Bupati Belu Lepas Festival Paskah Pemuda GMIT: Gaungkan Pesan Damai dari Perbatasan untuk Dunia

BERITA, DAERAH, RELIGI180 Dilihat

Bupati Belu Lepas Festival Paskah Pemuda GMIT: Gaungkan Pesan Damai dari Perbatasan untuk DuniaATAMBUA, GRANDISMA.COM – Bupati Belu, Willybrodus Lay, secara resmi melepas ribuan peserta Festival Paskah Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Gereja GMIT Anugerah Atambua, Sabtu (28/3).

Acara ini menandai dimulainya rangkaian perayaan iman yang membawa misi diplomasi perdamaian dari beranda selatan Nusantara.

​Dalam sambutannya, Willybrodus menegaskan bahwa pemilihan Kabupaten Belu sebagai titik awal festival memiliki makna filosofis yang mendalam.

Belu, yang dikenal sebagai “Rai Belu” atau Tanah Sahabat, diposisikan sebagai rahim bagi lahirnya semangat persahabatan antarmanusia.

​Festival Paskah Pemuda GMIT 2026 mengusung tema “Cahaya Damai dari Gerbang Selatan Nusantara (City of Love and Harmony)”.

Tema ini menjadi representasi identitas NTT sebagai wilayah yang menjunjung tinggi toleransi di tengah keberagaman suku dan agama.

​Willy Lay menyatakan bahwa Paskah bukan sekadar rutinitas liturgis tahunan bagi umat Kristiani.

Lebih dari itu, momentum ini adalah refleksi atas pengorbanan yang harus diaktualisasikan dalam bentuk nyata, yakni menjaga stabilitas dan kedamaian kawasan.

​“Perdamaian tidak datang secara tiba-tiba; ia adalah buah dari pengorbanan dan komitmen kita bersama,” ujar Bupati di hadapan jemaat dan tamu undangan.

Ia mengajak pemuda untuk menjadi garda terdepan dalam merawat kebinekaan Indonesia.

​Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, Belu memegang peran krusial dalam mencitrakan wajah Indonesia yang damai.

Festival ini diharapkan mengirimkan pesan kuat ke komunitas internasional bahwa perbatasan adalah jembatan persaudaraan.

​Prosesi pelepasan ini ditandai dengan suasana khidmat namun penuh semangat.

Ribuan pemuda dari berbagai klasis berkumpul untuk memulai arak-arakan yang nantinya akan melintasi berbagai kabupaten di daratan Timor hingga ke Pulau Rote.

​Ketua Pemuda Sinode GMIT, Erenst Blegur, menambahkan bahwa gerakan “Cahaya Damai” ini dirancang untuk melampaui batas-sekat organisasi gereja.

Tujuannya adalah menciptakan resonansi positif yang mampu meredam potensi konflik sosial di masyarakat.

​Dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Belu terlihat dari kehadiran jajaran OPD dan aparat keamanan yang memastikan acara berjalan kondusif.

Hal ini menunjukkan adanya sinergi yang sehat antara institusi agama dan pemerintah daerah.

​Acara pembukaan ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa.

Semangat yang terpancar dari Atambua hari ini diharapkan menjadi api yang terus menyala sepanjang rute festival hingga mencapai puncaknya di Kupang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *