JAKARTA, GRANDISMA.COM – Di balik ketajaman intelektual dan gaya retorikanya, nama Rocky Gerung tidak pernah lepas dari berbagai sorotan kontroversi publik.
​Salah satu kontroversi paling awal yang mencuat di ruang publik adalah pernyataannya mengenai “kitab suci adalah fiksi” pada April 2018.
​Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara diskusi televisi ketika membahas tema politik yang langsung memicu polemik luas di masyarakat.
​Akibat pernyataan tersebut, ia sempat dilaporkan ke pihak kepolisian oleh kelompok masyarakat atas dugaan ujaran kebencian dan penodaan agama.
​Kontroversi besar berikutnya terjadi pada Juli 2023 ketika ia menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan pembangunan Ibu Kota Nusantara.
​Pernyataannya dalam forum buruh tersebut dinilai oleh sejumlah pihak mengandung unsur penghinaan personal terhadap Presiden Joko Widodo saat itu.
​Selain itu, ia juga pernah melontarkan analisis kontroversial terkait wacana penundaan pemilihan umum yang dikaitkan dengan lingkaran kekuasaan terdekat.
​Ketegangan terbuka juga pernah dialaminya ketika terlibat dalam perdebatan fisik yang hampir memanas dengan tokoh relawan dalam siaran langsung televisi.
​Menambahkan daftar kontroversinya, Rocky juga kerap melontarkan kritik pedas terhadap institusi partai politik dan penegakan hukum yang dianggap melemah.
​Ia beberapa kali terlibat adu argumen tajam dengan para pembela kebijakan pemerintah dalam berbagai forum debat terbuka tanpa kompromi.
​Gaya komunikasi yang konfrontatif dan penggunaan istilah filosofis yang kerap multitafsir sering kali membelah opini publik menjadi dua kubu ekstrem.
​Kini, dengan pelantikannya sebagai anggota Wantimpres, rekam jejak kontroversial tersebut kembali menjadi bahan perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia.
