Atambua, Grandisma.com – Jejak operasi Mossad yang dikenal brutal dan menakutkan telah melintasi berbagai benua, mulai dari tragedi Olimpiade Munich tahun 1972 hingga upaya menghambat program nuklir Iran pada awal abad ke-21.
Setiap tindakan mereka dirancang tidak hanya untuk mencapai tujuan militer tetapi juga memberikan pesan yang kuat kepada musuh Israel.
Pada bulan September 1972, dunia dikejutkan oleh peristiwa berdarah di Olimpiade Munich Jerman Barat.
Delapan anggota kelompok militan Palestina Black September menyusup ke perkampungan atlet, menyandera, dan akhirnya membunuh 11 atlet serta pelatih tim Israel.
Peristiwa tersebut disiarkan langsung oleh media internasional dan menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Olimpiade modern.
Bagi Israel, kejadian ini bukan hanya kehilangan nyawa tetapi juga penghinaan yang harus dibalas dengan cara yang tegas.
Alih-alih memilih jalur diplomatik atau proses hukum internasional, pemerintah Israel membentuk unit pembunuh khusus yang dikenal dengan nama Operasi Wrath of God.
Unit ini terdiri dari agen Mossad terpilih yang tidak mengenal seragam, identitas resmi, maupun batasan moral.
Target operasi tersebut adalah semua pihak yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam peristiwa Munich.
Agen Mossad menyebar ke berbagai negara untuk melacak jejak para pelaku, mulai dari Beirut di Lebanon hingga Athena di Yunani.
Beberapa pelaku tragedi Munich ditembak secara terbuka di jalan raya ketika sedang dalam perjalanan.
Korban ditemukan dengan beberapa lubang peluru di tubuhnya, tanpa ada kesempatan untuk membela diri atau melarikan diri.
Sebagian lain menjadi korban serangan dengan menggunakan bahan peledak.
Bom ditempatkan di dalam mobil atau di bawah ranjang kamar hotel yang ditempati target, sehingga menyebabkan kematian yang instan dan menyakitkan.
Setiap kali jasad korban ditemukan, selalu terdapat selembar kertas dengan tulisan dalam bahasa Ibrani yang berbunyi “jangan pernah lupakan Munich”.
Pesan ini menjadi bentuk teror psikologis bagi kelompok militan Palestina dan dunia internasional.
Selain balas dendam untuk Munich, Mossad juga menjalankan operasi penting lainnya yaitu penculikan Adolf Eichmann pada tahun 1960-an.
Eichmann adalah tokoh kunci yang mengatur logistik pembantaian jutaan Yahudi selama Holocaust.
Setelah menemukan bahwa Eichmann bersembunyi di Argentina dengan nama samaran Ricardo Klement, Mossad mengirim tim agen untuk menjalankan misi penculikan.
Pada malam hari, Eichmann diculik dari jalan raya dan dibawa ke sebuah tempat penyembunyian.
Tanpa memberitahu pemerintah Argentina atau mengikuti proses ekstradisi resmi, Eichmann diselundupkan ke Israel melalui jalur udara.
Tindakan ini menyebabkan protes dari pemerintah Argentina yang merasa kedaulatannya dilanggar.
Setelah tiba di Israel, Eichmann diadili secara terbuka di Yerusalem dan prosesnya disiarkan ke seluruh dunia.
Ia kemudian dihukum mati dan digantung sebagai simbol kemenangan atas kejahatan Holocaust dan bentuk keadilan bagi korban.
Pada awal tahun 2000-an, Mossad mengalihkan fokus operasionalnya ke Iran yang dianggap sedang mengembangkan program nuklir yang menjadi ancaman eksistensial bagi Israel.
Serangkaian tindakan dilakukan untuk memperlambat, merusak, atau menghancurkan program tersebut.
Salah satu operasi paling terkenal adalah penyebaran virus komputer Stuxnet.
Virus ini dirancang khusus untuk menyusup ke dalam sistem centrifugal di fasilitas nuklir Iran yang digunakan untuk memperkaya uranium.
Ribuan mesin centrifugal dihancurkan oleh virus Stuxnet tanpa terdeteksi dalam waktu yang lama.
Kerusakan yang ditimbulkan menyebabkan penundaan signifikan dalam perkembangan program nuklir Iran dan menunjukkan kemampuan Mossad dalam perang cyber.
Selain serangan di dunia maya, Mossad juga melakukan serangan fisik terhadap ilmuwan nuklir Iran.
Beberapa ahli bidang nuklir ditembak oleh pengendara motor yang datang secara tiba-tiba saat mereka sedang dalam perjalanan dengan mobil.
Ilmuwan nuklir lainnya menjadi korban ledakan yang terjadi saat mereka memutar kunci pintu rumah atau saat berada di dalam kendaraan pribadi.
Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab, namun pola serangan menunjukkan presisi dan perencanaan yang matang.
Pada tahun 2010, Mossad melakukan operasi pembunuhan terhadap Mahmud Almabuh, salah satu pendiri sayap militer Hamas, di kamar hotel mewah di Dubai.
Kamera CCTV menangkap aktivitas agen Mossad yang menyamar sebagai turis asing.
Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan Almabuh dibius, dilumpuhkan, dan kemudian dibunuh dengan metode yang sangat rapi tanpa meninggalkan bekas luka yang mencolok.
Identitas yang digunakan oleh para pembunuh terbukti sebagai paspor palsu dari beberapa negara Barat.
Dari operasi balas dendam untuk Munich hingga upaya menghentikan program nuklir Iran, Mossad telah menunjukkan bahwa mereka bersedia melakukan tindakan apapun untuk melindungi kepentingan Israel.
Jejak operasi mereka yang brutal tetap menjadi bagian dari narasi tentang kekuatan dan ketakutan yang menyertainya.

