Benyamin Netanyahu, Pemimpin Israel yang Doyan Perang

Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S.Fil

TOKOH110 Dilihat

Benyamin NetanyahuGRANDISMA.COM – “Pemimpin doyan Perang” adalah ungkapan yang sering kali diberikan kepada Benyamin Netanyahu oleh kritikusnya di seluruh dunia.

Sosoknya dikenal luas bukan karena prestasi perdamaian, melainkan karena pola kepemimpinannya yang selalu terhubung dengan konflik dan kekerasan.

Nama Netanyahu selalu muncul ketika terjadi ketegangan di Timur Tengah, terutama di wilayah Palestina.

Banyak orang melihatnya sebagai sosok yang menggunakan perang sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan mencapai tujuan politiknya.

Benyamin Netanyahu lahir dari keluarga yang membawa beban ideologi zionis garis keras yang sangat kuat.

Ayahnya, Ben Zion Netanyahu, seorang sejarawan yang percaya bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihan yang harus menguasai seluruh tanah yang mereka klaim.

Ajaran-ajaran ayahnya telah tertanam dalam pikiran Netanyahu sejak masa kecilnya. Pola asuh yang keras dan penuh disiplin diterapkan padanya selama tumbuh dewasa.

Masa muda Benyamin Netanyahu dihabiskan sebagian di Amerika Serikat, di mana ia belajar tentang panggung politik dan retorika yang efektif.

Keterampilan berbicara yang karismatik namun penuh kalkulasi dipelajarinya selama bersekolah di Sheltenham High School, Pennsylvania.

Ia memahami bahwa kekuasaan bisa diraih tidak hanya dengan kekerasan, tetapi juga dengan kata-kata yang mampu mempengaruhi massa.

Fondasi ideologinya yang keras tetap terjaga meskipun ia tinggal lama di luar Israel.

Setelah kembali ke Israel, Benyamin Netanyahu bergabung dengan unit elit Sayaret Matkal yang dikenal sebagai salah satu pasukan khusus paling mematikan di dunia.

Dalam unit ini, ia terlibat dalam berbagai operasi militer yang menuntut ketelitian dan keberanian tinggi.

Keterampilan yang dingin, analitis, dan siap bertindak tanpa ragu diasahkannya selama menjalani pelatihan dan tugas di medan.

Namun, peristiwa yang paling membentuk jiwanya adalah kematian saudaranya, Yonatan Netanyahu, dalam operasi penyelamatan di Uganda tahun 1976.

Kematian Yonatan dijadikan simbol heroisme Israel oleh pemerintah dan masyarakat.

Bagi Benyamin Netanyahu sendiri, kehilangan saudara itu menimbulkan luka mendalam sekaligus menjadi dorongan untuk memenuhi harapan keluarga.

Ia merasa harus menjadi pewaris nama besar saudaranya dan memastikan bahwa keluarga Netanyahu akan selalu dikenang dalam sejarah bangsa.

Trauma kehilangan ini kemudian menjadi dasar dari obsesinya untuk menjadi sosok penting dalam perjuangan Israel.

Beberapa analis psikologis mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kompleks inferioritas yang disamarkan dengan sikap superioritas ekstrem.

Dalam perjalanannya menuju dunia politik, Netanyahu mendapatkan bimbingan dari beberapa tokoh berpengaruh yang membentuk strategi kekuasaannya.

Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, memberikan pandangan bahwa moralitas bukanlah hal penting dalam politik luar negeri.

Ron Dermer, diplomat muda Amerika-Israel, mengajarkannya cara menembus lingkaran kekuasaan Washington dan mempengaruhi media Amerika.

Sheldon Adelson, taipan kasino yang pro-Israel, menyediakan dana tak terbatas untuk mendukung kampanye dan aktivitas politiknya.

Kombinasi dari ketiga figur ini membuat dirinya menjadi sosok yang mahir dalam manipulasi.

Sejak awal karir politiknya, Benyamin Netanyahu memperlakukan dunia internasional layaknya sebuah papan catur yang harus dikuasainya.

Setiap tokoh yang mendukungnya dianggap hanya sebagai bidak yang bisa digunakan sesuai kebutuhan.

Setiap perjanjian yang ditandatangani dilihatnya sebagai bagian dari permainan waktu untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Ia mampu membuat sekutu merasa penting pada saat tertentu, kemudian dengan mudah membuangnya ketika tidak lagi berguna.

Bahkan di dalam lingkaran dekatnya di Israel, banyak yang menyebutnya sebagai manusia dua wajah dengan sikap yang berbeda di depan publik dan di ruang rapat tertutup.

Di depan khalayak ramai, ia selalu tampil sebagai pahlawan yang siap membela bangsa Yahudi dari segala ancaman.

Namun di balik layar, ia mampu melakukan tindakan yang keras, bahkan mengancam dan menghina siapapun yang dianggap sebagai rintangan.

Seorang mantan perwira militer pernah menyatakan bahwa Netanyahu tidak takut dengan perang, melainkan takut kehilangan kendali atas situasi.

Bagi dirinya, kekuasaan bukanlah alat untuk mencapai tujuan, melainkan sesuatu yang sangat penting seperti nafas hidupnya.

Setiap langkah kepemimpinannya diwarnai oleh kesombongan yang berpura-pura rendah hati dan keangkuhan yang dibalut dengan kesedihan masa lalu.

Kemampuan Benyamin Netanyahu dalam membalikkan citra dan narasi telah menjadi ciri khas yang membuatnya bertahan lama di puncak kekuasaan.

Ia mampu tampil sebagai korban ketika sebenarnya sedang melakukan serangan terhadap pihak lain.

Ia juga bisa menunjukkan diri sebagai penyelamat ketika tindakannya justru menyebabkan kehancuran.

Ajaran ayahnya yang mengatakan bahwa bangsa Yahudi hanya akan bertahan jika dipimpin oleh orang tanpa belas kasihan tampaknya dijalankannya dengan tegas.

Banyak orang melihatnya bukan sekadar politisi biasa, melainkan arsitek dari ilusi besar tentang keamanan Israel yang harus selalu dijaga dengan keras.

Psikologi politik menggambarkan Netanyahu sebagai sosok dengan ciri-ciri kepribadian Dark Triad, yaitu kombinasi dari narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati.

Sebagai seorang narsisis, Benyamin Netanyahu sangat terobsesi dengan citra diri dan ingin dikenang sebagai penyelamat bangsa Yahudi.

Sebagai Machiavellian, ia mahir menggunakan tipu daya, propaganda, dan manipulasi emosional untuk menguasai lawan politiknya.

Sebagai psikopat, Benyamin Netanyahu  mampu mengabaikan penderitaan manusia tanpa merasa bersalah, bahkan ketika ribuan nyawa warga sipil melayang akibat keputusannya.

Sifat-sifat ini tercermin jelas dalam setiap kebijakan politik dan keputusan militer yang diambilnya.

Salah satu strategi utama yang digunakan Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan adalah dengan memainkan rasa takut di kalangan rakyat Israel.

Ia tahu bahwa ketakutan adalah alat kontrol yang paling efektif bagi sebuah negara yang hidup dalam lingkungan yang penuh konflik.

Setiap kali posisinya terancam, ia akan mulai berbicara tentang ancaman eksistensial yang dihadapi Israel, baik dari Iran, Hamas, maupun konspirasi internasional yang diduga ada.

Ia sengaja menciptakan gambaran musuh yang mengancam agar masyarakat selalu merasa membutuhkan dirinya sebagai pemimpin pelindung.

Logika yang digunakan adalah sederhana: tanpa adanya ketakutan, maka tidak akan ada kebutuhan akan sosok Netanyahu sebagai pemimpin.

Rakyat Israel diajarkan untuk percaya bahwa dunia membenci bangsa Yahudi dan ingin menghancurkan negara mereka.

Dengan cara ini, mereka akan selalu berpegang teguh pada pemimpin yang menjanjikan keselamatan dan keamanan.

Netanyahu memainkan peran sebagai pelindung itu dengan presisi seorang aktor teater.

Dalam pidato-pidatonya di PBB, ia sering tampil dengan gaya penuh drama, membawa poster, peta, bahkan gambar kartun bom untuk menggambarkan ancaman yang dihadapi.

Ia berbicara seolah dunia berada di ambang kehancuran dan hanya dirinya yang bisa menyelamatkan peradaban Barat.

Jika diperhatikan dengan cermat, di balik ekspresi tenangnya sering muncul tanda-tanda kesenangan yang samar ketika berhasil menipu publik.

Micro ekspresi seperti senyum tipis di sudut bibir ini disebut oleh para ahli sebagai tanda kenikmatan saat manipulasi berhasil.

Ekspresi ini terlihat jelas ketika ia menanggapi tuduhan kejahatan perang atau saat memberikan pernyataan yang tidak sepenuhnya benar di depan media.

Ia tahu bahwa apa yang dikatakannya bisa saja tidak benar, namun juga mengetahui bahwa dunia kesulitan untuk menentangnya.

Bagi Netanyahu, kekuasaan bukan tentang kebenaran, melainkan tentang siapa yang mampu mendefinisikan apa itu kebenaran.

Beberapa mantan pejabat Israel menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dicapainya.

Ia tidak pernah puas dengan kemenangan kecil dan selalu ingin menjadi pusat dari setiap peristiwa besar.

Ketika satu musuh dianggap telah tumbang, ia akan mencari atau menciptakan musuh baru untuk menjaga dinamika konflik tetap berjalan.

Ketika situasi mulai menunjukkan tanda-tanda perdamaian, ia akan mencari cara untuk menyalakan kembali api kekerasan.

Semua tindakan ini dilakukan demi satu tujuan utama, yaitu mempertahankan dirinya di panggung kekuasaan.

Dalam psikologi kekuasaan, perilaku ini dikenal sebagai God Complex, di mana seseorang merasa dirinya adalah satu-satunya yang tahu apa yang terbaik.

Netanyahu percaya bahwa tanpa kepemimpinannya, Israel akan mengalami kehancuran total.

Maka setiap kali ada tekanan untuk mundur dari kebijakan yang diambilnya, ia menganggapnya bukan sebagai kritik yang konstruktif, melainkan sebagai bentuk pengkhianatan terhadap bangsa.

Yang lebih berbahaya adalah ia tidak memiliki empati yang konsisten terhadap penderitaan orang lain.

Ia bisa menunjukkan kesedihan ketika melihat korban di wilayah Israel, namun tetap bisa tersenyum saat berbicara tentang ribuan orang yang terbunuh di Gaza.

Dalam benaknya, penderitaan rakyat Palestina bukanlah sebuah tragedi, melainkan konsekuensi yang tak terhindarkan dari perjuangan sebuah bangsa yang dianggap pilihan Tuhan.

Kemampuannya untuk membalikkan narasi telah mencapai tingkat yang luar biasa dalam dunia politik global.

Ketika dunia menuduh Israel melakukan tindakan agresi, ia dengan cepat mengubahnya menjadi bentuk pembelaan diri yang diperlukan.

Ketika kritik datang dari lembaga internasional seperti PBB, ia langsung menuduh lembaga tersebut memiliki sikap anti-Yahudi.

Ketika muncul tuntutan untuk bertindak secara kemanusiaan terhadap rakyat Palestina, ia menyebutnya sebagai bagian dari propaganda yang dibuat oleh Hamas.

Netanyahu mampu memelintir kata-kata dengan keahlian yang sama seperti seorang ahli menggunakan pedang.

Ia menyadari bahwa bahasa bisa menjadi alat yang lebih mematikan daripada peluru dalam mempengaruhi opini publik.

Dalam konteks politik internasional, Benyamin Netanyahu menguasai seni menggunakan moralitas lawan sebagai senjata untuk mempermalukan mereka.

Ia tahu bahwa negara-negara Barat tidak ingin dianggap sebagai pihak yang memiliki sikap antisemit.

Maka label ini dijadikannya sebagai alat pemerasan diplomatik yang sangat efektif. Siapapun yang berani menentang kebijakan Israel akan langsung dituduh memiliki sikap membenci Yahudi.

Siapapun yang mengkritik kepemimpinannya akan distigmatisasi sebagai orang ekstremis yang tidak bisa dipercaya.

Dengan cara ini, ia berhasil mengubah tragedi yang terjadi menjadi alat politik dan menjadikan rasa bersalah dunia terhadap Holocaust sebagai pelindung moral yang sulit ditembus.

Di dalam negeri, metode manipulatifnya berjalan lebih halus melalui kontrol terhadap media massa.

Sejumlah jaringan televisi besar di Israel dikontrol oleh pengusaha yang memiliki hubungan dekat dengannya.

Netanyahu sangat memahami kekuatan persepsi dalam mempengaruhi pikiran rakyat.

Ia mampu membuat rakyat percaya bahwa dirinya sedang dianiaya oleh sistem hukum, bahkan ketika jelas-jelas sedang diselidiki atas kasus korupsi yang melibatkan dirinya.

Ia juga bisa menampilkan diri sebagai korban dari kelompok elit kiri, padahal dirinya sendiri adalah bagian dari elit tertinggi dalam sistem politik Israel.

Di sinilah sifat Machiavellian-nya bekerja dengan sangat efektif dalam menjaga dukungan publik.

Netanyahu tidak pernah memperhatikan loyalitas sejati dari orang-orang di sekitarnya, hanya melihat manfaat apa yang bisa diperoleh darinya.

Orang-orang yang diangkat ke posisi penting bukan karena kepercayaan yang diberikan, melainkan karena bisa digunakan untuk mencapai tujuan tertentu.

Dan begitu mereka tidak lagi memberikan manfaat atau mulai menunjukkan popularitas sendiri, ia akan dengan mudah membuangnya tanpa rasa ragu.

Dalam sejarah politik Israel, ia telah mengalami konflik dengan hampir semua tokoh besar, mulai dari Ehud Barak, Simon Perez, Ariel Sharon hingga Naftali Bennett.

Semua pernah menjadi sekutu sebelum akhirnya berubah menjadi musuh ketika dianggap sebagai ancaman bagi posisinya.

Polanya selalu sama: ketika seseorang mulai memiliki pengaruh sendiri, ia akan memastikan bahwa orang tersebut tersingkir dari panggung kekuasaan.

Benyamin Netanyahu memelihara kekuasaan melalui ketidakstabilan yang direncanakan dengan cermat. Koalisi politik dibentuk hanya untuk kemudian dibiarkan pecah.

Partai-partai kecil diberi sedikit rasa kekuasaan agar tetap tunduk pada kepemimpinannya. Setiap krisis politik dibiarkan menggantung tanpa solusi hingga ia sendiri yang muncul sebagai penyelesai masalah.

Dalam dunia Netanyahu, tidak ada masalah yang harus benar-benar diselesaikan karena masalah adalah bahan bakar yang menjaga mesin politiknya tetap berjalan.

Secara psikologis, ini menggambarkan kecanduan terhadap kekacauan—ketika segalanya terlalu tenang, ia akan merasa gelisah dan mencari cara untuk menciptakan konflik baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *