Mossad: Rahasia di Balik Bayangan Negara Israel yang Tak Terkalahkan?

Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S.Fil

PERTAHANAN51 Dilihat

Mossad: Rahasia di Balik Bayangan Negara Israel yang Tak Terkalahkan?GRANDISMA.COMMossad, lembaga intelijen dan tugas khusus negara Israel, sering digambarkan sebagai kekuatan yang tak terkalahkan yang beroperasi di balik bayangan.

Reputasinya sebagai institusi yang bekerja tanpa batasan wilayah, hukum, maupun moral konvensional telah menjadi fokus perhatian dunia, dengan banyak pertanyaan yang muncul terkait rahasia di balik eksistensi dan kerjaannya.

Dibentuk secara resmi pada tahun 1949 dengan nama lengkap Hamosat Lemodiin Ule Tafkidin Meyuhaim, Mossad lahir dari kebutuhan bertahan hidup bangsa Israel yang pernah mengalami pembantaian 6 juta orang Yahudi pada Holocaust.

Latar belakang sejarah tersebut menjadi dasar filosofi kerja mereka yang tidak ingin bergantung pada belas kasihan siapapun.

Berbeda dengan badan intelijen besar seperti CIA Amerika atau MI6 Inggris yang lahir dari kekuatan adidaya, Mossad didirikan dari kenyataan sebuah bangsa yang percaya dirinya dimusuhi oleh dunia.

Hal ini membuat mereka bekerja dengan prinsip bahwa jika tidak bertindak lebih dulu, mereka akan menjadi korban.

Struktur kekuasaan Mossad ditempatkan langsung di bawah Perdana Menteri Israel.

Tidak ada intervensi dari militer, tidak tunduk pada parlemen, dan kebijakan mereka sering kali tidak diketahui oleh kabinet sendiri.

Agen Mossad direkrut secara rahasia dan dilatih di lokasi tersembunyi yang tidak tercatat di peta.

Identitas mereka dihapuskan, nama asli diganti, dan masa lalu dikubur hingga mereka berubah menjadi senjata yang berjalan untuk negara.

Latihan yang diberikan kepada calon agen tidak seperti latihan militer biasa.

Mereka diajarkan cara membaca ekspresi wajah dalam waktu 3 detik, memasuki rumah tanpa meninggalkan jejak, dan membunuh target dengan cepat tanpa suara.

Selain kemampuan taktis, para agen juga harus menguasai puluhan bahasa asing dan mampu menyamar sebagai berbagai profesi seperti jurnalis, dokter, atau pelajar sesuai dengan kebutuhan misi.

Kekuatan Mossad juga terlihat dari jaringan luas mereka yang disebut Sayanim.

Mereka adalah sukarelawan Yahudi yang tinggal di berbagai negara dan bersedia membantu operasi tanpa menerima bayaran, hanya dengan tujuan melindungi tanah air orang Yahudi.

Metode kerja Mossad meliputi operasi pembunuhan diam-diam dengan cara yang beragam, mulai dari penyuntikan racun melalui gagang pintu hingga penggantian pasta gigi dengan bahan kimia neurotoksin.

Setiap tindakan dirancang tidak hanya untuk menghilangkan target tetapi juga menanamkan rasa takut.

Selain tindakan fisik, Mossad juga menggunakan metode psikologis untuk mengganggu target.

Desas-desus disebarkan, rumah diacak-acak tanpa mengambil barang apapun, dan simbol-simbol aneh ditinggalkan hingga korban menjadi paranoid dan bahkan bunuh diri.

Pada tahun 1972, setelah tragedi Olimpiade Munich yang menewaskan 11 atlet Israel oleh kelompok Black September, Mossad membentuk unit pembunuh khusus bernama Operasi Wrath of God.

Target mereka adalah siapapun yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Para pelaku tragedi Munich diburu ke berbagai negara seperti Beirut, Roma, Paris, dan Athena.

Beberapa ditembak di jalan raya, lainnya tewas karena bom yang dipasang di mobil atau bawah ranjang hotel, dengan catatan Ibrani yang menyatakan “jangan pernah lupakan Munich”.

Salah satu operasi legendaris Mossad adalah penculikan Adolf Eichmann, otak logistik Holocaust yang bersembunyi di Argentina dengan identitas palsu.

Pada tahun 1960-an, Eichmann diculik secara diam-diam dan dibawa ke Israel untuk diadili dan digantung.

Pada awal 2000-an, Mossad mulai fokus pada upaya untuk menghambat program nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman eksistensial.

Salah satu operasi yang dikenal adalah Stuxnet, virus komputer yang dirancang untuk menghancurkan sistem centrifugal yang digunakan untuk memperkaya uranium.

Selain sabotase cyber, Mossad juga diduga membunuh sejumlah ilmuwan nuklir Iran dengan cara yang presisi dan dramatis.

Beberapa ditembak oleh pengendara motor saat dalam perjalanan, yang lain meledak saat memutar kunci pintu rumah.

Skandal besar pernah menghinggapi Mossad pada tahun 2010 ketika agen mereka menggunakan paspor palsu dari negara-negara Barat seperti Australia, Inggris, dan Kanada untuk membunuh seorang pemimpin Hamas di Dubai.

Penemuan ini menyebabkan krisis diplomatik dengan negara-negara terkait.

Ada dugaan bahwa Mossad melakukan operasi palsu (false flag) dengan menyamar sebagai pihak lain untuk menciptakan konflik atau merusak reputasi musuh.

Strategi utama mereka disebut sebagai chaos control, yaitu menciptakan kekacauan namun tetap mengendalikan arah perkembangannya.

Mossad juga diduga memiliki pengaruh yang luas dalam sistem politik, ekonomi, dan media massa dunia.

Beberapa analis menyatakan bahwa mereka terlibat dalam penyebaran disinformasi, pendanaan kampanye tersembunyi, dan manipulasi opini publik terkait isu-isu Timur Tengah.

Hubungan Mossad dengan perusahaan teknologi seperti NSO Group yang membuat spyware Pegasus juga menjadi sorotan.

Spyware tersebut pernah dikaitkan dengan penyadapan terhadap pejabat, aktivis, dan bahkan kepala negara dari berbagai negara.

Meskipun sering dianggap tak terkalahkan, Mossad pernah mengalami kegagalan seperti pada tahun 1997 ketika dua agen mereka tertangkap oleh otoritas Yordania saat mencoba meracuni pemimpin Hamas.

Namun, reputasi mereka sebagai kekuatan yang kuat dan tak terduga tetap bertahan hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *