BELU, GRANDISMA.COM – Perintah Kabupaten Belu resmi menggelar Diklat Pengembangan Karir Pendidikan dan Tenaga Kependidikan guna memperkuat kemampuan logika dasar guru kelas awal di Aula Hotel Timor, Atambua, Senin (5/10).
Pelatihan ini memfokuskan pada penguasaan metode pengajaran literasi dan numerasi yang aplikatif bagi murid sekolah dasar.
​Kegiatan strategis ini menghadirkan jajaran akademisi terkemuka dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Kehadiran jajaran pakar tersebut ditujukan untuk memberikan pendampingan metodologis secara komprehensif, sekaligus mentransfer pendekatan sains dan matematika terkini kepada para guru di wilayah perbatasan RI-Timor Leste.
​Di antara jajaran akademisi yang hadir yakni Prof. Dr. Ferdy S. Rondonuwu selaku Wakil Rektor Bidang Pengajaran, Akademik dan Kemahasiswaan UKSW, Associate Prof. Dr. Wahyu H. Kristiyanto selaku Dekan Fakultas Sains dan Matematika, serta Dr. Helti L. Mampouw yang menjabat sebagai Dekan FKIP UKSW.
​Kepala Dinas PKO Kabupaten Belu, Aloysius M. Fahik, menyatakan bahwa keterlibatan institusi pendidikan tinggi amat penting untuk mengawal kualitas pelatihan agar tetap terukur.
Namun, ia mengingatkan para peserta bahwa transfer pengetahuan dari para ahli tidak akan berdampak maksimal tanpa adanya komitmen profesional dari diri guru itu sendiri.
​Di samping menggelar diklat baru, Dinas PKO Belu juga secara ketat melakukan evaluasi terhadap efektivitas program-program literasi dan numerasi yang pernah dijalankan sebelumnya.
Salah satu fokus evaluasi saat ini difokuskan pada ketercapaian metode Gasing (Gampang, Asik, dan Menyenangkan) yang telah diimplementasikan di Emaus.
​Aloysius menegaskan, proses evaluasi kinerja program bertujuan agar alokasi anggaran dan daya upaya yang dikeluarkan pemerintah daerah berbanding lurus dengan peningkatan performa akademik siswa.
Program yang terbukti tidak efektif akan diperbaiki, sementara pendekatan yang berhasil akan diperluas jangkauannya.
​Dalam pandangannya, penguatan kemampuan literasi dan numerasi tidak boleh berhenti pada lembar kehadiran diklat secara formalitas semata.
Guru dituntut memiliki keberanian moral untuk membawa metode-metode baru hasil pelatihan langsung ke dalam dinamika kelas tempat mereka mengajar.
​Aloysius mengingatkan bahwa tugas membangun peradaban pendidikan di Kabupaten Belu merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan konsistensi.
Pendidik diminta untuk tetap setia berada pada koridor profesinya dan fokus penuh pada pengembangan potensi anak didik.
​Melalui kemitraan strategis bersama UKSW Salatiga serta komitmen evaluasi yang berkelanjutan, Pemkab Belu optimistis mutu pendidikan dasar di wilayah perbatasan dapat meningkat secara signifikan.
Penguatan logika dasar pada jenjang awal diyakini menjadi modal utama mencetak generasi muda Belu yang kompetitif.
