SOE, GRANDISMA.COM – Di tengah upaya memperbaiki capaian akademik siswa, Gubernur NTT Melki Laka Lena melontarkan kritik tajam terhadap fenomena sosial teranyar yang melanda keluarga-keluarga di NTT.
Saat berbicara di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Melki secara berani melabeli telepon genggam atau smartphone sebagai “narkoba digital”.
Ketergantungan akut masyarakat terhadap gawai dinilai telah mereduksi waktu krusial yang seharusnya digunakan anak-anak untuk belajar dan berinteraksi secara sehat dengan orang tua mereka.
​Gubernur mengamati adanya pergeseran sosiologis yang mengkhawatirkan di dalam rumah tangga modern, di mana kebersamaan fisik tidak lagi menjamin adanya kedekatan emosional.
Fenomena “ramai dalam kesendirian dan sendiri dalam keramaian” menjadi potret nyata bagaimana interaksi antaranggota keluarga tergerus oleh layar digital.
Waktu-waktu intim seperti makan malam bersama dan ritual doa keluarga yang dahulu menjadi ruang internalisasi nilai, kini sering kali tergantikan oleh keasyikan berselancar di media sosial.
​”Hari ini waktu terbesar banyak orang justru bersama handphone. Waktu makan bersama keluarga berkurang, waktu berdoa bersama berkurang, dan waktu berbicara bersama keluarga juga berkurang,” ungkap Melki.
Dampak dari distorsi komunikasi ini langsung memukul fokus belajar anak, yang pada akhirnya berkontribusi negatif terhadap rendahnya indeks prestasi akademik di tingkat regional maupun nasional.
​Oleh karena itu, Gerakan Jam Belajar Masyarakat yang diatur dalam Pergub Nomor 24 Tahun 2026 juga dirancang sebagai instrumen detoksifikasi digital bagi keluarga. Selama pukul 18.00 hingga 19.30 WITA, para orang tua diinstruksikan untuk tidak hanya menyuruh anak belajar, tetapi juga ikut meletakkan gawai mereka.
Ruang hampa gawai selama 90 menit ini diharapkan mampu menghidupkan kembali fungsi rumah sebagai lembaga pendidikan pertama dan paling utama bagi anak.
​Pemerintah Provinsi NTT berharap, dengan dipatuhinya jam bebas gawai ini, intensitas komunikasi verbal di dalam rumah dapat pulih.
Orang tua bisa kembali memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesah anak, memantau tugas sekolah, dan membangun ikatan spiritual yang kokoh.
Dengan membatasi konsumsi layar gawai pada jam-jam tertentu, pemerintah daerah optimis konsentrasi siswa akan kembali pulih.
Langkah ini diharapkan mampu merubah gawai dari yang semula menjadi bumerang penghancur fokus, kembali ke fungsinya sebagai alat bantu belajar yang produktif setelah jam belajar komunal usai.





