Mantan Angen CIA Sebut Serangan Iran Terhadap Israel Belum Benar-benar Dimulai

Serangan rudal dan drone Iran ke wilayah Israel beberapa waktu lalu mungkin terlihat masif bagi publik, namun tidak bagi para ahli intelijenKUPANG, GRANDISMA.COM – Serangan rudal dan drone Iran ke wilayah Israel beberapa waktu lalu mungkin terlihat masif bagi publik, namun tidak bagi para ahli intelijen.

Mantan agen CIA, Andrew Bustamante, menyebut bahwa apa yang kita lihat hanyalah permukaan dari rencana strategis Iran yang sebenarnya.

​Menurut analisisnya, Iran belum mengerahkan kekuatan utamanya dalam konfrontasi fisik tersebut.

Serangan awal dianggap sebagai cara Iran untuk menguji sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya, seperti Iron Dome dan sistem intersepsi lainnya.

​”Serangan nyata Iran sebenarnya belum dimulai,” ungkap Bustamante.

Ia merujuk pada fakta bahwa Iran masih memiliki cadangan rudal balistik dan drone kamikaze dalam jumlah ribuan yang disimpan di situs-situs bawah tanah yang sulit dideteksi.

​Dalam wawancara di The Diary Of A CEO Clips pada Kamis, 19 Maret 2026, Bustamante menjelaskan bahwa Iran sedang memainkan “permainan panjang” untuk menguras sumber daya lawan.

​Hal ini merujuk pada biaya untuk mencegat satu drone murah milik Iran jauh lebih mahal daripada biaya pembuatan drone itu sendiri.

“Dengan rasio 25:1, Israel dan sekutunya dipaksa mengeluarkan biaya besar untuk menangkis serangan yang relatif murah.” Jelasnya

​Ia juga menganggap bahwa apa yang sedang dilakukan Iran adalam bagian dari strategi pelemahan ekonomi militer.

Jika Iran terus melakukan serangan bergelombang kecil, persediaan rudal pencegat (interceptor) milik Israel dan Amerika Serikat bisa terkuras habis dalam hitungan minggu.

​Bustamante juga menyoroti peran IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) yang bertugas melindungi ideologi revolusi.

Mereka memiliki otoritas di luar tentara nasional dan memiliki rencana rahasia yang tidak terikat pada struktur pemerintahan biasa.

​Selain Bustamante, banyak pihak kini mengkhawatirkan adanya “bom kotor” atau senjata non-konvensional yang disiapkan di bunker bawah tanah.

Jika serangan sesungguhnya dimulai, dampaknya diprediksi akan jauh lebih destruktif daripada serangan pembuka yang terjadi kemarin.

​Ketidakpastian ini membuat pasar global bergejolak, terutama pada harga minyak mentah.

Investor khawatir jika Selat Hormuz ditutup sebagai bagian dari serangan nyata Iran, maka ekonomi dunia akan mengalami resesi hebat.

​Kini, intelijen Barat terus berupaya memetakan lokasi peluncur mobile milik Iran yang berpindah-pindah.

Selama lokasi utama tersebut belum dilumpuhkan, ancaman “serangan sesungguhnya” akan terus menghantui stabilitas kawasan Timur Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *