Mengenal lebih dekat Wakil Presiden Ke-6 RI Try Sutrisno

NASIONAL, TOKOH49 Dilihat

Mengenal lebih dekat Wakil Presiden Ke-6 RI Try SutrisnoGRANDISMA.COM – Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno YANG meninggal dunia pada Senin pagi, 2 Maret 2026, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta, merupakan salah satu tokoh militer dan negara yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia.

Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935 di Gang Genteng Bandar Lor, Surabaya, Jawa Timur. Kelahirannya  berada di masa Hindia Belanda, yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945.

Ayahnya bernama Subandi, berasal dari Garut, Jawa Barat, yang bekerja sebagai sopir ambulans di Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Ibunya, Mardiyah, berasal dari Surabaya dan merupakan seorang ibu rumah tangga yang mengurus keluarga dengan penuh kasih sayang.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Belanda kembali mengklaim wilayah Indonesia sebagai koloni.

Pada masa itu, Try bersama keluarga pindah dari Surabaya ke Mojokerto dan ayahnya kemudian bekerja sebagai petugas medis di Batalyon Poncowati.

Pada usia 13 tahun, Try ingin bergabung dengan Batalyon Poncowati untuk berjuang, namun usianya yang masih muda membuatnya tidak dapat langsung terlibat dalam peperangan.

Try kemudian membantu dengan menjadi penjual rokok dan koran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Setelah masa revolusi berakhir, Try melanjutkan pendidikan dan berhasil menyelesaikan studi Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1956.

Setelah lulus SMA, beliau memutuskan untuk memasuki dunia militer dengan mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) Bandung.

Selama menempuh pendidikan di ATEKAD, Try sempat mengikuti operasi penumpasan pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra.

Pengalaman ini menjadi awal dari dedikasinya dalam menjaga keutuhan negara dan keamanan rakyat.

Ia ulus dari ATEKAD pada tahun 1959 dengan gelar Letnan Dua Zeni. Karier militernya kemudian dimulai dengan ditempatkan di berbagai wilayah, antara lain Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur, di mana beliau menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD), Try Sutrisno terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1974.

Jabatan ini menjadi tonggak penting dalam karirnya, karena memberikan kesempatan untuk belajar langsung dari pemimpin negara.

Pada tahun 1978, Try diangkat sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kodam) XVI/Udayana yang berkedudukan di Denpasar, Bali.

Hanya dalam waktu satu tahun, kemudian dipromosikan menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya dengan markas di Palembang, Sumatra Selatan.

Pada tahun 1982, Try menjabat sebagai Panglima Kodam V/Jaya yang berkedudukan di Jakarta.

Masa kepemimpinannya di Kodam ini ditandai dengan peristiwa Tanjung Priok, sebuah peristiwa bersejarah yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan negara Indonesia.

Tiga tahun kemudian, pada tahun 1985, beliau dipromosikan menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad).

Hanya setahun kemudian, ia diberi jabatan sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), menggantikan Jenderal Rudini.

Saat menjabat sebagai KSAD, Try Sutrisno menggagas pembentukan Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD.

Langkah ini menunjukkan perhatiannya yang mendalam terhadap kesejahteraan prajurit dan keluarga mereka, khususnya dalam hal perumahan.

Puncak karir militernya diraih pada tahun 1988 ketika beliau ditunjuk sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), menggantikan Jenderal L.B. Moerdani  hingga tahun 1993.

Di luar bidang militer, Try juga memiliki peran penting dalam dunia olahraga.

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada periode 1985 hingga 1993, dan memberikan kontribusi dalam pengembangan olahraga bulu tangkis di Indonesia.Mengenal lebih dekat Wakil Presiden Ke-6 RI Try Sutrisno

Pada tahun 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, mendampingi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1993 hingga 1998.

Sebelumnya, ia tergabung dalam Partai Golkar untuk menjalankan tugas-tugas politiknya.

Setelah masa jabatan sebagai Wakil Presiden berakhir pada tahun 1998, Try tetap aktif dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan dan organisasi.

Try pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) periode 1998 hingga 2003.

Ia juga terlibat dalam dunia politik melalui Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) sebagai Dewan Pembina, serta menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) periode 2022 hingga 2027.

Dalam kehidupan pribadi, Try Sutrisno menikah dengan Tuti Sutiawati pada tahun 1961.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tujuh anak, di antaranya Firman dan Kunto. Salah satu anaknya, Letnan Jenderal TNI Kunto Arif Wibowo, mengikuti jejak beliau dengan berkarier di militer dan menjabat sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Militer (Pangko gabwilhan) I.

Try dikenal sebagai sosok kepala keluarga yang sederhana dan penuh kasih sayang. Kontribusi dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara akan selalu dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan dan pembangunan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *