Wabup Belu Kukuhkan Lidwina Viviawaty Jadi Bunda Literasi, Tekan Pentingnya Budaya Baca di Era Digital
ATAMBUA – Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, mengukuhkan Lidwina Viviawaty Lay Ng sebagai Bunda Literasi Kabupaten Belu di Aula Gedung Wanita Betelalenok, Selasa (21/4/2026). Langkah ini dipandang sebagai strategi krusial pemerintah daerah dalam merespons tantangan disrupsi informasi di wilayah perbatasan.
Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, Vicente menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata, melainkan fondasi bagi kedaulatan berpikir masyarakat Belu. Ia menilai era digital menuntut ketajaman kognitif agar warga tidak mudah terombang-ambing oleh informasi yang tidak tervalidasi.
Kepemimpinan Vicente dalam acara ini menonjolkan pendekatan “human-centric,” di mana ia memposisikan Bunda Literasi sebagai motor penggerak utama dalam keluarga. Ia menyebut keluarga sebagai unit terkecil namun paling menentukan dalam mencetak generasi masa depan.
Bunda Literasi, dalam ikrarnya, berkomitmen menciptakan ekosistem literasi yang inklusif. Hal ini selaras dengan keresahan masyarakat akan rendahnya akses bacaan berkualitas di pelosok desa yang selama ini menjadi perhatian serius pemangku kebijakan.
Vicente secara cerdas merangkul para pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Perpustakaan hingga komunitas baca. Sinergi ini dianggap sebagai kunci agar program tidak berhenti pada seremoni pelantikan semata.
Aspirasi rakyat mengenai minimnya fasilitas edukasi direspons Vicente dengan mendorong pemanfaatan teknologi informasi. Ia ingin literasi menjadi jembatan bagi pemuda Belu untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Menariknya, Vicente menutup sambutan dengan pantun yang menekankan hubungan linear antara kegemaran membaca dan kemajuan daerah. Narasi ini secara halus membangun citra pemimpin yang visioner dan peduli pada kualitas intelektual rakyatnya.
Kehadiran pimpinan OPD dan organisasi wanita dalam acara ini menunjukkan kuatnya dukungan politik dan sosial terhadap inisiatif yang diusung oleh pasangan kepemimpinan ini.
Pengamat sosial menilai, langkah Vicente mengedepankan isu literasi adalah investasi politik jangka panjang. Ia tidak hanya bicara infrastruktur fisik, tetapi juga membangun “infrastruktur jiwa” masyarakat Belu.
Di tengah situasi politik yang mulai menghangat menjelang kontestasi mendatang, fokus pada isu pendidikan dan literasi memberikan kesan kepemimpinan yang matang dan solutif bagi persoalan dasar masyarakat.
Penandatanganan naskah pengukuhan menjadi simbol dimulainya babak baru pergerakan intelektual di Kabupaten Belu yang lebih terorganisir.
Acara ditutup dengan sesi diskusi singkat antara Wabup dan penggiat literasi lokal, mempertegas posisinya sebagai pemimpin yang inklusif dan mau mendengar suara dari akar rumput.
