Mossad vs Intelijen Dunia: Mengapa Mereka Jadi yang Paling Ekstrem?  

PERTAHANAN7 Dilihat

Mossad vs Intelijen Dunia: Mengapa Mereka Jadi yang Paling Ekstrem?    Atambua, Grandisma.com – Dalam persaingan dengan badan intelijen dunia lainnya seperti CIA Amerika, MI6 Inggris, FSB Rusia, atau MSS China, Mossad dikenal sebagai yang paling ekstrem dalam menjalankan operasi.

Perbedaannya terletak pada dasar filosofi, struktur kekuasaan, dan batasan yang mereka akui dalam bekerja.

Badan intelijen besar dunia seperti CIA dan MI6 lahir dari kekuatan negara adidaya yang memiliki pengaruh global luas.

Kerja mereka diatur oleh hukum domestik dan perjanjian internasional, serta harus mempertimbangkan dampak diplomatik dari setiap tindakan yang dilakukan.

Sebaliknya, Mossad lahir dari kebutuhan bertahan hidup bangsa Israel yang pernah mengalami pembantaian selama Holocaust.

Tidak seperti intelijen lain yang bekerja untuk memperluas pengaruh negara, Mossad fokus pada satu tujuan utama: menjaga kelangsungan eksistensi Israel.

Struktur kekuasaan Mossad yang berada langsung di bawah Perdana Menteri membuat mereka bebas dari intervensi lembaga lain seperti militer atau parlemen.

Banyak keputusan operasional dibuat tanpa harus melalui proses yang panjang atau mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak.

Sementara intelijen dunia lainnya biasanya tunduk pada pengawasan hukum dan mekanisme akuntabilitas, Mossad tidak dikenai pembatasan serupa.

Mereka tidak merasa terikat oleh hukum internasional atau standar hak asasi manusia yang berlaku secara luas.

Dalam hal lokasi operasi, intelijen dunia umumnya menghindari melakukan tindakan yang jelas melanggar kedaulatan negara sekutu.

Namun Mossad tidak segan untuk beroperasi di wilayah negara mana pun, termasuk negara sekutu seperti Amerika Serikat, Inggris, atau Kanada.

Metode operasional Mossad juga jauh lebih ekstrem.

CIA misalnya cenderung fokus pada pengumpulan intelijen dan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan Mossad sering menggunakan pembunuhan diam-diam, sabotase, dan manipulasi psikologis sebagai cara utama.

Penggunaan paspor palsu menjadi salah satu contoh perbedaan yang mencolok.

Sementara intelijen lain mungkin menggunakan identitas samaran dalam batas tertentu, Mossad secara teratur menggunakan paspor palsu dari negara ketiga yang menyebabkan krisis diplomatik berkali-kali.

Jaringan dukungan yang dimiliki Mossad juga berbeda dari intelijen dunia lainnya.

Melalui Sayanim, mereka memiliki akses ke sumber daya dan informasi di berbagai negara tanpa harus mengeluarkan biaya besar atau melakukan penetrasi yang sulit.

Dalam hal operasi balas dendam, intelijen dunia umumnya lebih memilih jalur hukum atau diplomatik.

Namun Mossad membentuk unit khusus seperti Operasi Wrath of God untuk membunuh semua pihak yang dianggap bertanggung jawab atas tragedi Munich.

Ketika menghadapi ancaman nuklir, intelijen dunia lainnya biasanya bekerja melalui diplomasi atau sanksi internasional.

Mossad namun memilih untuk melakukan sabotase cyber seperti Stuxnet dan membunuh ilmuwan nuklir target secara langsung.

Mossad juga lebih ekstrem dalam hal penyusupan ke dalam institusi musuh.

Mereka tidak hanya mengirim agen dari luar, tetapi juga merekrut orang dalam menggunakan berbagai cara termasuk uang, ancaman, dan jebakan seksual.

Sementara intelijen dunia lainnya biasanya menghindari terlibat dalam teori konspirasi atau manipulasi opini publik secara terbuka, Mossad dipercaya aktif dalam menyebarkan disinformasi dan memengaruhi narasi media terkait isu-isu yang berkaitan dengan Israel.

Dalam hal tanggapan terhadap kegagalan operasi, intelijen dunia lainnya mungkin mengakui kesalahan dan mengambil langkah korektif.

Mossad sebaliknya cenderung tidak mengomentari operasi apapun dan terus melindungi agen mereka dengan segala cara.

Pada tahun 1997, ketika dua agen Mossad tertangkap di Yordania saat mencoba meracuni pemimpin Hamas, pemerintah Israel langsung mengambil tindakan untuk menyelamatkan mereka, termasuk menyerahkan penawar racun dan membebaskan tahanan Palestina.

Dari segi teknologi dan dana, intelijen dunia lainnya seperti CIA dan FSB memiliki kapasitas yang setara atau bahkan lebih besar.

Namun dalam hal keberanian melanggar batas dan mengambil risiko tinggi, Mossad tetap berada di tingkat yang berbeda.

Mossad juga lebih ekstrem dalam hal pengendalian persepsi.

Mereka berhasil membangun citra sebagai kekuatan yang tak terkalahkan dan menjadikan kritik terhadap mereka seringkali dianggap sebagai sikap antisemit.

Sementara intelijen dunia lainnya bekerja dalam kerangka aturan yang telah ditetapkan, Mossad beroperasi dalam zona abu-abu yang luas.

Mereka tidak hanya bermain dalam batas-batas aturan, tetapi seringkali melampauinya dengan sengaja.

Perbedaan utama juga terletak pada narasi yang dibangun.

Intelijen dunia lainnya biasanya ingin dilihat sebagai pelindung perdamaian dan stabilitas global, sedangkan Mossad ingin dilihat sebagai kekuatan yang siap melakukan apa saja untuk melindungi negaranya.

Meskipun intelijen dunia lainnya memiliki kemampuan yang hebat, Mossad tetap menjadi yang paling ekstrem karena mereka bekerja tanpa batasan yang sama dan memiliki motivasi bertahan hidup yang sangat kuat.

Hal ini membuat mereka menjadi kekuatan yang unik dan ditakuti di dunia intelijen global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *