rianha merasa dirinya semakin berkuasa, padahal yang sedang tumbuh bukanlah wibawa seorang pengawas kebijakan, melainkan ketakutan orang-orang yang mengetahui bahwa kewenangan publik dapat berubah menjadi alat pemerasan ketika hati pemegangnya tidak lagi mengenal batas.

Baginya, setiap instansi adalah pintu, setiap program adalah kemungkinan, setiap evaluasi adalah kesempatan, dan setiap pejabat yang membutuhkan kelancaran urusan adalah seseorang yang dapat dimasukkan ke dalam perhitungan keuntungan berikutnya.

Ia mulai menilai manusia berdasarkan manfaat yang dapat mereka berikan, bukan berdasarkan martabat yang mereka miliki, sehingga seorang pegawai yang jujur tampak tidak menarik baginya jika tidak membawa keuntungan, sementara orang yang pandai menyenangkan kepentingannya segera memperoleh tempat dalam lingkaran kepercayaan.

Dunia yang dahulu ia pahami melalui pengalaman hidup sederhana kini menyusut menjadi lembaran hitung-hitungan, tempat segala sesuatu memiliki nilai tukar dan tidak ada persoalan yang benar-benar menyentuh nuraninya selama masih tersedia jalan untuk mengubahnya menjadi rupiah.

Lama-kelamaan, nama Rianha semakin besar, disebut dalam berbagai pertemuan, dibicarakan di lorong-lorong kantor, dan diperhitungkan oleh mereka yang harus berhadapan dengan lembaga tempat ia bekerja.

Akan tetapi, kebesaran namanya berjalan seiring dengan kebesaran perutnya, yang semakin maju seolah-olah tubuhnya sedang membangun monumen bagi setiap keuntungan yang berhasil ia kumpulkan dari kecemasan orang lain, dari diamnya mereka yang tertekan, dan dari ketidakberdayaan mereka yang tidak mempunyai keberanian untuk melawan.

Ia menganggap perubahan itu sebagai tanda keberhasilan hidup, sebab dalam pikirannya, orang yang semakin kaya dan semakin ditakuti tentu sedang bergerak menuju kedudukan yang lebih tinggi, tanpa memahami bahwa ada perbedaan mendasar antara manusia yang dihormati karena integritasnya dan manusia yang dituruti karena orang lain takut menanggung akibat jika menolak kehendaknya.

Di rumah, Rianha mulai kehilangan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dahulu membuat kehidupannya terasa manusiawi, sebab makan malam berubah menjadi waktu untuk menjawab telepon, percakapan keluarga menjadi gangguan bagi pikirannya, dan pertanyaan tentang keadaan orang lain selalu terasa kurang penting dibandingkan kabar mengenai peluang baru yang dapat memperbesar penghasilannya.

Ia membeli barang-barang mahal, memperluas kenyamanan, dan mengatur kehidupan agar segala sesuatu tampak sempurna di mata tamu, tetapi tidak pernah benar-benar menyediakan waktu untuk bertanya apakah orang-orang yang tinggal bersamanya masih merasakan kehadirannya sebagai seorang ayah, suami, saudara, atau manusia yang dapat dipercaya.

Rumahnya semakin penuh oleh benda-benda yang bernilai tinggi, sementara ruang batinnya semakin kosong, seperti bangunan megah yang seluruh jendelanya diterangi lampu tetapi tidak lagi memiliki kehangatan bagi siapa pun yang datang membawa kesedihan.

Sesekali, ibunya mengingatkan Rianha bahwa kekuasaan adalah titipan dan bahwa jabatan tidak pernah menjadikan seseorang pemilik atas kehidupan orang lain, melainkan menambah tanggung jawabnya terhadap mereka yang menggantungkan harapan pada pelayanan negara.

Rianha mendengarkan nasihat itu dengan wajah yang tampak tenang, lalu menjawab bahwa ibunya tidak memahami kerasnya persaingan zaman sekarang, bahwa orang harus pandai membaca peluang, dan bahwa segala sesuatu membutuhkan biaya jika seseorang ingin hidup nyaman serta dihormati.

Ia tidak menyadari bahwa dalam kalimat-kalimat pembelaan itu, ia sedang mengubah kesederhanaan masa lalunya menjadi alasan untuk membenarkan keserakahan masa kini, seolah-olah pengalaman pernah hidup berkecukupan adalah utang yang harus dibayar dengan mengumpulkan sebanyak mungkin harta, sekalipun caranya merusak kehidupan orang lain.

Di antara para pegawai yang mengenal Rianha, ada seorang staf muda yang pernah datang menyampaikan keberatan mengenai praktik tekanan terhadap beberapa instansi, dengan harapan bahwa seseorang yang memegang fungsi pengawasan masih dapat diajak kembali kepada tujuan awal keberadaan lembaga tersebut.

Staf itu berbicara tentang pelayanan publik, tentang anggaran yang berasal dari uang rakyat, dan tentang masyarakat kecil yang akhirnya harus menanggung akibat ketika pejabat lebih sibuk mengamankan kepentingan pribadi daripada memperbaiki kebijakan yang bermasalah.

Rianha menatapnya cukup lama sebelum menjawab bahwa dunia tidak berjalan hanya dengan idealisme, lalu menyuruhnya kembali bekerja, tanpa menyadari bahwa anak muda itu baru saja mengucapkan sesuatu yang telah lama ia kubur: bahwa jabatan publik kehilangan maknanya ketika kepentingan orang banyak dikorbankan demi kenyamanan segelintir orang.

Sejak percakapan itu, kegelisahan mulai datang pada waktu-waktu yang tidak dapat ia atur, terutama ketika malam telah larut dan kesibukan yang biasanya menutupi pikirannya perlahan menghilang bersama suara telepon yang berhenti berdering.

Ia teringat kepada ayahnya yang telah lama pergi, kepada ibunya yang dahulu mengajarkan kejujuran tanpa pernah menyebutnya sebagai teori moral, dan kepada dirinya sendiri ketika masih muda, saat ia pernah percaya bahwa keberhasilan adalah kemampuan untuk mengangkat kehidupan keluarga tanpa kehilangan rasa hormat terhadap orang-orang yang berjalan di sampingnya.

Kenangan-kenangan itu muncul seperti tamu yang tidak diundang, mengusik ketenangan yang selama ini ia beli dengan kenyamanan materi, tetapi Rianha segera menyingkirkannya dengan membuka laporan keuangan, menghubungi kenalan, atau mencari persoalan baru yang dapat membuatnya kembali sibuk.

Ada sesuatu yang busuk mulai tumbuh di kepalanya, bukan kebusukan yang dapat terlihat dari luar atau terdeteksi melalui pemeriksaan kesehatan, melainkan pembusukan pikiran yang membuat kebohongan terasa wajar, tekanan dianggap strategi, dan penderitaan orang lain diperlakukan sebagai biaya yang pantas dibayar demi keuntungan pribadi.

Kebusukan itu menjalar sampai ke hatinya yang semakin keropos dan mengecil, menyisakan sedikit sekali ruang bagi belas kasih, rasa malu, dan kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian di dunia ini.

Ia masih dapat berbicara dengan fasih tentang peraturan, mengutip nilai-nilai pemerintahan yang baik, bahkan menghadiri kegiatan keagamaan dengan pakaian yang rapi, tetapi semua itu semakin menyerupai kulit luar sebuah buah yang tampak segar sementara bagian dalamnya perlahan kehilangan kehidupan.

Suatu hari, kabar mengenai dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam lingkup pengawasannya mulai menjadi pembicaraan yang lebih luas, dan sejumlah pihak yang selama ini memilih diam mulai berani menyampaikan pengalaman mereka kepada orang-orang yang bersedia mendengarkan.

Rianha menjadi gelisah bukan terutama karena membayangkan kerugian masyarakat atau rusaknya kepercayaan publik, melainkan karena takut kehilangan jabatan, penghasilan, jaringan, dan kemewahan yang telah membuatnya merasa berbeda dari orang-orang yang dahulu hidup bersamanya dalam kesederhanaan.

Ia segera mencari cara untuk menyelamatkan kedudukannya, menyusun penjelasan, menghubungi orang-orang berpengaruh, dan menghitung siapa yang masih dapat membantunya, sementara pertanyaan paling mendasar, berapa banyak kehidupan yang telah ia persulit demi memperkaya dirinya, tetap ia hindari dengan ketekunan yang hampir menyerupai keberanian.

Dalam kesendiriannya, Rianha akhirnya berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat diselesaikan melalui uang, kedekatan, ataupun permainan kewenangan, yakni bahwa seseorang dapat menguasai banyak pintu di luar dirinya tetapi kehilangan jalan menuju hati nuraninya sendiri.

Ia mulai memahami bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan rasa cukup, jabatan tidak otomatis melahirkan kehormatan, dan kemampuan menekan orang lain bukanlah bukti kekuatan, sebab manusia yang harus terus-menerus membuat orang lain takut sesungguhnya sedang menunjukkan betapa rapuhnya fondasi yang menopang dirinya.

Namun, kesadaran yang datang terlambat tidak serta-merta menghapus kesalahan, sehingga jika ia sungguh ingin kembali menjadi manusia, ia harus berani mempertanggungjawabkan tindakannya, berhenti menggunakan kewenangan sebagai alat mencari rente, dan menerima bahwa kepercayaan publik tidak dapat dibeli dengan pencitraan atau sumbangan sesekali.

Pada akhirnya, kisah Rianha bukan semata-mata kisah seorang pejabat yang tergoda uang, melainkan kisah tentang manusia yang lupa bahwa kecukupan ekonomi seharusnya membantu kehidupan menjadi lebih bermartabat, bukan menjadi alasan untuk menghisap martabat orang lain.

Ia telah membesarkan nama, memperbesar perut, dan mengumpulkan keuntungan dari jabatan yang dipercayakan kepadanya, tetapi di tengah semua pencapaian itu, sesuatu yang jauh lebih berharga justru menyusut: rasa kebersamaan, ketulusan, keberanian moral, dan ruang spiritual yang membuat seseorang mampu melihat sesamanya sebagai manusia, bukan sebagai sumber pemasukan.

Sebab rente mungkin dapat memperkaya seseorang secara ekonomis, tetapi ketika kepentingan pribadi menjadi satu-satunya ukuran kehidupan, manusia sesungguhnya sedang membangun istana bagi tubuhnya sambil meruntuhkan rumah bagi jiwanya sendiri, hingga suatu hari ia mendapati bahwa yang paling miskin dalam dirinya bukanlah rekening yang mungkin berkurang, melainkan hati yang telah kehilangan kemampuan untuk merasa bersama manusia lain.

Pesan moral: Kekayaan bukanlah musuh kemanusiaan, dan jabatan bukanlah dosa selama keduanya digunakan dengan tanggung jawab; yang merusak manusia adalah keserakahan yang mengubah kewenangan menjadi alat pemerasan dan sesama menjadi sumber rente.

Ketika seseorang hanya mengejar kecukupan ekonomis tanpa solidaritas, ketulusan, dan tanggung jawab moral, ia mungkin tumbuh besar dalam nama dan harta, tetapi mengecil dalam hati, mengering secara spiritual, dan akhirnya kehilangan makna dari keberhasilan yang selama ini dibanggakannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *