Respons Tantangan Modern, Rektor ISI Surakarta Berkomitmen Terjunkan Tim Ahli untuk Festival Fulan Fehan

Respons Tantangan Modern, Rektor ISI Surakarta Berkomitmen Terjunkan Tim Ahli untuk Festival Fulan FehanSURAKARTA, GRANDISMA.COM – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menegaskan komitmen akademiknya untuk mengawal pelestarian kebudayaan di beranda terdepan nusantara.

Merespons tantangan era modernisasi yang mengancam eksistensi tradisi lokal, Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, menyatakan kesiapan institusinya untuk memberikan pendampingan teknis dan konsultasi riset secara berkala di Kabupaten Belu.

Salah satu implementasi terdekat dari komitmen ini adalah penerjunan tim ahli guna menyukseskan gelaran akbar Festival Fulan Fehan.

​Melalui sambutan daringnya yang disiarkan langsung di ruang pertemuan Pemkab Belu, Dr. Bondet memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi pemerintah daerah dalam merawat kebudayaan daerah.

Kampus seni tertua di Jawa tersebut menilai, langkah Kabupaten Belu yang menjadikan seni sebagai pilar pembangunan SDM merupakan sebuah terobosan yang luar biasa.

Kolaborasi ini dirancang bukan sekadar di atas kertas, melainkan sebagai bentuk perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menyentuh masyarakat akar rumput.

​”Hari ini kita meneguhkan kembali komitmen kita untuk bisa berkolaborasi bersama khususnya pada peningkatan kualitas sumber daya, pengembangan, penelitian, dan juga konsultasi tradisi budaya,” terang Dr. Bondet Wrahatnala.

Di era disrupsi digital yang luar biasa saat ini, rektor menekankan bahwa kerja sama lintas sektor antara akademisi dan birokrasi daerah adalah kunci mutlak agar warisan leluhur di tapal batas tidak punah tergerus arus globalisasi.

​Keterlibatan ISI Surakarta dalam Festival Fulan Fehan yang dijadwalkan berlangsung pada 25-27 Juni mendatang diproyeksikan memberikan sentuhan koreografi dan tata panggung yang lebih kolosal namun tetap mempertahankan kesucian nilai adat.

Tim kurator dan dosen dari Surakarta akan bekerja sama dengan maestro tari lokal untuk mengompilasi potensi seni perbatasan.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan skala festival dari sekadar hiburan regional menjadi destinasi wisata budaya internasional.

​Selain urusan festival, dokumen MoU yang baru disepakati juga mencakup perluasan ruang lingkup pertukaran informasi kebudayaan dan pengembangan kinerja kelembagaan daerah.

ISI Surakarta membuka pintu bagi kerja sama penelitian antropologi seni untuk mendokumentasikan kekayaan ragam hias kain tenun dan musik tradisional Belu yang belum terekspos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *