WASHINGTON, GRANDISMA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menolak tuntutan dari berbagai pihak untuk meminta maaf kepada Paus Leo terkait kritik pedas yang ia lontarkan sebelumnya.
Dalam pernyataan pers di Washington pada Selasa (14/04/2026), Trump menegaskan bahwa dirinya tidak merasa melakukan kesalahan dalam mengkritik kebijakan pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut.
​Penolakan ini muncul setelah Robert Baron, seorang pendukung setia kebijakan kebebasan beragama Trump, menyarankan sang Presiden untuk meredakan ketegangan dengan Vatikan.
Namun, Trump dengan tegas menyatakan bahwa Paus Leo telah menyampaikan hal-hal yang keliru mengenai kebijakan domestik Amerika Serikat, khususnya terkait hukum dan ketertiban.
​Trump menuduh Paus Leo memiliki pandangan yang “lemah” dalam menangani isu kejahatan global dan keamanan perbatasan.
Menurutnya, pendekatan yang diambil oleh Paus saat ini tidak sejalan dengan realitas penegakan hukum yang dibutuhkan untuk melindungi warga negara dari ancaman kriminalitas yang kian kompleks.
​Selain masalah kriminalitas, Trump juga menyoroti perbedaan tajam mengenai isu nuklir Iran.
Ia menilai Paus Leo terlalu kompromistis terhadap negara yang dianggapnya sebagai ancaman eksistensial bagi dunia, sementara ia sendiri bersikukuh pada kebijakan tekanan maksimum untuk mencegah Iran memiliki senjata pemusnah massal.
​”Paus Leo tidak akan senang dengan hasil akhirnya jika Iran menjadi negara nuklir. Ratusan juta orang bisa tewas, dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi hanya karena mengikuti pandangan yang keliru,” tegas Trump di hadapan media. Ia mengklaim bahwa posisinya lebih realistis dalam menjaga perdamaian dunia.
​Perselisihan ini dianggap sebagai anomali diplomatik, mengingat Paus Leo adalah Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat.
Namun, status kewarganegaraan Paus tidak membuat Trump menahan diri untuk melakukan serangan verbal secara terbuka di depan publik internasional.
​Secara statistik, Trump mengklaim bahwa di bawah kepemimpinannya, Amerika Serikat mencatat angka pembunuhan terendah dalam 125 tahun terakhir.
Ia menggunakan data ini sebagai senjata untuk mementahkan kritik Paus Leo yang sebelumnya menyebut kebijakan AS terlalu mengedepankan kekerasan militer.
​Di sisi lain, pengamat politik menilai sikap keras Trump ini merupakan strategi untuk memperkuat dukungan dari basis pemilih konservatif yang skeptis terhadap institusi global.
Trump berupaya memosisikan diri sebagai pembela “kedaulatan nasional” di atas pengaruh moral keagamaan internasional.
​Vatikan sendiri sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan balasan resmi terhadap penolakan maaf dari Trump tersebut.
Namun, ketegangan ini diprediksi akan menyulitkan koordinasi antara AS dan Takhta Suci dalam isu-isu kemanusiaan di Timur Tengah dan Afrika di masa depan.
​Hingga Selasa malam, gelombang diskusi di media sosial mengenai perseteruan ini terus meningkat.
Publik terbelah antara mendukung ketegasan Trump demi keamanan nasional atau mengecam retorika kepresidenan yang dianggap tidak menghormati pemimpin spiritual dunia.






