KUPANG, GRANDISMA.COM – Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 di Nusa Tenggara Timur tidak sekadar riuh oleh seremoni dan pidato pejabat.
Kementerian Sosial bersama Pemerintah Provinsi NTT mengejawantahkan tema “Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh” lewat aksi nyata yang menyentuh akar rumput.
Salah satu gebrakan paling vital adalah pelaksanaan operasi katarak massal secara gratis bagi ratusan lansia di Kabupaten Kupang.
Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Supomo, mengungkapkan bahwa intervensi medis ini menyasar sekitar 560 lansia rentan yang dipusatkan di RSUD Naibonat.
Langkah konkret ini diambil demi memulihkan kembali hak penglihatan para lansia yang selama ini terisolasi akibat keterbatasan biaya pengobatan.
Kemensos memandang jaminan kesehatan mata adalah fondasi utama bagi kemandirian mereka.
”Kami tidak ingin HLUN ini berlalu begitu saja sebagai agenda tahunan yang kering esensi,” kata Supomo di sela-sela acara puncak HLUN di Alun-Alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu, 30 Mei 2026.
Supomo menjelaskan, operasi katarak ini merupakan bagian dari paket layanan terpadu yang didistribusikan secara simultan ke berbagai wilayah pelosok di NTT sepanjang pekan ini.
Selain pemulihan indra penglihatan, Kemensos juga membagikan ratusan paket bantuan aksesibilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan personal para lansia.
Alat bantu dengar, tongkat penopang, hingga kursi roda disalurkan secara langsung ke tangan yang berhak.
Pemerintah juga menerjunkan tim khusus untuk mempermudah pembaruan dokumen kependudukan seperti KTP elektronik dan Kartu Keluarga di lokasi.
Akses terhadap dokumen kependudukan baru ini dinilai sangat krusial karena menjadi “kunci pembuka” bagi para lansia untuk masuk ke dalam sistem jaminan sosial nasional.
Supomo menambahkan, bagi lansia yang hidup sebatang kara dan memiliki keterbatasan mobilitas fisik, Kemensos telah mengaktifkan layanan home care.
Petugas sosial akan datang berkunjung secara rutin guna memberikan perawatan intensif.
Di sisi lain, program pemberdayaan ekonomi berbasis kewirausahaan lokal juga mulai disuntikkan kepada kelompok lansia yang masih produktif.
Skema ini dirancang agar mereka tidak bergantung penuh pada belas kasihan orang lain dan tetap memiliki ruang aktualisasi diri.
Kemensos meyakini, kolaborasi multipihak adalah variabel penentu utama untuk mewujudkan ekosistem Indonesia ramah lansia.
Untuk memelihara nilai-nilai penghormatan terhadap orang tua di masa depan, Kemensos juga mulai menyasar generasi muda.
Melalui instrumen Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan program inovatif Peksos Goes to School, edukasi mengenai mitigasi konflik keluarga dan pengasuhan lansia mulai ditanamkan sejak dini di sekolah-sekolah.
Langkah preventif ini diharapkan mampu menekan angka penelantaran orang tua.
Langkah masif yang diinisiasi di RSUD Naibonat dan Alun-Alun Gubernur ini mengonfirmasi satu hal penting: memuliakan lansia adalah investasi peradaban.
Sinergi antara pusat dan daerah dalam HLUN ke-30 ini diharapkan memicu efek domino bagi kabupaten lain di NTT.
Masa tua yang sehat, mandiri, aktif, dan bermartabat kini bukan lagi sekadar impian muluk di atas kertas kebijakan.
