ATAMBUA, GRANDISMA.COM – Pemerintah Kabupaten Belu terus berupaya mengikis ketimpangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste melalui jalur pendidikan tinggi dan kebudayaan.
Langkah strategis ini diwujudkan oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay, dengan resmi memperpanjang kerja sama melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Kemitraan ini menjadi bagian dari visi jangka panjang pemerintah daerah untuk mencetak sarjana dan magister seni yang akan pulang membangun daerah.
​Penandatanganan dokumen kerja sama yang sakral ini dilaksanakan secara daring pada Senin (8/6) dari ruang kerja Kantor Bupati Belu.
Prosesi tersebut disaksikan langsung oleh jajaran pejabat teras daerah, termasuk Asisten Pemerintahan dan Kesra, Plt. Inspektur Inspektorat, serta Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu.
Pemerintah daerah memandang bahwa penguatan sektor kebudayaan tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya intervensi akademik yang terstruktur dan bersertifikasi nasional.
​Dalam keterangannya usai acara, Bupati Willybrodus Lay mengungkapkan bahwa kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari program sukses periode sebelumnya.
Pada periode pertama kerja sama, Pemkab Belu tercatat telah mengirimkan sejumlah putra-putri terbaik daerah untuk menempuh studi sarjana (S1) maupun pascasarjana (S2) di kampus seni ternama di Jawa Tengah tersebut.
Pemerintah daerah meyakini, investasi pada sektor pendidikan humaniora ini akan membawa dampak masif bagi pelestarian identitas lokal.
​”Pemerintah Kabupaten Belu telah mengirimkan beberapa mahasiswa untuk belajar di ISI Surakarta, baik itu S1 maupun Pascasarjana. Saya berharap hal baik ini dapat terulang kembali,” ujar Willybrodus Lay dengan penuh optimisme.
Pengiriman mahasiswa ini diproyeksikan mampu melahirkan agen-agen perubahan yang siap mereformasi metode pengajaran seni dan budaya di sekolah-sekolah se-Kabupaten Belu agar lebih adaptif dengan perkembangan zaman.
​Lebih lanjut, bupati menekankan bahwa kembalinya para alumni ISI Surakarta ke tanah kelahiran akan menjadi motor penggerak bagi bangkitnya industri kreatif lokal.
Dengan bekal ilmu metodologi riset dan manajemen pertunjukan yang didapat di luar daerah, para seniman muda Belu diharapkan mampu mengemas kekayaan tradisi lisan, musik rakyat, dan tarian komunal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Hal ini dinilai krusial untuk membuka lapangan kerja baru bagi pemuda perbatasan.
​Langkah taktis Pemkab Belu menggandeng institusi akademik ini diakhiri dengan harapan besar agar kemajuan pembangunan daerah tidak mengorbankan akar tradisi.
Dengan adanya jaminan beasiswa dan kerja sama kedinasan, iklim pendidikan tinggi di Belu diharapkan semakin bergairah.
Sinergi ini menjadi bukti nyata bahwa wilayah perbatasan negara mampu bertransformasi menjadi pusat inkubasi seni budaya yang diperhitungkan di level nasional.
