KUPANG, GRANDISMA.COM – Krisis energi global mencapai titik kritis setelah Selat Hormuz dilaporkan lumpuh total akibat peperangan antara Amerika Serikat dan Iran
Berdasarkan data yang dilansir BBC News pada Selasa, 24 Maret 2026, blokade ini telah memutus sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Penutupan jalur pelayaran sempit ini telah memicu lonjakan harga energi di pasar internasional.
Kapal-kapal tangker dari berbagai negara kini tertahan di Teluk, enggan melintas karena ancaman serangan rudal dan drone bawah laut milik Iran yang masih aktif.
Donald Trump sebelumnya sempat mengancam akan menghancurkan jaringan listrik nasional Iran jika jalur tersebut tidak segera dibuka.
Namun, hingga Rabu pagi waktu Indonesia, ancaman tersebut tampaknya ditunda setelah adanya klaim sepihak mengenai negosiasi energi.
Krisis ini disebut sebagai bencana absolut bagi kawasan Timur Tengah. Bukan hanya soal pasokan energi, blokade ini juga telah melumpuhkan aktivitas ekonomi di negara-negara sekitar seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab yang menjadi sekutu dekat AS.
Laporan dari koresponden BBC menyebutkan bahwa militer AS kini berada di persimpangan jalan.
Satu-satunya cara untuk menjamin Selat Hormuz terbuka secara permanen adalah dengan menempatkan pasukan darat untuk menguasai wilayah pesisir Iran.
Blokade Selat Hormuz ini dianggap sebagai senjata paling ampuh milik Iran untuk menyeret AS ke dalam perang atrisi yang melelahkan.
Iran memanfaatkan sisa-sisa kekuatan misil mereka untuk memastikan tidak ada satu pun kapal yang keluar dari Teluk dengan aman.
Negara-negara konsumen minyak besar seperti Tiongkok dan India mulai memberikan tekanan diplomatik agar konflik segera dihentikan.
Namun, posisi Israel yang terus menggempur sekutu Iran di Lebanon selatan, Hizbullah, membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
Hingga saat ini, Selat Hormuz masih berada di bawah kendali taktis Iran melalui ancaman militer asimetris.
Tanpa adanya jaminan keamanan internasional, pasar energi global diprediksi akan terus mengalami ketidakpastian dalam beberapa pekan ke depan.
Langkah AS mengirim unit ekspedisi marinir ke perairan tersebut dipandang sebagai upaya terakhir untuk membuka paksa jalur logistik.
Pertempuran laut di sekitar selat tersebut dikhawatirkan akan memicu ledakan tangker minyak yang bisa berdampak pada bencana lingkungan.
