Perang Terhadap Kartel: Bagaimana Nayib Bukele Mengubah Negara Paling Mematikan Jadi Tempat yang Aman  

TOKOH7 Dilihat

Perang Terhadap Kartel: Bagaimana Nayib Bukele Mengubah Negara Paling Mematikan Jadi Tempat yang Aman   GRANDISMA.COM – Bayangkan sebuah negara di mana jalanan dikuasai oleh rasa takut, di mana suara tembakan menggantikan lagu anak-anak bermain, dan di mana bisnis terpaksa membayar uang pelindung hanya untuk bertahan hidup.

Itulah wajah El Salvador sebelum tahun 2019—negara yang dijuluki sebagai “ibu kota pembunuhan dunia” dengan angka kematian hingga 100 per 100.000 penduduk pada 2015.

Geng seperti MS-13 dan Barrio 18 bukan hanya kelompok kriminal, melainkan kekuatan yang mengendalikan wilayah, korupsi sistem, dan menghancurkan harapan jutaan orang.

Namun, dari lautan kegelapan itu muncul sosok pemimpin yang berani bertarung: Nayib Bukele.

Nayib Armando Bukele Ortez bukanlah politisi konvensional.

Lahir di San Salvador pada 24 Juli 1981, ia memulai karir sebagai pengusaha sebelum terjun ke dunia politik, pertama kali menjabat sebagai walikota Nuevo Cuscatlán dan kemudian San Salvador.

Dengan gaya yang segar dan pendekatan yang tidak takut menghadapi masalah akar, ia membawa harapan baru bagi rakyat yang sudah lelah dengan sikap pasif elite politik lama.

Ketika ia menjabat sebagai presiden pada Juni 2019, janjinya jelas: ia akan menyelamatkan El Salvador dari jerat kekerasan.

Pada bulan pertama kepemimpinannya, Bukele meluncurkan Rencana Kontrol Teritorial—strategi ambisius yang dirancang untuk merebut kembali kekuasaan negara dari tangan geng.

Langkah pertama adalah mengerahkan ribuan personel kepolisian dan militer ke wilayah yang dikuasai kriminal, sementara juga memotong jalur komunikasi antar anggota geng di dalam penjara.

Ini bukan hanya operasi penangkapan semata, melainkan perang yang dirancang untuk menghancurkan struktur organisasi yang telah mengakar selama dekade.

Namun, tantangan bukanlah hal baru bagi Bukele. Ketika ia mengumumkan perang terhadap geng, kritikan datang dari berbagai penjuru—mulai dari organisasi hak asasi manusia hingga sebagian komunitas internasional yang khawatir akan pelanggaran proses hukum.

Banyak yang menganggap langkahnya terlalu ekstrem, bahkan menyatakan bahwa ia akan mengubah negara menjadi penjara internasional.

Tapi Bukele tidak terpengaruh; ia percaya bahwa keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama, bahkan jika itu berarti menghadapi badai kritikan.

Pada Maret 2022, pemerintah mengeluarkan keadaan pengecualian yang memberlakukan pembatasan sementara terhadap hak-hak sipil untuk mempercepat penangkapan anggota geng.

Hanya dalam dua tahun, lebih dari 85.000 tersangka anggota geng ditahan.

Angka itu mungkin terdengar menakutkan, tetapi bagi rakyat El Salvador, setiap penangkapan adalah langkah lebih dekat ke kedamaian yang mereka idam-idamkan selama bertahun-tahun.

Hasilnya tak tertolak lagi. Pada 2023, angka kematian akibat kekerasan di El Salvador menjatuhkan hingga 2,4 per 100.000 penduduk—bahkan lebih rendah dari Kanada.

Negara yang dulunya dikenal sebagai tempat paling berbahaya di dunia kini masuk dalam daftar negara paling aman di Amerika Latin.

Bagi banyak orang, ini bukan hanya angka statistik, melainkan nyawa yang diselamatkan dan masa depan yang kembali bersinar.

Perubahan terasa di setiap sudut negara. Di kota-kota besar seperti San Salvador, jalan yang dulunya sepi karena rasa takut kini dipenuhi dengan pedagang kaki lima, keluarga yang berkumpul di taman, dan anak-anak yang bermain dengan bebas.

Bisnis yang dulu terpaksa tutup karena ekorban kini kembali berkembang, dan nilai properti di daerah pesisir bahkan melonjak tajam seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor.

Namun, perjuangan Bukele tidak berhenti pada keamanan saja.

Ia menyadari bahwa untuk membangun negara yang benar-benar kuat, diperlukan lebih dari sekadar penindasan terhadap kejahatan.

Ia meluncurkan program pembangunan infrastruktur yang masif,membangun sekolah modern, rumah sakit, dan jalan raya yang menghubungkan wilayah terpencil.

Tujuan utamanya adalah memberikan akses yang setara terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, karena ia percaya bahwa kemiskinan adalah akar dari sebagian besar kekerasan.

Salah satu langkah paling kontroversial namun visioner adalah pengesahan undang-undang Bitcoin pada 2021, menjadikan El Salvador sebagai negara pertama di dunia yang mengakui mata uang kripto sebagai alat pembayaran sah.

Perang Terhadap Kartel: Bagaimana Nayib Bukele Mengubah Negara Paling Mematikan Jadi Tempat yang Aman   

Meskipun banyak yang meragukan keputusannya, langkah ini bertujuan untuk meningkatkan inklusi keuangan bagi jutaan orang yang tidak memiliki akses ke layanan perbankan konvensional, serta menarik investasi asing ke negara.

Proyek seperti Bitcoin City dan Volcano Bonds menjadi bukti bahwa El Salvador siap bersaing di panggung global.

Dengan memanfaatkan energi panas bumi untuk mendukung operasi jaringan Bitcoin, pemerintah berharap dapat menciptakan pusat inovasi yang tidak hanya menguntungkan ekonomi, tetapi juga menjadikan negara sebagai pionir dalam teknologi keuangan masa depan.

Perubahan keamanan juga berdampak besar pada sektor pariwisata.

Pantai-pantai indah yang dulunya ditinggalkan karena kekerasan kini dikunjungi oleh wisatawan dari seluruh dunia.

Desa-desa budaya yang dulu terpencil mulai kembali hidup dengan kunjungan wisatawan yang mencari pengalaman autentik, membawa keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal.

Namun, tidak semua berjalan mulus. Meskipun sebagian besar rakyat mendukung kebijakan Bukele—dengan tingkat dukungan yang seringkali di atas 80%—kritikan tetap muncul.

Beberapa pihak khawatir tentang hak asasi manusia dan proses hukum yang terkadang dianggap tidak adil, terutama karena sekitar 10% tersangka yang ditahan kemungkinan besar salah tuduhan.

Uskup-uskup Katolik El Salvador bahkan menyatakan bahwa kedamaian yang abadi tidak dapat dicapai hanya melalui penindasan, melainkan juga melalui pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.

Bukele sendiri mengakui bahwa ada ruang untuk perbaikan.

Ia berjanji bahwa setiap kasus salah tuduhan akan ditinjau secara objektif dan orang yang tidak bersalah akan dibebaskan.

Ia juga menegaskan bahwa langkah-langkahnya adalah respons yang diperlukan terhadap krisis yang sudah berkepanjangan, dan bahwa negara harus siap mengambil risiko untuk mengubah nasibnya.

Setelah sukses menaklukkan geng, Bukele kini mengalihkan fokusnya ke “kartel oligopoli dan mafia bisnis” yang dianggap telah mengeksploitasi rakyat dengan harga barang yang tinggi dan praktik korupsi.

Pada Juli 2024, ia mengumumkan perang baru—kali ini melawan kelompok-kelompok yang dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan biaya hidup masyarakat.

“Ketika kita memulai perang terhadap geng, kita menerima banyak serangan dan kecaman dari komunitas internasional,” ujar Bukele dalam pidatonya.

“Kita tidak mendengarkan mereka, dan kita mengubah negara paling tidak aman menjadi yang paling aman di belahan dunia Barat. Sekarang, untuk menyembuhkan ekonomi dan keluar dari kemiskinan, kita akan menggunakan resep yang sama—respek terhadap realitas kita sendiri.”

Kepemimpinan Bukele juga mengubah narasi El Salvador di mata dunia.

Dari negara yang selalu dikaitkan dengan kekerasan dan migrasi paksa, kini menjadi contoh bagi negara-negara lain yang sedang berjuang melawan kejahatan terorganisir dan ketidakstabilan.

Banyak pemimpin di Amerika Latin bahkan mulai mempertimbangkan untuk mengadopsi model keamanan yang sama.

Bagi rakyat El Salvador, perubahan yang terjadi bukan hanya tentang angka atau kebijakan pemerintah.

Ini tentang harapan yang kembali hidup—anak-anak yang bisa bersekolah tanpa takut, keluarga yang bisa berkumpul di restoran tanpa waspada, dan pemuda yang kini melihat masa depan cerah di negara mereka sendiri.

Banyak yang kini merasa bangga menjadi warga El Salvador, sebuah perasaan yang hampir hilang selama dekade.

Namun, tantangan masa depan masih besar. El Salvador harus terus berjuang untuk memastikan bahwa keamanan yang dicapai bukanlah sementara, melainkan menjadi dasar bagi pembangunan jangka panjang.

Pemerintah juga harus menangani masalah kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan yang masih menjadi tantangan utama bagi banyak orang.

Nayib Bukele bukanlah pemimpin yang sempurna, dan kebijakannya tetap menjadi bahan perdebatan.

Namun, tidak dapat disangkal bahwa ia telah membawa perubahan revolusioner bagi El Salvador.

Ia menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi yang paling gelap, perubahan mungkin terjadi jika ada keberanian untuk bertindak dan tekad untuk memperjuangkan kebaikan rakyat.

Cerita El Salvador adalah bukti bahwa tidak ada hal yang mustahil jika ada tekad yang kuat dan visi yang jelas.

Dari negara paling mematikan di dunia menjadi tempat yang aman dan penuh harapan, perjalanan ini menginspirasi kita semua untuk tidak menyerah pada tantangan, bahkan ketika dunia mengatakan itu tidak mungkin.

Dan bagi Nayib Bukele, perjuangan belum selesai—karena untuknya, membangun negara yang adil dan makmur adalah misi seumur hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *