Di atas bukit Dinleo, angin sabana berembus membawa aroma rumput kering yang terbakar matahari pertengahan tahun.
Michael berdiri di tepi tebing, membiarkan jubah pikirannya berkibar mengikut arah angin yang tak bertepi.
Di tempat yang sehening ini, ia selalu merasa bahwasanya manusia hanyalah peziarah yang merindukan rumah tanah asalnya.
Ia datang untuk mencari jejak-jejak sabda yang mungkin tercecer di antara batu-batu kapur tua.
Jarak dan waktu seolah melipat diri, menyatukan keheningan Dinleo dengan pencarian jiwanya yang paling sunyi.
Setiap helaan napas di bukit itu menyuarakan misteri yang tak pernah selesai diterjemahkan oleh kata-kata.
Dari kejauhan, langkah kaki yang samar memecah kesunyian padang yang membisu.
Misel berjalan melintasi jalan setapak, membawa kesederhanaan yang melumpuhkan segala kesombongan akal budi.
Kehadirannya di bukit itu bagaikan cahaya fajar yang menyusup perlahan di sela-sela kegelapan malam.
Kedua insan itu saling bertatap dalam keterpukauan yang tak terucapkan oleh bahasa lisan.
Ada bahasa lain yang sedang bekerja, sebuah bahasa batin yang hanya dipahami oleh jiwa-jiwa yang haus akan kedalaman.
Di Dinleo, takdir seperti sedang merajut kembali benang-benang eksistensi yang sempat terputus.
“Apakah engkau juga mendengar apa yang dituturkan oleh padang ini?” tanya Misel seraya menatap batas horison yang membiru.
Suaranya terdengar begitu lembut, bergetar bersama desir daun-daun ilalang yang menari rapuh.
Michael hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa jawaban terdalam sering kali bermukim dalam diam.
Angin sabana menyapu wajah mereka, membawa serta gema kenangan yang tak bermula dan tak berujung.
Ada kerinduan yang amat sangat, sebuah nostalgia akan keabadian yang tersembunyi di balik fana.
Di bukit Dinleo ini, misteri kasih ilahi dan cinta manusia seperti menemukan muara yang sama.
Misel duduk di atas sebuah batu kapur besar, membiarkan jemarinya menyentuh tanah yang bertahun-tahun merawat keheningan.
Ia tahu bahwa kedatangannya ke tempat ini bukanlah sebuah kebetulan yang tanpa makna.
Ada panggilan rahasia yang telah membimbing langkah kakinya hingga tiba di puncak bukit yang sunyi ini.
Michael melangkah mendekat, menjaga jarak yang sakral agar keheningan di antara mereka tetap terjaga murni.
Bagi Michael, wajah Misel adalah sebuah teks kehidupan yang sarat akan warta penderitaan sekaligus pengharapan.
Dalam wujud yang fana itu, ia melihat bayangan keindahan abadi yang tak tersentuh oleh kebusukan dunia.
“Di tempat yang sepi ini, nama kita seperti ditulis ulang oleh tangan yang tak terlihat,” bisik Michael dengan nada penuh puitis.
Kata-katanya terlontar bagaikan doa sore yang diucapkan di altar gereja tua yang terpencil.
Misel tersenyum nipis, menyadari betapa dalamnya wawasan batin pria yang berada di sampingnya itu.
Kehidupan manusia sering kali penuh dengan kegelisahan dan percarian yang tak kunjung menemukan muara akhir.
Namun di padang Dinleo, dalam dekapan angin sabana yang dingin, kegelisahan itu berangsur-angsur luluh menjadi kedamaian.
Mereka belajar menyerahkan seluruh kecemasan pada keheningan raya yang mengelilingi jiwa mereka.
Angin sabana bertiup semakin kencang, membisikkan sebuah nama yang bergetar di dalam relung dada Misel.
Nama itu bukan sekadar deretan huruf, melainkan sebuah panggilan eksistensial untuk mencintai tanpa syarat.
Ia memejamkan mata, membiarkan bisikan rahasia itu meresap hingga ke sumsum tulangnya yang terdalam.
Michael menyaksikan peristiwa batin itu dengan takjub, seolah ia sedang menghadiri sebuah perayaan sakramental yang maha kudus.
Rahmat bekerja secara tersembunyi, melampaui segala dogma dan rumusan teologi yang kaku.
Di sini, di atas tanah Dinleo, cinta mengatasi segala keterbatasan bahasa dan pemikiran manusia.
Matahari mulai condong ke barat, melukis warna keemasan yang melapisi seluruh padang sabana yang luas.
Cahaya senja itu membiaskan keindahan yang melankolis, mengingatkan mereka akan kesementaraan hidup di dunia.
Namun di balik kesementaraan itu, menyala sebuah pengharapan yang tak akan pernah padam oleh malam.
Misel menatap Michael kembali dengan mata yang berkaca-kaca oleh rasa haru yang mendalam.
“Engkau adalah musafir yang dikirim untuk mengingatkan aku pada rahasia keheningan ini,” ucapnya tulus.
Michael tersenyum, menyadari bahwa perjalanan jiwa mereka baru saja dimulai di bukit ini.
Mereka berdua menyadari bahwa cinta bukanlah kepemilikan yang egois, melainkan sebuah penyerahan diri yang tuntas.
Dalam keterbukaan jiwa, mereka saling menerima kelemahan dan keindahan yang melekat pada diri masing-masing.
Bukit Dinleo menjadi saksi bisu bagi janji tak tertulis yang terikat kuat di dalam roh.
Bayang-bayang malam mulai merayap naik dari lembah, membungkus bukit dalam selimut kegelapan yang tenang.
Bintang pertama mulai menyala di langit timur, menjadi pelita kecil bagi dua jiwa yang sedang berziarah.
Tak ada ketakutan akan kegelapan, sebab hati mereka telah dinyalakan oleh api kasih yang sejati.
Angin sabana terus membisikkan nama itu, membawa pesannya melintasi bukit-bukit dan lembah-lembah yang jauh.
Nama yang dipanggil adalah identitas sejati mereka yang tersembunyi di dalam rahim keabadian Allah.
Michael dan Misel melangkah turun dari puncak Dinleo dengan keheningan yang kini bertakhta di jiwa.
Ketika angin sabana membisikkan namamu, tak ada lagi alasan untuk meragukan arah jalan pulang.
Mereka berjalan berdampingan menembus malam, membawa terang kecil yang akan menyinari setiap langkah di dunia.
Di Dinleo, mereka telah menemukan kembali kedalaman diri yang selama ini hilang dalam kebisingan.
Catatan: Â Bonifasius Septio Berek adalah pelajar di SMA Terpadu HTM Halilulik




