Batas cerita di balik kata “Teman”

Oleh: Maria Kashilda Seran

CERPEN10 Dilihat

Batas cerita di balik kata "Teman"Langkah Senja terhenti di depan gerbang sekolah yang mulai sepi.

Ia memandangi ponselnya, membaca ulang pesan dari Galang yang baru saja masuk lima menit lalu: “Ntar malem nongkrong biasa ya, Sen.

Bawa catatan fisikamu sekalian.”

Senja menghela napas pelan.

Senyumnya samar.

Bagi orang lain, ia dan Galang adalah pasangan sahabat yang tidak terpisahkan sejak SMP.

Di mana ada Galang, di situ ada Senja.

Galang selalu merangkul bahunya santai, membagikan separuh bekalnya, atau menelepon hingga larut malam hanya untuk bercerita tentang lagu favorit barunya.

Namun, di balik kenyamanan itu, ada garis tebal yang tersirat.

Sebuah batas tak kasat mata yang terlukis tegas di balik kata “teman”.

Senja menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar pertemanan.

Setiap kali mata cokelat Galang menatapnya saat tertawa, ada degup di dada Senja yang berusaha keras ia sembunyikan.

Namun, ia tahu betul posisi dirinya.

Galang sering kali bercerita tentang keluh kesahnya, hobinya, bahkan tentang perempuan dari kelas sebelah yang belakangan ini menarik perhatiannya.

“Kau itu teman terbaikku, Sen. Nggak tahu deh kalau nggak ada kamu,” kata Galang suatu hari di kantin.

Kata “teman” dari mulut Galang rasanya bagai dua sisi mata uang.

Di satu sisi, itu adalah alasan kenapa ia bisa berada begitu dekat dengan Galang tanpa perlu merasa canggung.

Di sisi lain, kata itu adalah pendorong yang terus mengingatkannya untuk tidak melangkah lebih jauh.

Senja pernah hampir melintasi batas itu.

Suatu sore, saat hujan deras menjebak mereka di teras perpustakaan, Galang tertidur di sampingnya dengan kepala bersandar di tembok.

Tangan Senja terangkat, berniat mengusap poni Galang yang menutupi mata. Namun, jemarinya berhenti di udara.

Ia menarik tangannya kembali dan mengepalkannya di atas pangkuan.

Ia sadar, melangkah melewati batas cerita ini berarti mempertaruhkan segalanya.

Jika ia jujur, belum tentu Galang menyambutnya.

Dan jika Galang menjauh, ia tidak hanya kehilangan cintanya, tetapi juga tempat bersandarnya.

Senja mengetik balasan di ponselnya: “Aman. Nanti aku bawain.”

Ia memasukkan ponsel ke dalam saku seragam, menyampirkan tas di bahu, lalu berjalan meninggalkan gerbang sekolah.

Senja memilih untuk menjaga batas itu tetap utuh, menjaga cerita mereka agar tetap bertahan sebagai salah satu kenangan paling hangat, meski harus tersimpan dalam batas kata “teman”.

 

Catatan: Maria Kashilda Seran adalah pelajar di SMA Terpadu HTM Halilulik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed