Teheran, Grandisma.com – Pemerintah Iran mengklaim situasi telah kembali tenang di seluruh negeri setelah gelombang protes yang melanda negara tersebut sejak 28 Desember 2025 berakhir dengan korban jiwa ribuan orang dan ribuan lagi ditangkap.
Kondisi yang kini disebut tenang ternyata menyertai laporan tentang mayat berhamburan dan kesusahan ekonomi yang melanda warga.
Stasiun televisi milik negara, Press TV, mengutip pernyataan kepala kepolisian Iran yang menyatakan bahwa ketertiban telah pulih di seluruh wilayah negara.
Pengakuan ini muncul setelah berhari-hari terjadinya kekacauan akibat protes yang dilatarbelakangi inflasi melonjak dan ekonomi yang lumpuh.
Kelompok Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS, HRANA, melaporkan jumlah korban tewas sedikit meningkat pekan ini, saat ini mencapai 2.677 orang, termasuk 2.478 demonstran dan 163 orang yang diidentifikasi berafiliasi dengan pemerintah.
Reuters belum dapat memverifikasi secara independen jumlah korban tewas tersebut.
Sebuah pejabat Iran mengatakan kepada Reuters awal pekan ini bahwa sekitar 2.000 orang telah tewas dalam peristiwa tersebut.
Jumlah korban jiwa ini jauh lebih besar daripada korban tewas dari kerusuhan sebelumnya yang pernah diredam oleh negara.
HRANA juga melaporkan bahwa lebih dari 19.000 orang telah ditangkap selama dan pasca protes.
Namun, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan negara menyampaikan angka yang lebih rendah, yaitu sekitar 3.000 orang telah ditahan.
Otoritas Iran menuduh musuh asing telah menghasut terjadinya protes dan mempersenjatai orang-orang yang mereka identifikasi sebagai teroris untuk menargetkan pasukan keamanan serta melakukan serangan.
Tuduhan ini disampaikan dalam upaya pemerintah menjelaskan munculnya aksi protes skala besar.
Kelompok hak asasi manusia Iran-Kurdi Hengaw mengatakan tidak ada demonstrasi besar-besaran sejak akhir pekan lalu, tetapi lingkungan keamanan tetap sangat ketat di berbagai daerah.
“Sumber independen kami mengkonfirmasi kehadiran militer dan keamanan yang besar di kota-kota tempat protes sebelumnya terjadi, serta di beberapa lokasi yang tidak mengalami demonstrasi besar,” ujar Hengaw yang berbasis di Norwegia dalam komentarnya kepada Reuters.
Beberapa warga ibu kota Teheran mengatakan kota tersebut sudah mulai menunjukkan suasana tenang.
Namun, mereka mengaku bahwa drone tetap siaga terbang di atas kota, meskipun tidak ada lagi tanda-tanda protes yang terjadi.
Seorang warga di sebuah kota di utara Laut Kaspia juga menyampaikan bahwa jalanan di daerahnya tampak tenang. Warga tersebut menolak untuk disebutkan namanya demi menjaga keselamatan diri dan keluarganya.
Namun, terdapat indikasi bahwa kerusuhan masih terjadi di beberapa daerah secara sporadis. Hengaw melaporkan bahwa seorang perawat wanita tewas akibat tembakan langsung dari pasukan pemerintah selama protes yang terjadi di Karaj, sebelah barat Teheran. Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Kantor berita Tasnim juga melaporkan bahwa para demonstran membakar kantor pendidikan setempat di Kabupaten Falavarjan, provinsi Isfahan tengah, pada pekan lalu.
Informasi ini menjadi salah satu bukti bahwa meskipun secara umum dinyatakan tenang, masih ada titik-titik kekerasan yang terjadi.
Seorang warga lanjut usia di sebuah kota di wilayah barat laut Iran, tempat banyak warga Kurdi tinggal dan menjadi fokus dari banyak kerusuhan terbesar, mengatakan bahwa protes sporadis terus berlanjut, meskipun tidak seintens periode awal.
“Saya belum pernah melihat pemandangan seperti itu sebelumnya,” katanya, merujuk pada aksi kerusuhan beberapa saat lalu.
Video yang beredar secara online, yang dapat diverifikasi oleh Reuters sebagai rekaman di pusat medis forensik di Teheran, menunjukkan puluhan mayat tergeletak di lantai dan tandu.
Sebagian besar mayat berada di dalam kantong, tetapi beberapa lainnya tidak tertutup. Reuters tidak dapat memverifikasi kapan tepatnya video tersebut diambil.
Saat pemadaman internet yang terjadi selama masa protes mulai mereda pekan ini, mulai bermunculan laporan-laporan tentang kekerasan yang terjadi di berbagai daerah Iran.
Seorang wanita di Teheran mengatakan kepada Reuters melalui telepon bahwa putrinya yang berusia 15 tahun tewas setelah bergabung dengan demonstrasi di dekat rumah mereka.
“Dia bukan teroris, bukan perusuh. Pasukan Basij mengikutinya saat dia mencoba pulang,” ujar wanita tersebut
Kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan dan korban jiwa yang banyak membuat suasana “tenang” yang diklaim pemerintah terasa berat bagi sebagian besar warga Iran.
